“Ketika Layar Menggantikan Lapangan: Pudarnya Gobak Sodor di Era Digital”

Coba ingat kapan terakhir kali kamu melihat anak-anak bermain gobak sodor di lapangan. Kalau susah mengingatnya, mungkin memang sudah sangat lama. Permainan yang dulu selalu ramai dimainkan setiap sore itu kini hampir tidak pernah terlihat lagi. Lapangannya masih ada, anak-anaknya juga masih ada, tapi mereka lebih memilih duduk di dalam rumah sambil memegang gawai. Pemandangan yang dulu terasa biasa itu kini justru menjadi sesuatu yang langka, dan kita hampir tidak menyadarinya.

Gobak sodor adalah permainan tradisional yang cukup populer di Indonesia, permainan ini berasal dari Jawa Tengah. Cara mainnya sederhana, dua kelompok saling berhadapan di lapangan, satu kelompok berusaha melewati penjaga, satu kelompok lainnya berusaha menghalangi. Tidak butuh alat mahal, tidak butuh koneksi internet, cukup lapangan dan teman-teman. Dimainkan secara berkelompok, permainan ini mengajarkan kerja sama, strategi, dan sportivitas. Nilai-nilai itu sebenarnya sejalan dengan apa yang ada dalam Pancasila, gotong royong, kebersamaan, dan saling menghargai. Bedanya, dulu nilai-nilai itu tidak perlu diajarkan secara formal. Anak-anak belajar sendiri sambil bermain, tanpa sadar.

Di lingkungan sekitar saya, anak-anak masih ada yang bermain di luar, tapi paling sering hanya main bola. Gobak sodor sudah jarang sekali terlihat. Seorang anak kelas 4 SD yang saya temui bahkan tidak ingat kapan terakhir memainkannya, kesehariannya kini lebih banyak dihabiskan dengan gawai. Meski begitu, ada juga yang berbeda. Seorang anak kelas 6 SD di lingkungan yang sama mengaku masih bermain gobak sodor minggu kemarin dan lebih sering memilih bermain di luar, meski sesekali juga main HP. Fakta ini menunjukkan bahwa gobak sodor belum benar-benar hilang, hanya semakin jarang dan semakin terpinggirkan. Seorang ibu pun bilang, dulu gobak sodor masih sering terlihat di sore hari, sekarang sudah jarang sekali.

Penyebabnya sebenarnya tidak terlalu rumit. Ketika ditanya kenapa lebih memilih gawai, anak kelas 4 itu menjawab singkat, teman-temannya juga lebih sering main HP. Begitulah yang terjadi, ketika satu orang beralih ke gawai, yang lain ikut. Lama-lama tidak ada yang tersisa untuk diajak bermain di lapangan. Permainan tradisional seperti gobak sodor memang membutuhkan banyak orang untuk bisa dimainkan, berbeda dengan gawai yang bisa dinikmati sendiri kapan saja dan di mana saja. Penelitian pun menunjukkan hal yang sama, anak-anak cenderung memilih permainan modern karena bisa dimainkan sendiri tanpa perlu mencari teman bermain (Rustan & Munawir, 2020). Gawai menawarkan kemudahan yang sulit ditolak, terutama ketika lingkungan sekitar juga sudah bergerak ke arah yang sama.

Yang disayangkan, bukan hanya gobak sodornya yang hilang. Nilai-nilai yang ada di dalamnya ikut pergi. Kerja sama, kepemimpinan, dan ketangkasan fisik, semua itu sebenarnya bisa tumbuh secara alami dari bermain gobak sodor (Riri & Shopia, 2021). Anak-anak yang bermain gobak sodor belajar bagaimana mengatur strategi bersama tim, bagaimana menerima kekalahan dengan lapang dada, dan bagaimana bergerak aktif bersama orang lain. Di era yang semakin individualis ini, justru nilai-nilai itu yang paling dibutuhkan. Tapi sarananya malah sudah mulai ditinggalkan.

Untuk melestarikannya pun tidak perlu langkah yang besar-besar. Cukup mulai dari sekolah. Seorang ibu yang saya wawancarai mengatakan, anak-anak lebih mau melakukan sesuatu ketika gurunya yang mengajak dibanding disuruh orang tua di rumah. Jadi kalau sekolah mau memasukkan permainan tradisional ke dalam kegiatan olahraga, itu sudah cukup berarti. Selain itu, orang tua juga bisa mulai mengajak anak-anak bermain di luar sesekali, tidak harus setiap hari, cukup untuk mengenalkan kembali bahwa bermain bersama di lapangan itu menyenangkan. Komunitas dan pemerintah daerah juga bisa ikut membantu dengan mengadakan lomba atau festival permainan tradisional di ruang publik secara rutin agar anak-anak kembali mengenalnya.

Gobak sodor memang terlihat seperti permainan biasa. Tapi di baliknya ada nilai kebersamaan, budaya, dan karakter bangsa yang sayang sekali kalau sampai hilang begitu saja. Kita tidak harus memilih antara teknologi dan tradisi, keduanya bisa berjalan beriringan. Sebelum generasi berikutnya benar-benar tidak mengenal gobak sodor, mungkin sudah saatnya kita mulai peduli, agar lapangan yang sudah lama sepi itu bisa ramai kembali.

Daftar Pustaka

Riri, R., & Shopia. (2021). Pengaruh Permainan Gobak Sodor Terhadap Kerjasama Anak Kelompok B TK Intan Sari Palangkaraya Tahun 2019/2020. Jurnal Pendidikan dan Psikologi Pintar Harati, 17(1).

Rustan, E., & Munawir, A. (2020). Eksistensi Permainan Tradisional pada Generasi Digital Natives di Luwu Raya dan Pengintegrasiannya ke dalam Pembelajaran. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 5(2), 181–196.

Oleh : Najla Huwaida Azzahra (Universitas Brawijaya)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top