“Lima Pulau Bersejarah di Kepulauan Seribu Ini Berpotensi Jadi “Museum Hidup” Kalau Dikelola Dengan Tepat”

Di tengah gugusan Kepulauan Seribu, ada lima pulau kecil yang menyimpan jejak peradaban maritim ratusan tahun, mulai dari masa VOC sampai pendudukan Jepang. Onrust, Cipir, Kelor, Bidadari, dan Sebira, semuanya sudah berstatus cagar budaya. Tapi menurut riset tim Universitas Negeri Malang (UM), potensi besar itu sejauh ini baru dimanfaatkan sebatas paket wisata sejarah satu hari, belum benar-benar menghidupkan warisan itu bersama masyarakatnya.

Riset yang dipimpin Adinda Dwi Larasati, dosen Departemen Hukum dan Kewarganegaraan UM, ini mencoba merumuskan cara memadukan pelestarian sejarah dengan konsep blue economy sustainability, ekonomi kelautan yang tumbuh tanpa mengorbankan kelestarian laut dan pesisirnya.

Dari Pusat Dagang VOC sampai Mercusuar Tua

Kelima pulau ini punya cerita masing-masing. Onrust dulu jadi pusat perbaikan kapal dan perniagaan VOC, tempat karantina penyakit menular, asrama haji di masa Hindia Belanda, sampai penjara di masa pendudukan Jepang, kini jadi taman arkeologi terbuka. Cipir menyimpan reruntuhan bangsal rumah sakit kolonial dan benteng bundar yang sempat beralih fungsi jadi tempat eksekusi. Kelor dan Bidadari punya menara pertahanan bertipe Martello peninggalan Belanda, meski struktur di Kelor terus tergerus abrasi hingga ukurannya jauh menyusut dari aslinya. Sementara Sebira, di ujung utara kepulauan, punya mercusuar peninggalan 1869 yang masih beroperasi dan baru resmi ditetapkan cagar budaya pada 2024.

Bukan Cuma Reruntuhan, Ada Tradisi yang Masih Hidup

Yang membuat kelima pulau ini istimewa, menurut tim peneliti, bukan cuma bangunan tuanya. Di sekitarnya masih tinggal masyarakat “orang pulo” yang menjaga tradisi maritim seperti sedekah laut, ritual syukur atas hasil laut yang masih dipraktikkan meski tidak lagi rutin. Sayangnya, tradisi hidup ini dan bangunan cagar budaya masih dikelola terpisah, belum menyatu jadi satu narasi wisata warisan maritim yang utuh. Padahal justru perpaduan itulah yang membuat suatu warisan budaya disebut living heritage, warisan yang terus dipakai dan diwariskan oleh komunitasnya, bukan sekadar reruntuhan yang dipandangi wisatawan.

Tiga Pilar yang Diusulkan Tim Peneliti

Dari kajian ini, tim peneliti merumuskan model integrasi yang terdiri dari tiga pilar. Pertama, pelestarian adaptif, memelihara bangunan cagar budaya dengan sebagian pembiayaan dari pendapatan wisata bahari berkelanjutan. Kedua, tata kelola kolaboratif antara pemerintah, komunitas, dan sektor swasta. Ketiga, partisipasi dan kearifan lokal, menempatkan pengetahuan serta tradisi masyarakat “orang pulo” sebagai bagian aktif dari narasi wisata, bukan sekadar pelengkap.

Tantangan yang dihadapi juga tidak sedikit: abrasi yang terus mengikis struktur benteng, pembiayaan pemeliharaan jangka panjang yang masih terbatas, sampai risiko pencurian artefak dan kerusakan situs akibat aktivitas ilegal. Karena itu, tim peneliti merekomendasikan skema pembiayaan campuran dari retribusi wisata, kemitraan pemerintah-swasta, dan dana konservasi, sembari memperkuat kapasitas komunitas lokal sebagai penjaga sekaligus penerima manfaat utama.

Riset ini masih tahap awal, dan bagian penting soal persepsi langsung dari pengelola kawasan, dinas terkait, serta komunitas orang pulo masih akan digali lebih lanjut lewat wawancara mendalam pada tahap penelitian berikutnya.

Kenapa Ini Penting bagi Dunia, Bukan Cuma Jakarta

Riset ini sejalan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama soal pelestarian ekosistem laut (SDG 14), perlindungan warisan budaya dan alam sebagai bagian dari kota dan komunitas berkelanjutan (SDG 11), serta kemitraan multipihak antara pemerintah, masyarakat, dan swasta untuk mencapai tujuan bersama (SDG 17).

Tentu penelitian ini terlaksana atas dukungan pendanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat skema PNBP dari Universitas Negeri Malang.

Sumber foto: Daftar Tour, “Cagar Budaya Pulau Seribu jakarta Paling Mengejutkan”,
oleh Safar, dipublikasikan 9 Juni 2022, diperbarui 10 September 2022, diakses 25 Agustus 2026,
https://daftartour.co.id/cagar-budaya-pulau-seribu-jakarta-paling-mengejutkan/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top