Piramida Giza: Dibangun oleh Budak atau Pekerja Bergaji? Temuan Permukiman Pekerja Mengubah Pandangan Sejarah dan Menantang Catatan Herodotus

Angelica Nehayasi Julian Putri
(Universitas Negeri Malang)

Seribu enam ratus talenta perak, katanya habis hanya untuk lobak, bawang merah, dan bawang putih yang dimakan para pekerja Piramida Agung. Angka itu berasal dari Herodotus, yang sekitar 450 SM mengunjungi Giza dan mendengar pemandunya membacakan sebuah tulisan di piramida (Herodotus, Historia II.124–125). Dari cerita semacam itu ia membentuk citra Khufu sebagai tiran yang menutup kuil dan menyuruh 100.000 orang menyeret batu, bergiliran tiap tiga bulan. Citra tersebut hidup lebih dari dua ribu tahun karena film dan tradisi populer terus mengulangnya: budak, cambuk, terik matahari. Penggalian di Giza sejak akhir 1980-an mengungkap permukiman dan pemakaman yang berkaitan dengan pembangunan kompleks piramida. Bukti tertulis yang melengkapinya ditemukan di Wadi al-Jarf pada 2013, berupa arsip kegiatan tim pekerja pada akhir pemerintahan Khufu. Esai ini berargumen bahwa negara Mesir mengerahkan pekerja wajib, memberi mereka makan, dan memakamkan sebagian dari mereka di dekat piramida raja. Bukti yang dibahas menunjukkan adanya tenaga kerja terorganisasi yang memperoleh pasokan kebutuhan hidup. Namun, bukti tersebut belum cukup untuk menyamakan status seluruh pekerja, baik sebagai budak maupun sebagai pekerja bergaji dalam pengertian modern. Herodotus menggambarkan pengerahan tenaga dalam jumlah besar, tetapi angka pekerja dan penilaiannya terhadap Khufu perlu diuji secara terpisah melalui bukti yang lebih dekat dengan masa pembangunan.
Tetapi Herodotus bukan saksi mata pembangunan Piramida Agung. Dalam bagian ini, ia menyampaikan kisah mengenai Khufu yang diperolehnya dari penuturan orang lain. Jarak waktu yang panjang antara pemerintahan Khufu dan penulisan Herodotus mengharuskan pembaca membedakan pengamatan penulis, penuturan informan, dan penilaian moral yang muncul dalam narasinya. Karena itu penulis membaca Herodotus sebagai bukti tentang ingatan Mesir era Persia dan prasangka Yunani. Pengujiannya harus datang dari sumber yang lebih dekat dengan Khufu. Menurut Wijaya (2011), piramida Mesir terhubung dengan kepercayaan akan kehidupan setelah kematian dan berfungsi sebagai makam Firaun. Pembangunannya memerlukan banyak bahan, keterampilan, dan koordinasi, menunjukkan sistem kerja yang terorganisasi.
Sumber itu ada di Heit el-Ghurab, permukiman di selatan Sphinx yang digali tim Mark Lehner sejak akhir 1980-an. Sebagian besar tinggalan permukiman yang diketahui berasal dari masa Khafre dan Menkaure, sedangkan lapisan yang lebih tua mungkin berkaitan dengan masa Khufu. Temuan ini dapat digunakan sebagai pembanding, dengan tetap memperhatikan kemungkinan perubahan organisasi kerja. Tim itu menemukan tempat panggang roti, pembuatan bir, gudang, serta sisa ikan dan tulang sapi, domba, dan kambing (Lehner & Hawass, 2017). Sapi tidak datang sendiri ke dataran gurun; negara harus memeliharanya di tanah-tanah pertanian lalu menggiringnya ke Giza. Temuan fasilitas produksi makanan, penyimpanan bahan pangan, dan sisa konsumsi menunjukkan besarnya dukungan logistik bagi tenaga kerja. Namun, temuan tersebut belum menjelaskan sejauh mana para pekerja bebas menerima atau menolak pekerjaan. Lehner juga memperkirakan tenaga kerja Giza hanya puluhan ribu orang, bukan ratusan ribu. Temuan makam pekerja menantang pandangan bahwa semua pembangun piramida adalah budak. Keterangan Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir menyebut adanya tulang pekerja yang mengalami patah dan kemudian pulih dengan baik, yang ditafsirkan sebagai indikasi perawatan medis. Bukti tersebut menunjukkan bahwa setidaknya sebagian individu yang dimakamkan memperoleh perawatan. Pembangunan piramida menunjukkan organisasi tenaga kerja yang kompleks, tetapi tidak cukup untuk menentukan apakah pekerja mendapat upah atau makanan. Catatan sejarah harus dibandingkan dengan bukti arkeologis untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik (Retno K, 2010).
Lalu bagaimana dengan pekerja yang meninggal di sana? Pada 1990 Zahi Hawass menemukan pemakaman di selatan dataran Giza, dengan makam bata lumpur dan batu yang diberi bekal roti dan bir. Kerangkanya memperlihatkan keausan tulang belakang dan sendi akibat kerja berat, tetapi juga patah tulang yang menyambung rapi dan amputasi yang dilalui pasiennya sampai sembuh (Lehner & Hawass, 2017). Seseorang merawat orang-orang ini. Keberadaan pemakaman menunjukkan hubungan kelompok yang dimakamkan dengan komunitas pekerja Giza. Perbedaan bentuk dan letak makam juga memperlihatkan pembedaan kedudukan di antara pengawas, perajin, dan kelompok lain yang mungkin dimakamkan bersama mereka.
Bukti langsung dari zaman Khufu justru datang dari Wadi al-Jarf, di tepi Laut Merah. Pierre Tallet menemukan papirus di sana pada 2013, berisi catatan harian Merer, pengawas sekitar empat puluh orang pada tahun ke-26 atau ke-27 pemerintahan Khufu. Timnya mengangkut batu kapur dari Tura ke Giza lewat perahu dan kanal, lengkap dengan jadwal dan ransum (Tallet & Lehner, 2021). Catatan Merer memperlihatkan pengaturan perjalanan, pengangkutan batu, dan pencatatan kegiatan secara teratur. Bukti ini menjelaskan kemampuan administrasi proyek, tetapi tidak dengan sendirinya menentukan status hukum para pekerjanya. Pertanyaan budak atau bergaji sebenarnya salah dirumuskan. Mesir Kerajaan Lama belum punya uang logam; orang menerima upah berupa roti, bir, dan linen. Penyediaan jatah makanan merupakan bagian penting dari pengelolaan tenaga kerja. Untuk menentukan apakah jatah tersebut merupakan imbalan, pemenuhan kebutuhan selama menjalankan kewajiban, atau gabungan keduanya, diperlukan bukti tambahan tentang perekrutan dan kedudukan masing-masing kelompok pekerja. Sebagian sejarawan benar bahwa petani yang dipanggil tetap tidak bebas menolak, dan itu memang paksaan. Namun paksaan administratif lain dengan perbudakan, dan bukti di Giza condong ke bentuk yang pertama. Herodotus karenanya separuh benar, yaitu ia menangkap pengerahan massal bergilir, tetapi menambahkan kekejaman yang tak didukung bukti arkeologis.
Pembangunan kompleks piramida Giza ditopang oleh mobilisasi tenaga dan distribusi kebutuhan hidup dalam skala besar. Permukiman dan pemakamannya memperlihatkan kehidupan sebagian komunitas yang terlibat, sementara pengalaman kelompok lain masih memerlukan penelitian. Label bergaji menyesatkan karena imbalannya berupa ransum dan pilihan mereka terbatas. Bahkan label budak juga menyesatkan karena bukti menunjuk ke arah yang lain. Catatan Herodotus tetap akan berguna kalau dipakai untuk memahami cara orang kemudian mengingat Khufu, dan nasib pekerja musiman yang tak meninggalkan makam masih terbuka.

