Malang 20 Juni 2026 — Di lereng Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, hutan Selorejo adalah nyawa bagi warga sekitar. Bukan cuma soal pohon, hutan ini sumber air, ladang penghidupan, sekaligus tempat pengetahuan tentang alam diturunkan dari orang tua ke anak. Tapi belakangan, alih fungsi lahan di daerah sekitarnya, seperti Kota Batu dan Pujon, bikin kawasan tangkapan air ini makin rawan longsor dan banjir bandang.
Persoalan itu yang mendorong tim peneliti Universitas Negeri Malang (UM) turun ke Selorejo. Dipimpin Andhika Yudha Pratama, dosen Departemen Hukum dan Kewarganegaraan UM, bersama Dini Putri Ratna Meritasari, Wiji Astuti, Inka Dwi Lestari, Ade Rio Pratama, dan Keke Aqila Zayyan, mereka menggali satu hal: bagaimana caranya nilai penting hutan tidak cuma dihitung di atas kertas, tapi benar-benar dipahami dan dijaga bersama warga yang hidup berdampingan dengannya.
Bukan Sekadar Hitung-hitungan
Selama ini, manfaat hutan biasanya dinilai lewat angka ekonomi dan data teknis semata. Warga cuma jadi sumber informasi, bukan pihak yang ikut menentukan. Riset ini membalik cara pandang itu. Warga, tokoh masyarakat, pemerintah desa, dan akademisi diajak duduk bareng, saling tukar pengetahuan lewat musyawarah desa, sampai akhirnya sepakat soal pemanfaatan lahan dan cara menjaga kawasan tangkapan air.
Hanya saja, dalam forum-forum itu, suara kelompok tani hutan kerap kalah nyaring dibanding suara pemerintah atau pengelola kawasan. Artinya, melibatkan banyak pihak saja belum cukup kalau posisi tawar mereka masih timpang.
Belajar dari Gotong Royong dan Cerita Tetua
Menariknya, ilmu menjaga hutan di Selorejo tidak diajarkan lewat kelas atau pelatihan. Salah satu penggerak kelompok konservasi warga bercerita bahwa sejak kecil ia belajar dari kebiasaan orang tua dan tetangga. Dulu, para sesepuh desa menandai pohon-pohon di jalur mata air sebagai pohon yang “tidak boleh ditebang sembarangan”. Aturan itu tak pernah tertulis, tapi dipatuhi karena diwariskan lewat obrolan dan teguran turun-temurun.
Menurut salah satu dari kelompok konservasi, kebiasaan menanam pohon bareng-bareng di titik resapan air jadi cara paling ampuh mengenalkan anak muda desa pada pentingnya hutan tanpa harus menggurui. “Warga langsung merasakan manfaatnya sendiri, apalagi pas kemarau, debit air tetap terjaga,” katanya.
Forum rembug desa pun jadi tempat penting bagi warga menyampaikan hal-hal yang mereka amati sendiri, seperti titik rawan longsor atau perubahan pola hujan. Bagi mereka, pengetahuan semacam ini semestinya didengar setara dengan kajian teknis dari pemerintah atau akademisi, karena warga yang paling lama hidup berdampingan dengan hutan dan paling dulu merasakan dampaknya bila kawasan itu rusak.
Tentunya hal tersebut sejalan dengan temuan penelitian: pengetahuan warga soal pola musim dan titik rawan bencana memang sudah cukup diakui, tapi pengaruhnya masih terbatas saat sampai pada urusan nilai ekonomi hutan, yang cenderung masih dikuasai pendekatan teknis dari luar.
Model yang Bisa Ditiru Daerah Lain
Dari temuan-temuan itu, tim peneliti UM merumuskan model pembelajaran komunitas berbasis budaya. Intinya sederhana: nilai budaya masyarakat soal hutan jadi fondasi, warga dan berbagai pihak saling belajar, praktik lapangan dan forum musyawarah jadi ruang belajar bersama, dan semua pihak terus mengevaluasi cara mereka menjaga kawasan dari musim ke musim. Model ini diharapkan bisa jadi contoh buat kawasan hutan lain di Indonesia yang punya persoalan serupa.
Tim peneliti juga menyoroti bahwa Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Malang 2024-2044 belum memuat strategi pembelajaran komunitas semacam ini secara eksplisit. Mereka berharap pemerintah daerah mau memperkuat forum dialog warga dan memasukkan cara belajar ini ke dalam kebijakan, bukan sekadar mengatur batas kawasan di atas peta.
Nyambung dengan Agenda Dunia
Upaya di Selorejo ini sejalan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), mulai dari menjaga ekosistem darat (SDG 15), penanganan perubahan iklim (SDG 13), pendidikan berbasis pengalaman (SDG 4), kemitraan lintas pihak (SDG 17), hingga penguatan komunitas berkelanjutan (SDG 11).
Riset ini membuktikan satu hal: menjaga hutan bukan cuma urusan aturan dan angka, tapi juga soal merawat cara warga belajar, bercerita, dan bermusyawarah soal alam tempat mereka tinggal.
Tentu Kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat ini terlaksana berkat dukungan pendanaan Universitas Negeri Malang melalui skema PNBP. Tanpa dukungan tersebut, kegiatan observasi lapangan dan penyusunan model pedagogi kultural berbasis pengetahuan komunitas di Hutan Selorejo ini akan sulit terwujud. Tim peneliti menyampaikan terima kasih atas kepercayaan dan dukungan yang diberikan.
Sumber foto: Yoursay Suara.com, “Mengenal Sejuta Potensi Desa Selorejo Bersama PMM 72 UMM”, dipublikasikan 24 September 2020, diakses 22 Agustus 2026, https://yoursay.suara.com/news/2020/09/24/190952/mengenal-sejuta-potensi-desa-selorejo-bersama-pmm-72-umm




