“Orang Batak Tapi Ga Bisa Bahasa Batak, Emangnya Itu Wajar?”

Bahasa Batak bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah sistem pengetahuan yang lahir dari peradaban tua di tepi Danau Toba, berkembang selama berabad-abad bersama tradisi lisan, sistem aksara, dan ritual adat yang kaya. Rumpun bahasa Batak mencakup setidaknya enam dialek utama, yakni Toba, Karo, Pakpak/Dairi, Simalungun, Angkola, dan Mandailing yang masing-masingnya memiliki kekhasan fonetis dan kosakata yang mencerminkan keberagaman ekologis dan sosial masyarakatnya. Bahasa Batak juga memiliki sistem tulisan sendiri, yakni aksara Batak (surat Batak), yang digunakan untuk mencatat mantra, silsilah (tarombo), hingga pesan-pesan leluhur. Dalam tradisi lisan, bahasa Batak hidup melalui umpasa (pantun adat), tortor (tarian), dan gondang (musik ritual), keseluruhannya membentuk ekosistem budaya yang utuh dan bermartabat. Namun, sejarah panjang ini kini menghadapi ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kok bisa ya? bukan dari luar, melainkan dari dalam itu sendiri. Generasi yang mewarisi darah Batak semakin banyak yang tidak lagi mampu menuturkan bahasa leluhurnya. Pertanyaannya bukan lagi apakah ini terjadi, melainkan mengapa kita membiarkannya terjadi.

Ada fenomena yang kini lazim dijumpai di tengah komunitas Batak, terutama di kota-kota besar, yaitu seorang pemuda yang dengan bangga menyebut dirinya anak Batak, memakai ulos saat acara pernikahan, bahkan hafal marga leluhurnya, tetapi tidak bisa mengucapkan satu kalimat pun dalam bahasa Batak. Ia tahu bahwa dirinya Batak, tapi ia tidak bisa berbicara seperti orang Batak. Kondisi ini bukan sekadar kelalaian personal. Ini adalah gejala sistemis dari kegagalan transmisi bahasa antargenerasi. Para orang tua yang merantau ke kota besar memilih berbicara bahasa Indonesia kepada anak-anaknya, dengan alasan praktis, yakni agar anak lebih mudah beradaptasi, agar tidak terlihat kampungan, agar bisa bersaing di dunia modern. Tanpa disadari, mereka memutus rantai linguistik yang telah terjaga selama ratusan tahun.

Bahasa bukan sekadar kode komunikasi, ia adalah sistem makna yang membentuk cara pandang dunia. Dalam bahasa Batak, ada konsep-konsep yang tidak memiliki padanan sempurna dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Dalihan Na Tolu, sistem sosial tiga tungku yang mengatur hubungan kekerabatan Batak dan hanya bisa dipahami sepenuhnya jika seseorang mengerti terminologi aslinya, yakni hula-hula, dongan tubu, boru. Ketika bahasa hilang, pemahaman mendalam tentang sistem nilai ini pun ikut terkikis. Lebih jauh, hilangnya bahasa berdampak pada fragmentasi identitas. Generasi muda Batak yang tidak menguasai bahasanya kerap merasakan keterputusan dengan leluhur, kesulitan berpartisipasi dalam ritual adat, hingga rasa asing di kampung halaman sendiri. Mereka menjadi orang Batak secara genealogis, tetapi bukan secara kultural, ini menjadi sebuah kondisi yang menimbulkan krisis identitas yang nyata. Ironi terbesar adalah banyak generasi muda Batak yang bangga dengan identitas Bataknya, mau memakai ulos, mau menghadiri upacara adat, tetapi menganggap belajar bahasa Batak itu tidak penting. Identitas dijadikan ornamen, bukan substansi. Kebatakan menjadi kostum yang dipakai saat ada pesta, bukan jiwa yang dihidupi setiap hari.

Di kehidupan nyata, bahasa Batak masih terdengar, tetapi dalam ruang yang semakin sempit. Ia hadir di upacara pernikahan adat, di gereja-gereja tertentu di Sumatera Utara, di percakapan antarorang tua. Sementara di kalangan generasi muda, bahasa Batak hanya muncul sebagai sisipan lucu dalam percakapan sehari-hari, kata-kata tertentu yang dianggap “lucu” atau “unik,” bukan sebagai medium komunikasi yang utuh. Di ruang digital, pola yang sama terulang. Scrolling melalui TikTok atau Instagram, konten berbahasa Batak memang ada, tetapi dominasinya jauh kalah dibanding konten berbahasa Indonesia atau bahasa daerah lain seperti Jawa atau Sunda yang telah lebih dulu menemukan formulanya di media sosial. Konten Batak yang viral biasanya bukan karena kedalaman bahasanya, melainkan karena unsur humor, eksotisme, atau nostalgia. Absennya bahasa Batak dari ekosistem digital ini bukan hal sepele. Bagi generasi Z dan Alpha, dunia digital adalah habitat utama mereka. Jika sebuah bahasa tidak hadir di sana, tidak ada konten edukatif, tidak ada komunitas daring yang aktif, tidak ada meme, tidak ada podcast, maka bahasa itu dianggap tidak relevan. Dan bahasa yang tidak relevan tidak akan dipelajari.

