“Candi Wonorejo Madiun: Warisan Sunyi Yang Menunggu Diakui”

Sumber: Dokumentasi peneliti, 2026

Ketika Sejarah Tidur di Bawah Tanah

Ada sesuatu yang ganjil sekaligus menyentuh ketika kita berdiri di  hadapan sebuah situs purbakala yang tersembunyi di antara hamparan sawah dan rumah warga. Tidak ada papan reklame besar, tidak ada sorot lampu dramatis, tidak ada antrean wisatawan yang berselfie. Yang ada hanyalah keheningan, batu-batu tua yang masih berdiri tegak, dan pertanyaan yang menggantung di udara: mengapa tempat sepenting ini begitu jarang dibicarakan?

Itulah yang saya rasakan pertama kali menginjakkan kaki di Candi Wonorejo, sebuah situs arkeologi yang berlokasi di Dusun Santan, Desa Wonorejo, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Jarak tempuhnya tidak jauh dari pusat kota, sekitar 25 kilometer ke arah timur dari kota Madiun dan sekitar 7 kilometer di selatan Kantor Bupati Madiun di Caruban. Namun secara perhatian publik, situs ini terasa jauh, jauh sekali, dari pusat kesadaran masyarakat.

Madiun selama ini lebih banyak dikenal lewat satu narasi yang berat: tragedi pemberontakan PKI tahun 1948. Narasi itu memang nyata dan patut dikenang. Tetapi, sejarah Madiun jauh lebih panjang dan kaya dari sekedar satu babak kelam. Di bawah ini tanah dusun kecil bernama Santan, tersimpan bukti bahwa wilayah ini pernah menjadi bagian dari peradaban besar Nusantara, jauh sebelum nama Madiun dikenal.

Tulisan ini lahir kunjungan langsung ke lokasi, percakapan dengan warga sekitar, serta kegelisahan pribadi terhadap nasib warisan budaya yang terlalu sering dianggap urusan akademisi semata. Ini bukan kajian ilmiah. Ini adalah suara warga biasa yang merasa bahwa peninggalan leluhur Adalah tanggung jawab kita semua.

Dari Mimpi ke Panggilan: Kisah Penemuan yang Tidak Biasa

Sejarah penemuan Candi Wonorejo dimulain dari sebuah cerita yang terasa lebih dekat dengan dunia mistis ketimbang ilmu pengetahuan, namun justru itulah yang membuatnya begitu manusiawi. Pada malam Jumat Wage, tanggal 30 Juni 1989, seorang sesepuh desa bernama Sukarto Simun mengaku mendapat ilham lewat mimpi dari sesosok yang dipercaya sebagai Buyut Resi Santanu Murti, leluhur yang dihormati warga Dusun Santan. Dalam mimpi itu, sang leluhur berpesan sederhana: ‘degno omahku’ yang dalam bahasa Jawa berarti ‘perbaikilah rumahku’.

Keesokan harinya, Pak Sukarto  mengikuti petunjuk dalam mimpinya. Ia menuju gundukan tanah di dekat punden dusun, sebuah lokasi yang selama ini dianggap keramat oleh warga setempat karena ditumbuhi dua pohon besar, pohon nangka dan pohon spreh, sejenis pohon yang perawakannya mirip beringin. Di bawah kedua pohon ini terdapat altar batu andesit yang bisa dipakai warga untuk menaruh sesaji.

Dengan penggalian sederhana sedalam sekitar satu setengah meter, Pak Sukarto menemukan sesuatu yan mengejutkan: sebuah batu besar dalam posisi miring. Tak lama kemudian, Lurah Wonorejo dan Lurah Kuncen ikut turun tangan mendukung panggilan berlanjut. Dari situlah berita tentang keberadaan candi di Dusun Santan mulai menyebar dari mulut ke mulut.

