“Skor Demokrasi Indonesia Melorot, Dosen UM Bongkar Cara Kekuasaan Bersembunyi di Balik Berita”

Angkanya kecil, tapi maknanya besar. Skor kebebasan dan hak politik Indonesia versi Freedom House terus tergerus sejak 2019, dari 62 turun ke 57 dari skala 100. World Press Freedom Index 2025 pun mencatat posisi pers Indonesia merosot ke urutan 127 dari 180 negara.

Tidak ada pembubaran parlemen. Tidak ada pemilu yang dibatalkan. Semua seremoni demokrasi tetap lengkap. Tapi angka-angka itu bicara lain: ada sesuatu yang mengerat pelan-pelan dari dalam.

Fenomena inilah yang tengah dibedah tim peneliti Universitas Negeri Malang lewat riset “Pemodelan Komunikasi Politik dalam Rezim Hibrida: Analisis Wacana Kritis atas Produksi dan Reproduksi Kekuasaan di Indonesia”. Riset ini dipimpin Yuventia Prisca Diyanti Todalani Kalumbang, dosen Prodi Ilmu Komunikasi UM, bersama Andhika Yudha Pratama, Ratna Triwurian Danu, Fairuza Arindra, dan Dini Putri Ratna Meritasari.

Ketika Demokrasi Hanya Tinggal Kulitnya

Menurut tim peneliti, mengutip pemikiran ilmuwan politik Steven Levitsky dan Lucan Way, kondisi semacam ini punya nama, rezim hibrida atau hybrid regime, sistem politik yang berada di antara demokrasi dan otoritarianisme. Dalam rezim ini, institusi demokrasi dipertahankan secara formal, tapi penguasa secara sistematis melanggar prinsip-prinsip demokrasi demi mempertahankan kekuasaannya, sebuah pola yang disebut competitive authoritarianism. Definisi lain yang dirujuk tim peneliti menyebut rezim hibrida bisa lahir dari proses demokratisasi yang tak pernah tuntas, atau dari liberalisasi terbatas yang sengaja tidak dibiarkan berkembang jadi demokrasi seutuhnya.

Pasca-Reformasi 1998, Indonesia sempat dianggap salah satu kisah sukses transisi demokrasi di Asia, ditandai lepasnya negara dari rezim otoriter, pemilu kompetitif yang berjalan rutin, pergantian kekuasaan yang damai, hingga terbukanya ruang kebebasan sipil dan pers. Namun dalam dua dekade berikutnya, menurut tim peneliti, kisah sukses itu mengalami distorsi dan erosi yang cukup hebat: kebebasan sipil dan politik meredup, kebebasan pers menguap, pluralisme dan partisipasi politik melemah.

Tim peneliti menegaskan, yang bikin regresi demokrasi ini sulit dikenali bukan karena ada pembubaran parlemen atau pembatalan pemilu, melainkan lewat hibridisasi kekuasaan, negara seolah tetap berkomitmen menjaga demokrasi, tapi perlahan merusak sistemnya dari akar, lewat celah pada supremasi hukum, akuntabilitas publik, dan ruang kebebasan berpendapat kritis.

Komunikasi Bukan Cuma Menyampaikan Pesan

Salah satu konsep kunci yang jadi pijakan riset ini adalah komunikasi politik. Tim peneliti menegaskan, pesan yang disampaikan lewat media tidak semata berfungsi memberi informasi, tapi juga jadi alat membangun persepsi, membentuk makna, dan memengaruhi tindakan sosial masyarakat. Dari titik inilah tim peneliti hendak membongkar bagaimana kekuasaan bekerja lewat kata-kata di ruang media, menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis.

Kenapa Ini Bukan Sekadar Urusan Akademik

Riset ini terkait langsung dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama soal perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh (SDG 16), yang salah satu targetnya adalah menjamin akses publik terhadap informasi dan melindungi kebebasan berekspresi. Ketika ruang kebebasan pers dan sipil tergerus seperti tren skor Freedom House, itu bukan cuma soal peringkat di laporan internasional, tapi sinyal fondasi demokrasi sedang goyah. Riset ini juga bersinggungan dengan pendidikan berkualitas dan literasi kritis warga (SDG 4), sebab kemampuan membaca wacana media secara kritis jadi bekal dasar agar warga tidak mudah digiring opini, baik oleh negara maupun algoritma.

Penelitian ini terlaksana atas dukungan pendanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat skema PNBP dari Universitas Negeri Malang.

Sumber foto: Rafly Mardiansyah, “Demokrasi: Sistem Penyebab Stagnasi Indonesia Menuju Negara Maju”,
Medium, dipublikasikan 9 Juni 2024, diakses 23 Agustus 2026,
https://medium.com/@raflymardiansyahsocial/demokrasi-sistem-penyebab-stagnasi-indonesia-menuju-negara-maju-87fadcb41ec2

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top