Daftar Pustaka
Herodotus. (1920). Herodotus: The Histories, Book II (A. D. Godley, Penerj.). Loeb Classical Library. Harvard University Press.
Lehner, M., & Hawass, Z. (2017). Giza and the Pyramids: The Definitive History. University of Chicago Press.
Tallet, P., & Lehner, M. (2021). The Red Sea Scrolls: How Ancient Papyri Reveal the Secrets of the Pyramids. Thames & Hudson.
Kurniasih, R. (2010). Piramida: Peninggalan budaya dari peradaban Mesir kuno, Skripsi, Universitas Indonesia.
Wijaya, H. (2011). Piramida: Peninggalan karya seni dunia dari wilayah barat hingga timur (Bagian I). Humaniora, 2(1), 754–763.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Tradisi Besar Wayang Kulit Yang Kian Terlupakan Generasi Muda

Di tengah pesatnya arus globalisasi dan modernisasi, kesenian tradisional seperti wayang kulit menghadapi tantangan besar, khususnya di Kota Batu, Jawa Timur. Dahulu dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa yang kental, kini minat generasi muda terhadap pertunjukan wayang kulit semakin menurun drastis. Banyak remaja lebih tertarik pada hiburan digital seperti media sosial dan gim daring, sementara pertunjukan wayang kulit dianggap kuno dan membosankan

Scroll to Top