Kisah ini menarik bukan hanya karena unsur mistisnya, melainkan karena ia mencerminkan bagaimana masyarakat lokal justru menjadi pelindung pertama warisan budaya, jauh sebelum institusi negara hadir. Warga Dusun Santan tidak mengenali dengan maksut menjarah atau mencari harta. Mereka mengenali karena merasa ada ikatan batin dengan tanah yang mereka pijak setiap hari.

Apa yang Tersimpan di Sini: Membaca Jejak Peradaban Hindu

Ketika para arkeolog dari Dinas Suaka Purbakala Jawa Timur akhirnya riba pada 16 Maret 1996 dan kemudia Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur melanjutkan penelitian sekaligus pemugaran pada 1997 hingga 1998, gambaran yang lebih utuh tentang Candi Wonorejo mulai terbentuk.

Candi ini dibangun dari susunan batu bata merah berukuran cukup besar, sekitar 30 cm panjang, 20 cm lebar, dan 8 cm tebal. Luas denah bangunan nya mencapai 14 x 14 meter dengan tiga undakan atau teras  yang tersusun dari bawah ke atas. Menghadap ke arah barat, orientasi ini sejalan dengan tradisi bangunan suci Hindu di banyak wilayah Nusantara.

Yang paling menarik perhatian dari situs ini adalah keberadaan Lingga dan Yoni di bagian tengah atas bangunan. Lingga yang terbuat dari batu andesit memiliki tinggi 70 sentimeter dan lebar 31 sentimeter, sementara Yoni-nya berukuran lebih besar: panjang 163 sentimeter, lebar 120 sentimeter, dan tinggi 92 sentimeter. Berat keduanya diperkirakan mencapai sekitar 2.000 kilogram. Ceratan Yoni menghadap ke arah utara, dan posisi ini memiliki makna simbolis yang spesifik dalam kosmologi Hindu.

Yang membuat Candi Wonorejo istimewa di antara situs-situs sejenis adalah kondisi Lingga yang masih utuh. Dalam banyak temuan arkeologis di Jawa, lingga sering kali sudah tidak ditemukan di tempat asalnya, entah dipindahkan, rusak, atau bahkan sengaja dihancurkan. Di sini, lingga masih berdiri di atas yoni-nya, dan yang lebih mengagumkan, permukaan lingga tersebut menampilkan pahatan simbol yang dalam tradisi Hindu disebut sebagai sahasralinga atau seribu kepala Siwa. Ini menjadikannya sebagai Lingga Sejati dalam terminologi ritualistik Hindu, bukan sekadar simbol generik.

Di keempat sudut bangunan masih dapat dijumpai umpak-umpak batu, yaitu batu pondasi yang dahulu berfungsi sebagai penyangga tiang. Ini memberi petunjuk bahwa di masa lampau, bagian atas bangunan kemungkinan besar dilindungi oleh atap yang terbuat dari material organik seperti kayu, bukan batu seperti pada candi-candi besar di Prambanan atau Borobudur. Dengan demikian, Candi Wonorejo lebih tepat dipahami sebagai bangunan altar atau pelinggih terbuka dengan atap kayu, bukan candi berbadan penuh.

Dari sisi kronologi, situs ini diperkirakan berasal dari masa yang sejajar dengan kejayaan Kerajaan Majapahit, meskipun penentuan usia yang lebih presisi tentu membutuhkan kajian arkeologis yang lebih mendalam. Konteks peradaban Hindu di kawasan Madiun juga diperkuat oleh catatan dalam Naskah Bujangga Manik, sebuah manuskrip Sunda dari abad ke-15 yang menyebut nama-nama wilayah di jalur perjalanan menuju Jawa Timur, termasuk kawasan yang secara geografis mencakup Madiun dan sekitarnya.

Kondisi Hari Ini: Antara Pelestarian dan Pengabaian

Ketika saya datang ke tempat ini, hal pertama yang saya lihat adalah pagar pembatas dan bangunan pelindung yang sudah ada, yang merupakan hasil renovasi di akhir tahun 1990-an. Keberadaan infrastruktur pelindung ini patut diapresiasi. Negara, dalam hal ini lewat Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, sudah ada dan telah memberikan bukti yang jelas.

