Kami percaya Kampung Wisata Keramik Dinoyo menunjukkan bahwa kekuatan budaya lokal tidak hanya terletak pada seberapa tua tradisinya, tetapi juga seberapa baik masyarakat mampu menjaga, mengembangkan, dan menyesuaikannya dengan perubahan zaman. Ketika kami mendengar tentang sejarah sentra kerajinan Dinoyo yang dikatakan telah berdiri sejak tahun 1930-an kami merasa bahwa kampung ini bukan hanya tempat produksi keramik, tetapi juga tempat di mana orang-orang kreatif telah berkembang selama bertahun-tahun.
Kami menyadari bahwa pada awalnya, pembuatan kerajinan tanah liat sederhana ini telah dikaitkan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat setempat. Kerajinan gerabah menjadi solusi kreatif sekaligus cerminan kemandirian saat banyak keluarga tidak mampu membeli peralatan rumah tangga modern. Kami berpikir inilah titik awal yang secara tidak langsung membentuk identitas Dinoyo sebagai wilayah yang terkenal dengan kerajinan.
Kemudian pada tahun 1957, pemerintah didorong untuk membangun pabrik percontohan di Jawa Timur setelah ditemukan potensi bahan baku porselen di Jawa Timur sekitar tahun 1995. Penemuan ini menunjukkan bahwa kemajuan Dinoyo bukan hanya hasil kerja keras masyarakat tetapi juga kolaborasi antara kebijakan pemerintah dan kemampuan warga untuk memanfaatkan peluang. Sinergi ini, menurut pendapat kami, memicu transformasi besar pada akhir 1990-an, ketika wilayah ini mulai muncul sebagai tempat wisata edukatif berbasis industri dan komunitas. Menurut pendapat kami, perubahan ini tidak hanya mengubah fungsi ruang, namun lebih besar dari pada itu, yaitu sebagai jenis inovasi sosial yang memungkinkan sebuah kampung menjadikan tradisi sebagai daya tarik wisata sambil mempertahankan sifat lokalnya. Menurut pendapat kami, pengalaman budaya yang benar-benar luar biasa tercipta ketika pengrajin, lingkungan tempat keramik dibuat, dan pengunjung yang ingin belajar membuatnya. Ini menjadikan Dinoyo bukan hanya tempat untuk membeli keramik, tetapi juga tempat untuk belajar tentang proses kreatif yang mendasari setiap bentuk dan warna.
Meskipun demikian, tentu saja setiap perjalanan tidak selalu mulus, begitupun perjalanan keramik Dinoyo yang panjang, pasti tidak selalu mulus. Kami berpikir setiap perubahan membawa masalah. Kampung wisata ini sangat sukses, terutama selama pemerintahan Habibie, ketika fokus pada UMKM dan industri kreatif meningkat. Selama masa itu, Dinoyo mungkin mengalami masa pertumbuhan yang cukup besar. Ekonomi lokal bergerak, pengrajin mendapatkan lebih banyak pesanan, dan kegiatan warga seperti pelatihan dan pameran berlangsung secara teratur. Kami berpendapat bahwa pandemi COVID-19 menjadi salah satu momen penting bagi Dinoyo. Tidak hanya penurunan jumlah pembeli dan penjualan, tetapi juga hilangnya rutinitas kegiatan kreatif yang selama ini memberikan inspirasi bagi para pengrajin. Menurut pendapat kami, dampak terbesar dari pandemi pada daerah seperti Dinoyo adalah kehilangan interaksi sosial dan budaya yang biasanya menjadi ciri khas kampung wisata.
Lorong-lorong, yang biasanya dipenuhi wisatawan, terasa kosong. Selain itu, kami juga dapat membayangkan bahwa para pengrajin sekarang berada dalam keheningan studio mereka, tidak seperti sebelumnya, ketika mereka bekerja sambil berbagi cerita dengan pengunjung. Karena kerajinan tradisional sangat bergantung pada hubungan langsung dengan wisatawan, kami pikir situasi ini pasti sulit. Pengalaman, cerita, dan proses yang dinikmati secara langsung adalah bagian dari keramik. Ketika komunikasi terputus, beberapa karakter Dinoyo yang sangat kuat ikut meredup sementara. Meski begitu, kami percaya bahwa keramik dinoyo masih memiliki potensi yang sangat besar untuk bangkit karena mereka memiliki mempunyai sejarah dan pengalaman yang baik juga menjadikan komunitas yang tangguh. Ketika kami melihat bagaimana mereka mempertahankan usahanya, meskipun tanah untuk di masa sekarang kualitasnya berbeda dibandingkan dulu, kami merasa keramik dinoyo masih bergantung pada kemampuan warganya. Tanah liat memiliki kualitas yang bagus diambil dari lereng gunung tetapi sangat sulit untuk didapatkan. Meskipun pemerintah memberikan subsidi tanah liat dari UPT Provinsi kualitas tanah liat tetap berbeda. Dalam opini kami para pengrajin masih memiliki kemampuan dan teknik yang baik untuk membuat keramik dengan kualitas yang baik dengan hal itu produk nya layak untuk dijual.
