Tradisi yang Mengakar
Tradisi selametan kematian atau yang sering disebut tahlilan masih menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan masyarakat Jawa. Tradisi ini biasanya dilakukan melalui doa bersama pada hari-hari tertentu setelah kematian, seperti tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, hingga seribu hari. Dalam pelaksanaannya, keluarga yang berduka mengundang tetangga dan kerabat untuk berkumpul, berdoa, sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.
Bagi masyarakat Jawa, selametan bukan sekadar ritual keagamaan. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi simbol kebersamaan dalam kehidupan sosial masyarakat. Clifford Geertz bahkan menyebut slametan sebagai bentuk persatuan sosial masyarakat Jawa. Hingga kini, tradisi tersebut masih kuat dipertahankan di berbagai daerah, termasuk di Kota Malang yang dikenal memiliki budaya gotong royong dan hubungan antarwarga yang erat. Di banyak lingkungan masyarakat Malang, tradisi tahlilan masih rutin dilakukan ketika ada warga meninggal dunia. Warga biasanya datang membantu keluarga yang berduka, mulai dari memasak, menyiapkan tempat, hingga menemani keluarga selama proses tahlilan berlangsung. Kehadiran warga dianggap sebagai bentuk empati dan dukungan moral kepada keluarga yang sedang kehilangan. Tradisi ini juga memperlihatkan bagaimana budaya gotong royong masih hidup di tengah masyarakat.
Tradisi atau Tuntutan Sosial?
Di balik nilai kebersamaan tersebut, selametan hampir selalu identik dengan penyediaan konsumsi bagi tamu yang hadir. Keluarga biasanya menyiapkan nasi kotak, makanan ringan, kopi, teh, hingga “berkat” untuk dibawa pulang oleh warga setelah acara selesai. Dalam beberapa lingkungan, hal tersebut bahkan sudah dianggap sebagai bagian yang wajib dari pelaksanaan tahlilan. Semakin banyak tamu yang hadir, semakin besar pula konsumsi yang harus disediakan oleh keluarga. Di sinilah persoalan mulai muncul. Di tengah suasana kehilangan, keluarga tidak hanya memikirkan rasa duka atas kepergian orang tercinta, tetapi juga harus menyiapkan rangkaian tahlilan lengkap beserta jamuan untuk warga yang datang. Mulai dari tujuh harian, empat puluh harian, seratus harian, hingga seribu harian sering kali tetap dilaksanakan karena sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat. Meski tidak ada aturan tertulis, banyak keluarga merasa harus tetap menjalankan tradisi tersebut secara lengkap agar tidak dianggap mengabaikan adat atau tidak menghormati almarhum. Dalam beberapa kasus, keluarga bahkan tetap memaksakan diri mengadakan tahlilan besar meskipun kondisi ekonomi sedang sulit. Ada yang rela menggunakan tabungan, meminjam uang, atau mengurangi kebutuhan lain demi menyediakan konsumsi yang dianggap “layak” oleh lingkungan sekitar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi selametan perlahan mengalami pergeseran makna. Yang awalnya berfokus pada doa bersama dan dukungan moral kini dalam beberapa kondisi justru dibarengi tuntutan sosial yang tidak disadari. Besar kecilnya acara, banyaknya tamu yang diundang, hingga jenis konsumsi yang disediakan terkadang menjadi perhatian masyarakat. Tidak sedikit keluarga yang merasa sungkan jika hanya mengadakan doa sederhana karena khawatir menjadi bahan pembicaraan tetangga. Padahal, keluarga yang sedang berduka seharusnya diberi ruang untuk menenangkan diri, bukan justru dipusingkan oleh biaya konsumsi dan persiapan acara. Dalam praktiknya, jamuan seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tahlilan. Bahkan, terkadang masyarakat lebih memperhatikan ada atau tidaknya nasi kotak dan berkat dibanding makna doa itu sendiri. Pada titik inilah tradisi yang awalnya bertujuan mempererat solidaritas sosial perlahan dapat berubah menjadi tekanan sosial yang memberatkan keluarga yang sedang berduka.
Menjaga Tradisi Tanpa Memberatkan
Tidak semua masyarakat memandang selametan sebagai beban. Sebagian warga masih melihat tradisi ini sebagai bentuk kerukunan dan kebersamaan. Dalam beberapa lingkungan, warga datang membantu memasak, membawa bahan makanan, hingga ikut meringankan biaya keluarga yang berduka. Ada pula masyarakat yang mulai menyederhanakan pelaksanaan tahlilan tanpa menghilangkan nilai doanya. Beberapa keluarga memilih mengadakan doa sederhana dengan konsumsi secukupnya agar tidak memberatkan. Tradisi selametan sebenarnya tetap memiliki nilai positif yang penting untuk dipertahankan, terutama dalam menjaga budaya gotong royong dan solidaritas sosial masyarakat Jawa. Tradisi ini juga menjadi cara masyarakat menunjukkan kepedulian kepada keluarga yang sedang kehilangan. Namun, yang perlu diubah adalah cara masyarakat memandang pelaksanaannya. Selametan seharusnya tidak diukur dari banyaknya makanan, ramainya acara, atau mahalnya jamuan yang disediakan.
Pada akhirnya, penghormatan kepada orang yang meninggal bukan terletak pada besar kecilnya acara, melainkan pada ketulusan doa dan kepedulian terhadap keluarga yang ditinggalkan. Tradisi akan tetap bermakna jika dijalankan dengan rasa empati, bukan karena tekanan sosial atau gengsi di lingkungan masyarakat. Jangan sampai budaya yang seharusnya menjadi bentuk dukungan moral justru berubah menjadi beban tambahan bagi keluarga yang sedang berada di tengah duka.
Daftar Pustaka
Sholihah, A. W., Azzahrah, E. A., Putri, N. A., & Rahmawati, T. O. (2024). Tinjauan filosofis tradisi selamatan orang meninggal di Jawa dalam perspektif Islam. International Conference on Cultures & Languages, 2(1), 360–373. https://doi.org/10.22515/38cc3910
Wikipedia contributors. (n.d.). Slametan. In Wikipedia. Retrieved May 27, 2026, from https://en.wikipedia.org/wiki/Slametan
Ramadhan, B. (2024, July 16). 8 urutan selamatan orang meninggal dalam budaya Jawa. https://www.detik.com/jatim/budaya/d-7435912/8-urutan-selamatan-orang-meninggal-dalam-budaya-jawa
Oleh : Zaskia Devina Maurine (Universitas Brawijaya)




