Diskusi “Batik Terang Bulan” Libatkan Mahasiswa dan Pemerhati Batik di Kota Malang

Malang, 5 Oktober 2026 — Upaya memperluas pemahaman masyarakat terhadap nilai sejarah dan budaya batik dilanjutkan melalui kegiatan diskusi katalog coffee table book dan pemutaran video dokumenter “Batik Terang Bulan” yang diselenggarakan di Soendari Batik & Art, Senin, 5 Oktober 2026.

Kegiatan ini diikuti sekitar 30 peserta yang terdiri atas mahasiswa Universitas Negeri Malang dan pemerhati batik di Kota Malang. Kehadiran peserta dari latar belakang akademik dan komunitas budaya menjadikan forum tersebut sebagai ruang pertukaran gagasan mengenai dokumentasi, pelestarian, dan pengembangan pengetahuan tentang batik.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pemutaran film dokumenter “Batik Terang Bulan” yang menyajikan proses pembuatan batik, karakteristik motif, serta nilai budaya yang menyertainya. Film tersebut menjadi medium visual untuk memperkenalkan batik tidak hanya sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan budaya yang memiliki keterkaitan dengan sejarah, kreativitas, dan kehidupan masyarakat.

Selain pemutaran film, peserta juga diperkenalkan pada katalog berbentuk coffee table book yang mendokumentasikan Batik Terang Bulan melalui perpaduan narasi dan visual. Katalog tersebut disusun sebagai media yang dapat menjangkau pembaca secara lebih luas sekaligus menghadirkan informasi mengenai sejarah, motif, proses produksi, dan nilai budaya batik dalam format yang lebih komunikatif.

Sesi diskusi menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Mahasiswa dan pemerhati batik memberikan tanggapan terhadap isi buku maupun film dokumenter yang ditampilkan. Diskusi tidak hanya membahas aspek visual dan penyajian informasi, tetapi juga menyoroti pentingnya dokumentasi budaya sebagai bagian dari strategi pelestarian batik.

Para peserta memandang bahwa dokumentasi melalui buku dan film dapat membantu masyarakat memahami cerita di balik sebuah karya batik. Penyajian dalam bentuk audiovisual dinilai mampu menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dengan proses produksi, sementara coffee table book memberikan ruang yang lebih luas bagi penyajian informasi historis dan visual secara terstruktur.

Diskusi juga menghasilkan pandangan bahwa karya dokumentasi mengenai Batik Terang Bulan perlu disebarluaskan lebih luas melalui media daring. Pemanfaatan media online dinilai penting agar informasi tentang batik tidak hanya beredar di lingkungan terbatas, tetapi dapat diakses oleh masyarakat dari berbagai wilayah dan kelompok usia.

Penyebarluasan melalui media digital juga dapat memperkuat fungsi dokumentasi sebagai sarana edukasi. Generasi muda, khususnya mahasiswa, dapat memanfaatkan konten digital untuk mengenali proses pembuatan batik, memahami makna motif, serta melihat hubungan antara batik dan dinamika kebudayaan masyarakat.

Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini sekaligus menunjukkan pentingnya mempertemukan pengetahuan budaya dengan lingkungan akademik. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penonton, tetapi juga sebagai bagian dari kelompok yang dapat ikut menyebarluaskan pengetahuan mengenai batik melalui kegiatan pendidikan, penelitian, maupun berbagai platform digital.

Bagi pemerhati batik, forum diskusi memberikan ruang untuk memberikan masukan terhadap pengembangan dokumentasi Batik Terang Bulan. Perspektif para pemerhati budaya menjadi penting karena pelestarian batik tidak cukup hanya mempertahankan proses produksinya, tetapi juga membutuhkan dokumentasi, interpretasi, dan komunikasi yang mampu menjelaskan nilai-nilai budaya kepada masyarakat.

Kegiatan diskusi yang dihadiri 30 peserta ini menunjukkan bahwa coffee table book dan film dokumenter dapat menjadi media alternatif dalam memperkenalkan warisan budaya. Keduanya tidak hanya berfungsi sebagai produk dokumentasi, tetapi juga dapat menjadi titik awal bagi dialog antara pelaku budaya, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat.

Melalui diskusi tersebut, “Batik Terang Bulan” diharapkan semakin dikenal sebagai bagian dari kekayaan budaya yang perlu didokumentasikan dan diperkenalkan secara berkelanjutan. Penyebarluasan melalui media online selanjutnya diharapkan mampu memperluas jangkauan informasi sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menghargai dan menjaga keberlanjutan tradisi batik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Tradisi Besar Wayang Kulit Yang Kian Terlupakan Generasi Muda

Di tengah pesatnya arus globalisasi dan modernisasi, kesenian tradisional seperti wayang kulit menghadapi tantangan besar, khususnya di Kota Batu, Jawa Timur. Dahulu dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa yang kental, kini minat generasi muda terhadap pertunjukan wayang kulit semakin menurun drastis. Banyak remaja lebih tertarik pada hiburan digital seperti media sosial dan gim daring, sementara pertunjukan wayang kulit dianggap kuno dan membosankan

Scroll to Top