Di balik hamparan lautan pasir yang membentang luas dan megahnya Gunung Bromo yang selama ini menjadi ikon pariwisata Jawa Timur, tersimpan sebuah ritual sakral yang telah diwariskan lintas generasi. Ritual tersebut adalah Yadnya Kasada, tradisi tahunan masyarakat Suku Tengger yang menjadi wujud rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi sekaligus penghormatan kepada leluhur atas kehidupan dan hasil bumi yang mereka peroleh. Demi menjaga kekhidmatan prosesi ini, kawasan wisata Gunung Bromo ditutup sementara mulai 30 Mei pukul 09.00 WIB hingga 2 Juni 2026 pukul 10.00 WIB, sehingga masyarakat adat dapat menjalankan seluruh rangkaian upacara tanpa gangguan aktivitas wisata. Penutupan ini menjadi bukti bahwa di balik keindahan alam Bromo yang memikat jutaan wisatawan, terdapat nilai-nilai budaya dan spiritual yang masih dijaga dengan penuh penghormatan oleh masyarakat Tengger.
Kasada tidak hanya dikenal sebagai tradisi melempar hasil bumi ke kawah Gunung Bromo. Ritual ini lahir dari legenda Roro Anteng dan Jaka Seger yang dipercaya sebagai leluhur masyarakat Tengger. Kisah tersebut menjadi dasar lahirnya tradisi mempersembahkan hasil panen sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur. Hingga kini, tradisi tersebut masih dipertahankan sebagai bentuk ketaatan masyarakat dalam menjaga amanat yang diwariskan secara turun-temurun.
Di balik kemeriahan upacara, terdapat proses adat yang tidak banyak diketahui masyarakat luas, yaitu pengangkatan dukun adat atau pandita melalui prosesi Mulunen. Seorang dukun harus memenuhi berbagai persyaratan adat, menguasai doa dan mantra suci, serta menjalani ujian di hadapan para tetua adat sebelum dipercaya memimpin ritual. Setelah dinyatakan layak, ia akan mengemban tanggung jawab memimpin seluruh upacara adat masyarakat Tengger selama satu tahun penuh hingga pelaksanaan Kasada berikutnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan adat di Tengger dibangun atas dasar pengetahuan, tanggung jawab, dan pengabdian kepada budaya.
Prosesi Kasada juga sarat akan simbol kehidupan. Masyarakat membawa berbagai hasil pertanian seperti kentang, kubis, jagung, pisang, dan hasil bumi lainnya yang disusun dalam ongkek sebagai bentuk persembahan. Bagi masyarakat Tengger, sesaji tersebut bukanlah bentuk pemborosan, melainkan simbol rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan Tuhan. Melalui tradisi ini, masyarakat diajarkan untuk hidup selaras dengan alam, menjaga keseimbangan lingkungan, serta tidak melupakan sumber kehidupan yang telah menghidupi mereka sejak dahulu.
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Yadnya Kasada mengandung berbagai nilai luhur yang masih relevan hingga saat ini. Nilai gotong royong terlihat dari keterlibatan seluruh masyarakat dalam mempersiapkan upacara, sementara nilai penghormatan kepada leluhur tercermin dari konsistensi mereka menjaga tradisi di tengah arus modernisasi. Kasada juga mengajarkan pentingnya toleransi, kebersamaan, dan kepedulian terhadap alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Nilai-nilai inilah yang menjadikan Kasada bukan hanya warisan budaya masyarakat Tengger, tetapi juga kekayaan budaya Indonesia.
Oleh karena itu, penutupan kawasan Bromo selama pelaksanaan Kasada tidak seharusnya dipandang sebagai hambatan bagi aktivitas wisata. Di balik gerbang yang ditutup sementara, ada doa-doa yang sedang dipanjatkan, ada pemimpin adat yang menjalankan amanah leluhur, dan ada masyarakat yang berusaha mempertahankan identitas budayanya. Kasada mengingatkan bahwa di tengah pesatnya perkembangan zaman, masih ada tradisi yang terus hidup karena dijaga dengan penuh keyakinan. Inilah alasan mengapa kekhidmatan di balik penutupan Bromo layak dihormati sebagai bagian dari warisan budaya bangsa yang tidak ternilai harganya.
Oleh : Aliyah Arindhita Al Arief (Universitas Brawijaya)




