Demokrasi dalam Laut Bercerita
Bagi Biru Laut, aktivis 1998, kata ‘demokrasi’ adalah perjuangan nyawa. Bagi kita hari ini, kata itu terasa seperti UU ITE yang siap menjerat di balik layar ponsel. Kisah Biru Lau mengingatkan kita bahwa realitas demokrasi sering kali jauh lebih pahit dari definisi idealnya. Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori adalah cermin yang menunjukkan bahwa demokrasi di Indonesia belum benar-benar baik-baik saja. Sistem demokrasi ini sendiri digunakan oleh beberapa negara dengan Indonesia menjadi salah satunya. Negara yang menganut prinsip demokrasi dan di mana bertujuan untuk kesejahteraan rakyatnya justru malah merugikan rakyat bahkan membungkam suara dari rakyat itu sendiri. Novel tersebut menceritakan bagaimana kondisi demokrasi Indonesia yang pada saat itu mengambil latar belakang tahun 1998. Demokrasi yang seharusnya menjadi milik rakyat justru tidak terjadi dengan adanya pembungkaman suara, penculikan, hingga pembunuhan kepada mereka para pejuang. Kondisi ini masih berlanjut hingga sekarang dengan melihat beberapa kasus terakhir yang terjadi di Indonesia. Laut Bercerita karya Leila S. Chudori tidak hanya menyajikan kisah personal menyangkut kehilangan dan perjuangan, tetapi juga menjadi cermin yang memantulkan wajah buram demokrasi yang terjadi di Indonesia. Melalui tokoh-tokoh yang digambarkan oleh Leila S. Chudori seperti Biru Laut beserta teman-teman aktivisnya, penulis menghadirkan potret idealisme generasi muda yang dengan gigih menegakkan keadilan serta memperjuangkan kebebasan berekspresi. Namun, idealisme tersebut justru berhadapan dengan realitas pahit, di mana suara mereka dibungkam, tubuh mereka disiksa, keberadaan mereka dihapus dalam sejarah. Dari sinilah kita dapat menyaksikan bahwa idealisme dan realitas demokrasi di Indonesia menemukan bentuk paling tragisnya.
Demokrasi seharusnya menjunjung tinggi partisipasi rakyat dan kebebasan berpendapat. Namun seperti yang tergambar dalam Laut Bercerita, banyak suara yang kerap diacuhkan, banyak suara kritis yang dianggap sebagai ancaman bagi kekuasaan. Ironisnya, negara yang seharusnya melindungi rakyatnya justru menjadi mesin represi. Biru Laut dan teman-teman aktivisnya bukan hanya korban kekerasan fisik, mereka bahkan korban dari sistem yang anti kritik. Laut bercerita menjadi novel yang merepresentasi betapa rapuhnya demokrasi ketika kekuasaan dijalankan tanpa akuntabilitas dan tanpa keberanian untuk mendengar suara berbeda. Pasca Reformasi, bayang-bayang Orde Baru tidak hilang. Ia hanya berganti baju, dari penculikan fisik menjadi pembungkam digital. Leila melalui karyanya Laut Bercerita mengingatkan bahwa demokrasi tidak terhenti pada pergantian rezim, demokrasi juga harus dijaga melalui keberanian bersuara dan kesediaan mendengar. Idealisme Laut yang memperjuangkan kebenaran menggambarkan demokrasi sejati, sedang nasib tragisnya menggambarkan betapa jauh realitas dari cita-cita tersebut.
Realita Demokrasi Indonesia Pasca Reformasi
Di era digital saat ini, demokrasi di Indonesia tidak lagi semata-mata tentang pelaksanaan pemilihan umum atau kebebasan berpendapat yang terbuka lebar. Sebaliknya, kita sering menyaksikan bentuk-bentuk pembungkaman yang lebih halus dan licik, seperti tekanan sosial yang membuat masyarakat enggan bersuara, regulasi pemerintah yang semakin ketat untuk membatasi kritik, hingga kampanye anti-kritik yang dilancarkan oleh pihak berwenang sendiri. Bayangkan saja, di tengah gemerlap media sosial, kita masih hidup di bawah bayang-bayang-bayang undang-undang seperti UU Informasi dan Transaksi Elektronik yang dapat dengan mudah menjerat siapa saja yang berani menyuarakan pendapat berbeda. Ini bukan lagi pembungkaman kasar seperti pada masa Orde Baru, melainkan seperti jaring laba-laba yang tak terlihat, yang perlahan membatasi ruang gerak demokrasi kita.
