Indonesia dilanda gemparnya program Presiden baru kita Pak Prabowo yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang bermanfaat untuk jangka panjang kesehatan utamanya. Tetapi, Selain Bermanfaat untuk kesehatan apakah program ini juga berefek samping keracunan? Alih-alih untuk memperbaiki gizi, sebaliknya malah banyak permasalahan dalam program ini. Salah satunya adalah keracunan massal yang terjadi pada anak-anak muda diakibatkan oleh MBG. Setelah banyaknya kasus keracunan massal akibat MBG, prosedural dapur yang tidak memenuhi SOP, apakah program ini tetap di gadang sebagai program unggulan? Lalu sebenarnya apa tujuan program ini yang terealisasikan di lapangan?
Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah program kerja dari pemerintah yang digadang gadangkan sebagai program unggulan untuk Indonesia emas 2045. Tujuannya yang mulia ini membuatnya menjadi suatu program kerja yang diyakini akan dapat membantu memperbaiki gizi anak-anak muda di Indonesia. Program MBG ini ditujukan kepada anak-anak sekolah dari tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, hingga Sekolah Menengah Atas. Namun, mengapa semenjak program unggulan ini mulai dijalankan semakin menimbulkan banyak sekali permasalahan serta kontroversi dari masyarakat akan dampak buruk yang dihasilkan dari program MBG ini yang mana terjadi keracunan massal di beberapa sekolah di berbagai daerah.
Menurut JPPI (Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia), menyampaikan jumlah korban keracunan program makanan bergizi gratis pada 12 Oktober 2025 mencapai 11.566 anak. Menurut Ubaid Matraji selaku koordinator nasional JPPI mengatakan bahwa terdapat sejumlah1.084 korban keracunan baru dalam sepekan terakhir atau selama periode 6-12 Oktober. Kasus-kasus keracunan MBG dengan jumlah terbanyak juga terjadi di beberapa daerah di Indonesia seperti di Kota Bandar Lampung, kota Lebong (Bengkulu), Kabupaten Bandung Barat (Jawa Barat), Kabupaten Banggai (Kepulauan Sulawesi Tengah), dan Kabupaten Kulon Progo
(DI Yogyakarta). Dari banyaknya data tersebut menunjukkan bahwa terdapat banyak sekali kejanggalan dari akibat yang ditimbulkan program MBG ini, baik dari segi prosedural maupun pelaksanaan program MBG di lapangan. Sebenarnya apakah program ini belum cukup persiapan untuk dijalankan atau memang kurang adanya pengawasan serta penerapan prosedur yang terstruktur dengan baik?
Pada umumnya keracunan disebabkan oleh masuknya zat berbahaya kedalam tubuh seperti mikroorganisme salmonella, E. Coli, yang bakteri ini biasanya ada pada nasi, tahu, atau bahan kimia seperti pengawet dan lainnya. Ironisnya kasus keracunan dalam MBG ini disebabkan oleh rendahnya higenitas dan kelalaian pengawasan gizi. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat kesadaran produsen makanan sangat rendah dan lalai dalam Standard Operating Procedure (SOP) nya, yang menyebabkan terjadinya banyak kasus keracunan dari program MBG ini.
Wakil Kepala BGN Nanik S Deyang mengatakan, 80 persen insiden keamanan pangan terjadi karena SOP tidak dipatuhi, baik oleh mitra maupun tim Badan Gizi Nasional (BGN). Adapun tim BGN yang dimaksud meliputi Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), ahli gizi, dan akuntan. ”Berarti pengawasan masih kurang. Kami mengaku salah atas insiden keamanan pangan yang terjadi,” katanya kepada wartawan di kantor BGN, Jakarta, Jumat (26/9/2025). Apakah Para konsumen penerima MBG adalah kelinci percobaan mereka dalam menjalankan program ini? Program Unggulan namun bagaimana dengan prosedurnya? Kelalaian tetapi tidak hanya 1 kasus, apakah ini suatu ketidak sengajaan sistem?. Bahan baku yang pihak dapur gunakan adalah bahan baku yang penyimpanan nya terlalu lama, dan pengolahan nya tidak memenuhi SOP. SPPG memasak makanan mulai pukul 20.00 padahal untuk dikonsumsi keesokan harinya, padahal seharusnya proses produksi di laksanakan jam 02.00 ”Untuk dikonsumsi pukul 07.00, seharusnya proses memasak mulai pukul 02.00. Mungkin juru masaknya ngantuk. Tapi hal ini tidak boleh terjadi lagi,” kata Nanik S Deyang selaku wakil kepala BGN.
Namun, di luar masalah penting implementasi ini, tujuan mulia program MBG patut diapresiasi. Program ini dimaksudkan untuk menjadi intervensi gizi penting untuk mengatasi dua masalah: stunting dan kekurangan gizi kronis pada anak-anak usia sekolah. Diharapkan kemampuan kognitif, konsentrasi belajar, dan kesehatan fisik siswa akan meningkat dengan asupan gizi yang konsisten setiap hari. Dalam jangka panjang, ini adalah investasi langsung dalam membangun sumber daya manusia berkualitas tinggi yang dapat mencapai Indonesia Emas 2045. Program ini pula memiliki potensi dampak sosial-ekonomi yang signifikan. MBG dapat membantu keluarga kurang mampu mengurangi pengeluaran harian mereka untuk makanan. Ini memungkinkan dana untuk nantinya dialihkan ke kebutuhan tambahan seperti pendidikan atau kesehatan. Sebaliknya, jika dikelola dengan benar, warung, UMKM lokal, atau dapur kolektif dapat menjadi motor penggerak ekonomi di tingkat akar rumput, menciptakan lapangan kerja baru, dan memperkuat rantai pasokan lokal.
Kita sebagai masyarakat hanya bisa percaya kepada pemerintah, dalam hal ini berarti pihak dapur produksi adalah produsen yang dipilih dan dipercaya pemerintah untuk menjalankan produksi MBG ini. Namun, pengelolaan yang tidak sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP) dapat menimbulkan efek yang massive bagi masyarakat ketika telah disajikan, hal yang paling mendasar adalah keracunan. Keracunan yang terjadi begitu massive dan terdapat di berbagai provinsi tentunya menimbulkan tanda tanya terhadap prosedur dari MBG itu sendiri. Hal ini tentunya menjadi masalah nasional yang malah mengakibatkan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap program pemerintah. Sehingga untuk memendam kecurigaan dan ketidakpercayaan masyarakat yang timbul dari program MBG ini, pemerintah hendaknya memperketat pengawasan terhadap proses produksi pembuatan MBG, meningkatkan standar pangan gizi yang lebih berkualitas, kebersihan tempat produksi, serta penyeleksian staf Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sehingga dari evaluasi ini nantinya akan dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap program MBG ini.
Anita Wanda Izzati, Annisa Aliyya Syifa’ul Khafiyya, Kacandra Galuh Puspaningati, Zaskiyah
Universitas Brawijaya




