I. Pendahuluan
Sore hari di lingkungan perumahan atau desa sekarang rasanya jauh lebih sunyi dibandingkan sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Dulu, suara anak-anak bermain di lapangan kecil depan rumah terdengar hampir setiap sore. Ada yang berlari sambil memainkan gobak sodor, ada yang tertawa saat kalah main congklak, atau duduk serius di depan congklak. Tidak ada ponsel, tidak ada headset, yang ada cuma suara tawa dan sesekali tangis karena jatuh. Sayangnya, suasana seperti itu sekarang mulai jarang ditemukan. Sekarang, halaman-halaman itu sepi, anak-anaknya ada di dalam, masing-masing menatap layar, duduk berdampingan tapi pikiran mereka melanglang buana ke Land of Dawn atau medan perang Battle Royale. Bukan salah siapa-siapa memang, zaman berubah dan mereka wajar mengikuti. Dunia digital memang membawa banyak kemudahan, tetapi di sisi lain perlahan menggeser budaya bermain tradisional yang dulu begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Esai ini mencoba menelusuri kenapa permainan rakyat itu penting, apa hubungannya dengan nilai-nilai Pancasila dan kepedulian sosial, dan apa yang seharusnya dilakukan agar warisan budaya ini tidak benar-benar punah ditelan zaman.
II. Isi
Indonesia punya ratusan permainan tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.Ada gobak sodor, congklak, egrang, bentengan, petak umpet, lompat tali, enggrang, bakiak,hingga permainan-permainan lokal yang namanya bahkan mungkin belum banyak dikenal di luardaerahnya. Setiap permainan membawa ceritanya sendiri, termasuk nilai-nilai yang diwariskanturun-temurun.Yang membuat permainan rakyat berbeda dari permainan digital bukan soal kecanggihanteknologinya, melainkan dimensi sosialnya. Ketika anak-anak bermain gobak sodor, mereka tidakhanya berlari, mereka belajar kerja sama tim, strategi, dan bagaimana menghargai rekan saturegu. Ketika bermain congklak, mereka belajar berhitung sekaligus bersabar menunggu giliran.Semua itu terjadi secara alami, tanpa sadar, dan tanpa instruksi guru.Nurfaridah dan Rahardjo (2019) membuktikan bahwa permainan tradisional efektif dalammeningkatkan kemampuan sosial-emosional anak, termasuk empati, kemampuan bernegosiasi,dan pengendalian diri. Hal ini sangat kontras dengan temuan tentang game online yang cenderungmengembangkan pola pikir kompetitif individual dan dalam beberapa kasus memicu perilakuagresif. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (2022) juga mencatat bahwa 79% anak usia 6-12tahun kini lebih banyak menghabiskan waktu luang dengan gadget dibandingkan bermain di luar,angka yang naik signifikan dari 49% pada tahun 2017.
Kalau kita perhatikan lebih saksama, permainan rakyat sebenarnya adalah Pancasila yangdimainkan, bukan sekadar dibacakan. Setiap sila dalam Pancasila punya cerminannya dalam caraanak-anak bermain tradisional.Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, terlihat dalam bagaimana permainantradisional mengajarkan anak untuk jujur dan menghormati lawan bermain. Tidak ada curang,tidak ada bermain kasar, karena kalau ketahuan, bisa-bisa tidak diajak main lagi. Hukuman sosialitu jauh lebih efektif dari sekadar poin minus dalam game.Sila ketiga, Persatuan Indonesia, hidup dalam permainan seperti gobak sodor atau bentenganyang tidak bisa dimainkan sendirian. Permainan ini memaksa anak-anak bermain lintas latarbelakang, tidak peduli kamu anak siapa, dari keluarga yang punya atau tidak, semua bisa bermainbersama.Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan, juga muncul dalammomen-momen kecil yang sering tidak disadari, ketika anak-anak berunding menentukan aturanpermainan, atau menyelesaikan perselisihan tentang siapa yang menang dan kalah. Merekabelajar bermusyawarah sejak dini, belajar bahwa suara semua orang perlu didengar. Artinya, melestarikan permainan rakyat bukan hanya soal menjaga tradisi. Ini soal menjagaagar nilai-nilai Pancasila tidak berhenti jadi teks hafalan di buku pelajaran, tapi benar-benardipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kekhawatiran soal punahnya permainan rakyat bukan sekadar sentimen masa kecil, ini adalahtentang memudarnya ruang interaksi sosial yang autentik. Ada data konkret yang mendukungkekhawatiran ini. Survei Badan Pusat Statistik (2021) menunjukkan bahwa hanya 34% anak usiasekolah dasar yang mengenal lebih dari lima permainan tradisional daerahnya sendiri. Sisanyahanya tahu satu-dua, atau bahkan tidak satu pun.Sementara itu, We Are Social dan Meltwater (2023) mencatat bahwa rata-rata anak Indonesiausia 5-12 tahun menghabiskan lebih dari 5 jam sehari di depan layar, baik untuk bermain gamemaupun menonton konten digital. Bandingkan dengan waktu bermain aktif di luar ruangan yangrata-rata hanya 30-45 menit per hari, jauh di bawah rekomendasi World Health Organization yangmenyarankan minimal 60 menit aktivitas fisik setiap hari untuk anak-anak.Salah satu kesalahan berpikir yang sering muncul adalah menempatkan teknologi sebagailawan dari budaya tradisional. Padahal, keduanya bisa berjalan beriringan kalau dikelola dengancerdas. Contoh nyatanya sudah ada. Beberapa pengembang game lokal Indonesia mulaimenciptakan game edukatif berbasis permainan tradisional. Ada yang mengangkat tema congklakmenjadi puzzle digital, ada pula yang membuat simulasi egrang dalam format augmented reality.Pendekatan ini terbukti menarik minat anak-anak yang lahir dan besar bersama teknologi,sekaligus memperkenalkan mereka pada warisan budayanya sendiri.Media sosial juga bisa jadi alat yang efektif. Kampanye-kampanye kreatif tentang permainantradisional yang dikemas dalam format video pendek di YouTube atau Reels bisa menjangkaujutaan anak-anak sekaligus. Beberapa konten kreator Indonesia sudah mulai melakukannya danmendapat respons yang positif. Ini menunjukkan bahwa permainan rakyat sebenarnya masihpunya daya tarik, tinggal bagaimana cara mengemasnya agar relevan dengan selera generasisekarang.