Jika melihat dari novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori, cerita ini seperti cermin yang memantulkan tantangan serupa. Di dalamnya, pembungkaman dilakukan melalui intimidasi, pengawasan, dan hilangnya suara-suara kritis di bawah kekuasaan otoriter.
Relevansinya sangat kuat dengan situasi saat ini, di mana aktivis lingkungan yang terlibat dalam kasus-kasus pembangunan infrastruktur sering kali dihentikan oleh tekanan dari korporasi dan pemerintah, atau jurnalis yang dikriminalisasi karena liputan mereka dianggap “mengganggu stabilitas.” Belakangan ini, isu-isu seperti pembatasan akses internet selama demonstrasi, penyebaran hoaks untuk membungkam oposisi, atau bahkan kampanye toleransi yang sebenarnya menutup mulut perbedaan pendapat, semakin menunjukkan betapa rapuhnya demokrasi kita di era digital. Indonesia, yang dulu bangga sebagai negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara, kini harus berjuang melawan krisis ini, di mana suara rakyat sering kali tenggelam dalam gelombang regulasi dan tekanan sosial yang tidak terlihat. Tanpa perlawanan kolektif, kita bisa saja kembali di mana suara yang dibungkam bukan lagi metafora, melainkan kenyataan sehari-hari.
Tantangan Demokrasi di Indonesia
Demokrasi Indonesia saat ini telah melalui berbagai fase sejak masa rezim otoriter pada 1998. Pada saat reformasi Indonesia memiliki pencapaian yang signifikan dalam penyelenggaraan pemilu multipartai, kebebasan sipil, dan penguatan Lembaga demokratis. Namun, sistem demokrasi di Indonesia masih menghadapi tantangan yang salah satunya, yaitu polarisasi. Polaritas identitas yang disebabkan oleh manipulasi narasi politik identitas yang dilakukan oleh elite politik. Tantangan tersebut menyebabkan Masyarakat lebih cenderung membentuk identifikasi eksklusif terhadap kelompok tertentu dan mengurangi komitmen terhadap prinsip inklusivitas dalam demokrasi. Untuk mengatasi tantangan tersebut diperlukan reformasi, yaitu restrukturisasi partai politik agar lebih transparan dan inklusif, serta penguatan kapasitas sipil masyarakat melalui edukasi politik berbasis komunitas.
Demokrasi Indonesia pada masa otoriter menuju reformasi memiliki hubungan yang kuat dengan novel Laut Bercerita. Novel tersebut menggambarkan tindakan represif yang dilakukan oleh elite politik, di mana kebebasan berpendapat dan hak sipil masyarakat
dibatasi. Tindakan yang dilakukan Biru Laut dan teman-teman aktivis, menunjukkan perjuangan generasi muda dalam menegakkan keadilan dan kebebasan berekspresi. Mereka juga mencoba menyadarkan masyarakat akan hak-hak yang dirampas oleh rezim otoriter. Novel Laut Bercerita memberikan gugatan keras terhadap demokrasi di Indonesia, dimana masih ada kejahatan masa lalu yang belum diselesaikan yang membuat fondasi negara rapuh. Kejahatan masa lalu yang sengaja dilupakan demi stabilitas politik elite. Upaya melupakan kejahatan masa lalu membuat terhambatnya demokrasi yang substantif dan inklusif. Lantas, apa yang harus kita lakukan? Novel Laut Bercerita memberikan kita cerminan sekaligus pesan bahwa perjuangan untuk demokrasi yang substantif dapat terwujud apabila negara, masyarakat, dan generasi muda memiliki kesadaran kolektif untuk terus memperjuangkan demokrasi yang berkeadilan, terbuka, dan menghargai keberagaman.
Cut Nayra (Universitas Brawijaya)




