Kabar dari Taman Nasional Kepulauan Seribu ini patut jadi lampu kuning. Data Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu mencatat tutupan terumbu karang hidup di kawasan inti anjlok dari 42,3 persen pada 2018 menjadi 31,7 persen pada 2022, hanya dalam kurun empat tahun. Padahal kawasan ini bukan cuma taman nasional laut, tapi juga rumah bagi warisan budaya pesisir yang dihuni ribuan warga di 11 pulau.
Persoalan ini yang mendorong tim peneliti Universitas Negeri Malang (UM), dipimpin Andhika Yudha Pratama, dosen Departemen Hukum dan Kewarganegaraan UM, meneliti apa sebenarnya yang paling menentukan keberhasilan menjaga kawasan ini tetap lestari, baik dari sisi ekologi maupun budaya.
Turun Langsung ke Tidung, Pramuka, dan Panggang
Selama Januari hingga Maret 2024, tim peneliti menyebar kuesioner ke 215 responden di Pulau Tidung, Pulau Pramuka, dan Pulau Panggang, terdiri dari pengelola kawasan, tokoh masyarakat dan warga lokal, sampai wisatawan. Datanya lalu diolah pakai metode statistik bernama Structural Equation Model (SEM), semacam alat ukur yang bisa memetakan mana faktor yang paling berpengaruh di antara sekian banyak variabel sekaligus.
Ada tiga faktor yang diuji: kebijakan pengelolaan kawasan, partisipasi masyarakat, dan pemanfaatan teknologi macam sistem informasi geografis dan pemantauan digital. Ketiganya lalu dilihat pengaruhnya terhadap kualitas tata kelola kawasan, dan ujung-ujungnya terhadap keberlanjutan heritage itu sendiri.
Warga Lokal, Bukan Teknologi, yang Paling Menentukan
Hasilnya cukup mengejutkan sekaligus menegaskan hal yang sering dilupakan: partisipasi masyarakat terbukti jadi faktor paling berpengaruh, mengalahkan kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan teknologi sekalipun. Artinya, secanggih apapun sistem pemantauan berbasis digital yang dipasang, tanpa keterlibatan aktif warga lokal, kawasan ini tetap sulit dijaga.
Tim peneliti juga menemukan kualitas tata kelola kawasan, yang meliputi transparansi dan akuntabilitas pengelola, jadi jembatan penting yang menyalurkan pengaruh ketiga faktor tadi menuju keberlanjutan heritage secara keseluruhan. Secara statistik, model yang mereka susun mampu menjelaskan lebih dari 71 persen variasi keberlanjutan heritage di kawasan ini, angka yang tergolong kuat untuk penelitian ilmu sosial.
Bukan Sekadar Soal Konservasi Fisik
Temuan ini menegaskan bahwa menjaga terumbu karang dan warisan budaya pesisir Kepulauan Seribu tidak cukup hanya lewat pendekatan konservasi fisik semata. Tim peneliti merekomendasikan agar kebijakan ke depan lebih memperdalam ruang partisipasi warga dalam pengambilan keputusan, bukan sekadar formalitas, sembari tetap membenahi regulasi dan memperkuat literasi digital pengelola maupun masyarakat setempat.
Nyambung dengan Agenda Dunia
Riset ini sejalan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama soal pelestarian ekosistem laut (SDG 14), perlindungan warisan budaya dan alam sebagai bagian dari kota dan komunitas berkelanjutan (SDG 11), serta kemitraan multipihak antara pemerintah, masyarakat, dan akademisi untuk mencapai tujuan bersama (SDG 17).
Ucapan Terima kasih
Penelitian ini terlaksana atas dukungan pendanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat skema PNBP dari Universitas Negeri Malang.
Sumber foto: Journey of Indonesia, “5 Spot Snorkeling Super Keren di Kepulauan Seribu, Jakarta”, oleh Morteza, foto oleh Ibonk, dipublikasikan 21 September 2021, diakses 23 Agustus 2026 https://journeyofindonesia.com/travel/5-spot-snorkeling-super-keren-di-kepulauan-seribu-jakarta/