Tanggung jawab melestarikan permainan rakyat tidak bisa dibebankan ke satu pihak saja. Iniurusan bersama, antara negara, sekolah, dan orang tua. Negara punya kekuatan paling besarkarena bisa membuat kebijakan yang berdampak luas. Pemerintah bisa mendorong kurikulumyang secara eksplisit memasukkan permainan tradisional dalam mata pelajaran olahraga atau senibudaya. Pemerintah daerah bisa menyelenggarakan festival permainan rakyat tahunan yangmelibatkan sekolah- sekolah. Dana desa bisa dialokasikan sebagian untuk pembuatan ruangbermain tradisional di lingkungan masyarakat. Langkah-langkah ini tidak memerlukan anggaranyang sangat besar, tapi dampaknya bisa sangat signifikan.Karena anak-anak lebih banyak menghabiskan harinya di sekolah, sekolah memiliki peranyang paling vital. Bayangkan jika setiap jam istirahat atau jam olahraga, setidaknya seminggusekali, murid-murid diajak bermain engklek, bakiak, atau petak umpet tradisional. Mereka tidakhanya bergerak aktif, tapi juga belajar berinteraksi langsung dengan teman-temannya. Beberapasekolah di Yogyakarta dan Bali sudah menerapkan hal ini dan hasilnya cukup memuaskan,anak-anak lebih aktif secara sosial dan tingkat bullying dilaporkan menurun.Orang tua juga punya peran yang tidak kalah penting. Sesekali mematikan wifi dan mengajakanak ke halaman untuk bermain bersama bisa jadi awal yang sederhana namun bermakna. Bukansoal melarang teknologi, tapi soal menyeimbangkan. Anak yang pernah merasakan keseruanbermain gobak sodor bersama teman-temannya tidak akan mudah melupakan pengalaman itu.
III. Penutup
Permainan rakyat memiliki pelajaran hidup yang tidak ditemukan di buku mana pun, bagaimana caranya menang dengan bermartabat, kalah dengan lapang dada, dan bermain dengan jujur. Ketika permainan itu hilang, yang hilang bukan sekadar tradisi. Yang hilang adalah ruang di mana nilai-nilai persatuan, kepedulian sosial, dan semangat Pancasila itu tumbuh secara organik. Dalam dunia yang semakin digital dan individualistis, permainan rakyat justru semakin relevan sebagai penyeimbang. Melestarikannya bukan berarti kita anti-modern atau menolak perkembangan teknologi. Justru sebaliknya, ini soal kecerdasan kita sebagai bangsa dalam memilih mana yang perlu dijaga dan mana yang perlu disesuaikan. Teknologi boleh terus berkembang, tapi identitas budaya dan karakter bangsa tidak boleh ikut-ikutan tergerus. Selama masih ada anak-anak yang berlari di halaman, bermain bersama tanpa memandang siapa yang lebih kaya atau lebih pintar, selama itulah Indonesia masih menjaga satu dari sekian banyak warisan terbaiknya. Tugas kita bersama, negara, sekolah, orang tua, dan masyarakat, adalah memastikan warisan itu tidak cuma jadi kenangan
Daftar Rujukan :
Badan Pusat Statistik. (2021). Statistik Sosial Budaya Anak Indonesia 2021.Komisi Perlindungan Anak Indonesia. (2022). Laporan tahunan KPAI 2022: Penggunaan gadget pada anak usia sekolah. KPAI.
Kurniati, E. (2016). Permainan Tradisional dan Perannya dalam Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak.
Mulyana, D. (2018). Komunikasi Budaya: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nurfaridah, S., & Rahardjo, T. (2019). Pengaruh Permainan Tradisional terhadap Perkembangan Sosial-Emosional Anak Usia Sekolah Dasar. Universitas Negeri Yogyakarta.
We Are Social & Meltwater. (2023). Digital 2023: Indonesia. World Health Organization. (2020). WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour.
Yudha, A. K., & Suwandi, S. (2020). Revitalisasi Permainan Tradisional sebagai Media Pendidikan Karakter di Era Digital. Jurnal Pendidikan Karakter.
Oleh : Sabhita Anindya Thobroni (Universitas Brawijaya)