Pertanyaan dalam judul artikel ini “orang Batak tapi ga bisa bahasa Batak, emangnya itu wajar?” mendapatkan jawaban yang berbeda tergantung dari mana kita berdiri. Bagi generasi muda Batak yang tumbuh di Sumatera Utara, ketidakmampuan berbahasa Batak masih kerap dilihat sebagai sesuatu yang memalukan, sebuah penanda kegagalan dalam mewarisi identitas. Di kampung-kampung dan kota-kota kecil, ekspektasi sosial masih kuat, orang Batak ya HARUS bisa berbahasa Batak! Tetua adat, orang tua, dan komunitas menganggap bahasa sebagai komponen wajib dari identitas Batak. Sementara itu, bagi generasi muda Batak di luar Sumatera Utara, termasuk mahasiswa yang merantau ke kota-kota besar seperti Malang, Jakarta, atau Bandung, persepsi ini sering kali berbeda. Di lingkungan yang heterogen, ketidakmampuan berbahasa Batak dianggap hal biasa, bahkan normal. “Toh saya tetap bangga jadi orang Batak,” begitu argumen yang sering terdengar. Bahasa dianggap bukan satu-satunya penanda identitas (marga), nilai, dan solidaritas komunitas dianggap cukup. Kedua perspektif ini sama-sama mengandung kebenaran, tetapi juga kelemahan. Mereka yang masih memegang standar bahasa perlu menyadari bahwa rasa bersalah saja tidak cukup untuk merevitalisasi bahasa, dibutuhkan sistem dan ekosistem yang mendukung. Sementara mereka yang menormalisasi ketidaktahuan perlu bertanya “jika bukan kita yang menjaga bahasa ini, siapa lagi?”

Meratapi hilangnya bahasa Batak tanpa tindakan adalah kemewahan yang tidak bisa kita biarkan. Diperlukan strategi revitalisasi yang tidak hanya romantis, tetapi realistis dan adaptif terhadap konteks generasi masa kini. Pertama, digitalisasi bahasa Batak harus menjadi prioritas. Ini berarti menciptakan konten digital yang menarik dalam bahasa Batak, seperti podcast, video pendek, meme edukatif, hingga aplikasi belajar bahasa Batak yang gamifikasi dan interaktif. Bahasa harus hadir di ruang yang dihuni generasi muda, dan ruang itu kini adalah layar ponsel kita sendiri.

Kedua, dimulai dari keluarga. Orang tua adalah guru bahasa pertama dan paling berpengaruh. Program komunitas yang mendorong orang tua untuk kembali menggunakan bahasa Batak di rumah, meskipun hanya dalam percakapan sederhana, hal tersebut dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar dari program sekolah manapun. Ketiga, komunitas Batak di luar Sumatera Utara perlu mengambil peran aktif. Organisasi seperti IKAMSU dan komunitas Batak di kampus-kampus dapat menjadi inkubator pemelajaran bahasa yang informal dan menyenangkan, bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai identitas yang dirayakan bersama. Keempat, pendekatan pendidikan perlu dievaluasi. Mata pelajaran bahasa daerah di sekolah harus ditambahkan dan diracang ulang, bukan sekadar menghafal kosakata, tetapi mengintegrasikan bahasa Batak dalam konteks kehidupan nyata, seperti bercerita, berdebat, berkarya seni. Kurikulum yang kering tidak akan pernah menumbuhkan cinta terhadap bahasa. Kelima, perlu ada perubahan perspektif. Berbahasa Batak harus dilihat bukan sebagai tanda ketinggalan zaman, melainkan sebagai tanda kebanggaan dan keunggulan. Seperti bagaimana berbahasa Prancis di Paris atau berbahasa Jepang di Tokyo adalah tanda kecanggihan budaya, berbahasa Batak pun harus dipersepsikan sebagai aset, bukan beban.

Kembali ke pertanyaan awal, “orang Batak tapi ga bisa bahasa Batak, emangnya itu wajar??” Secara sosiologis, ini sudah menjadi kenyataan yang semakin umum. Tetapi secara etis dan kultural, ini adalah kondisi yang tidak boleh kita normalisasi begitu saja. Bahasa Batak bukan milik masa lalu. Ia adalah warisan yang hidup, yang hanya akan terus hidup jika ada orang-orang yang memilih untuk menghidupkannya. Generasi muda Batak hari ini memiliki pilihan: menjadi generasi yang menyaksikan kepunahan, atau menjadi generasi yang memilih kebangkitan. Tidak harus fasih dari hari pertama. Tidak harus sempurna. Cukup mulai dengan satu kata, satu kalimat, satu percakapan. Karena bahasa tidak akan mati selama ada yang mau berbicara dalam bahasa itu dan generasi muda Batak adalah penutur yang paling dibutuhkan bahasa ini sekarang. Horas!!

Oleh : Evelyn Angel Gracela (Universitas Brawijaya)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top