Kami juga tertarik ada karakter visul keramik dinoyo. Dulu ciri khasnya adalah warna biru yang mengingatkan kami pada keramik tiongkok atau eropa klasik. Namun, kini para pengrajin menyesuaikan corak dan warna di masa modern. Menurut pendapat kami, perbubahan ini tidak hanya sekedar strategi tetapi adalah bukti bahwa tradisi bersifat dinamis. Keramik dinoyo tetap mempertahankan ciri khas mereka namun tidak menutup diri terhadap inovasi di masa modern. Dari pespektif kami, adaptasi ini yang membuat keramik dinoyo tetap relevan. Jika para pengrajin kukuh mempertahankan gaya lama tanpa adanya inovasi, kami yakin keramik dinoyo akan sulit bersaing dengan daerah lain atau bahkan produk pabrikan masal yang lebih murah. Justru dengan keberanian para pengrajin untuk menyesuaikan diri dengan masa sekarang desain tanpa melepas akar budaya yang menurut kami pantas diapresiasi.
Kami juga melihat bahwa teknik pembuatan yang sering digunakan, yaitu teknik cetak tuang atau cor, memberi manfaat tertentu bagi Dinoyo. Teknik ini memudahkan proses produksi keramik dengan hasil yang lebih cepat, rapi, dan lebih efisien. Meskipun ada yang mengira teknik ini mengurangi kesan tangan manusia atau seni tangan, menurut saya justru teknik ini memberi kesempatan besar bagi para pengrajin untuk memenuhi permintaan pasar yang lebih luas. Dengan teknik cetak tuang, Dinoyo bisa membuat souvenir, benda hias, maupun peralatan rumah tangga dengan kualitas yang tetap konsisten. Ini sangat penting terutama ketika keramik Dinoyo dikirim ke berbagai wilayah, terutama Bali yang menjadi pasar utama. Bagi kami, fakta bahwa keramik Dinoyo sampai ke berbagai daerah di Indonesia menunjukkan bahwa kualitas dan ciri khas produk ini masih disukai oleh banyak orang. Hasil penyebaran ini menunjukkan bahwa Dinoyo tidak hanya bergantung pada pengunjung lokal atau wisatawan, tetapi juga memiliki pasar yang luas dan tetap membutuhkan produk keramik buatan tangan.
Namun, kami merasa bahwa untuk menjaga keberlanjutan kampung wisata ini, diperlukan perhatian yang lebih serius dari pemerintah maupun masyarakat. Menurut saya, Dinoyo membutuhkan revitalisasi, bukan hanya dalam hal fisik, tetapi juga pengembangan program kreatif serta promosi. Sudah saatnya Dinoyo memanfaatkan era digital secara lebih maksimal, misalnya dengan memakai pemasaran online, virtual tour, atau workshop daring yang bisa menjangkau masyarakat di luar kota bahkan di luar negeri. Saya juga merasa bahwa pemerintah dapat lebih terlibat, misalnya melalui bantuan pelatihan desain modern, penyediaan bahan baku berkualitas, atau pembuatan program pameran tahunan yang dapat menarik pengunjung kembali ke Dinoyo. Tanpa dukungan semacam ini, saya khawatir regenerasi pengrajin akan sulit dilakukan karena anak muda mungkin merasa profesi pengrajin tidak memiliki masa depan cerah.
Pada akhirnya, menurut saya, Kampung Wisata Keramik Dinoyo adalah simbol perjalanan panjang budaya lokal yang terus bertransformasi. Kampung ini telah melewati fase tradisional, modern, digital, hingga pandemi global. Setiap fase membawa tantangan baru, tetapi juga peluang baru. Melihat bagaimana Dinoyo terus bertahan hingga kini, saya yakin bahwa kampung ini masih memiliki masa depan yang cerah. Selama masyarakat, pemerintah, dan wisatawan terus mendukung keberadaannya, Dinoyo dapat terus menjadi pusat kreativitas yang memadukan nilai budaya, ekonomi, dan edukasi.
Bagi saya pribadi, Dinoyo bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah gambaran bahwa sebuah kampung dapat menjadi simbol kreativitas kolektif, tempat di mana tradisi dan inovasi berjalan berdampingan. Dalam dunia yang terus berubah, Dinoyo mengajarkan bahwa kebudayaan yang hidup adalah kebudayaan yang dapat menyesuaikan diri, tetapi tetap setia pada identitasnya. Dan selama semangat itu dijaga, saya percaya bahwa kilau keramik Dinoyo akan terus bertahan dari generasi ke generasi.
Aura Prastika Ramadhan, Azani Caturrega, Bima Widostyogo, Bramantyo Addi Wicaksono, dan Cahya Alginan
Universitas Brawijaya