Tapi di luar pagar itu, ada pertanyaan sulit yang tidak mudah dijawab dengan positif: seberapa banyak orang Madiun yang tahu bahwa tempat ini ada? Dalam beberapa pembicaraan yang saya lakukan dengan orang-orang di kota Madiun, banyak yang menjawab tidak tahu atau hanya pernah mendengar sedikit. Sebenarnya, situs ini bisa diakses oleh siapa saja dan tidak mengenakan biaya untuk masuk.

Informasi yang ada di tempat itu juga masih sangat sedikit. Tidak ada papan informasi yang cukup baik untuk menjelaskan kepada pengunjung biasa mengenai konteks sejarah, arti simbolik lingga yoni, atau hubungannya dengan peradaban yang lebih besar. Untuk pengunjung yang datang tanpa pengetahuan sebelumnya, tempat ini mungkin hanya terlihat seperti sekumpulan batu merah yang dikelilingi pagar. Sebenarnya, di balik batu-batu itu terdapat lapisan cerita yang jauh lebih mendalam.

Kondisi ini menunjukkan adanya masalah yang lebih besar dalam pengelolaan warisan budaya di Indonesia: anggaran untuk pemugaran tersedia, namun program pendidikan untuk masyarakat dan penjelasan tentang budaya sering kali kurang diperhatikan. Sebuah lokasi bisa direnovasi secara fisik, tetapi tetap “mati” dari segi sosial jika masyarakat di sekitarnya tidak dilibatkan dalam cerita dan pemeliharaannya.

Mengapa Ini Penting: Identitas, Memori, dan Masa Depan

Sering kali muncul argumen saat membahas pelestarian situs-situs kecil seperti ini: ada Borobudur, ada Prambanan, ada Trowulan, jadi mengapa harus repot-repot memikirkan candi kecil yang tidak terlalu mengesankan?

Argumen tersebut, walaupun terdengar praktis, sebenarnya memiliki kesalahan yang mendasar. Sebuah peradaban tidak hanya dibangun dari bangunan-bangunan besar yang menjadi kebanggaan bangsa. Ia juga terdiri dari ribuan titik kecil yang ada di seluruh daerah, mulai dari candi-candi di desa, altar sesaji di tepi jalan, hingga gundukan tanah yang ditumbuhi pohon-pohon tua. Titik-titik kecil ini lah yang membuat tekstur dari peradaban yang sebenarnya.

Candi Wonorejo adalah bagian dari rangkaian sejarah panjang peradaban Hindu-Buddha di Jawa yang telah menghubungkan komunitas-komunitas lokal dengan alam semesta mereka selama berabad-abad. Keberadaannya menunjukkan bahwa Madiun bukan pinggiran sejarah. Ia merupakan bagian dari peta besar kebudayaan Nusantara.

Selain itu, situs seperti ini memiliki kemampuan yang besar untuk menjadi tempat berbicara antara generasi yang berbeda. Saat seorang anak dari Dusun Santan melihat lingga yoni yang pernah dihormati oleh nenek moyangnya, ia sedang memahami sesuatu yang lebih dalam dari sekadar benda bersejarah: ia sedang belajar tentang siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan perjalanan hidup apa yang ia jalani bersama.

Di zaman sekarang, saat identitas lokal semakin hilang karena pengaruh globalisasi dan budaya digital yang seragam, tempat-tempat seperti Candi Wonorejo bisa menjadi tempat yang penting untuk menjaga warisan tersebut. Bukan hanya tentang kenangan yang kaku, tetapi sebagai dasar untuk memahami betapa dalam dan beragamnya identitas yang kita miliki.

Apa yang Harus Dilakukan: Tawaran Pikiran, Bukan Klaim Solusi

Saya bukan seorang arkeolog, bukan juga seorang akademisi, dan bukan pegawai di dinas kebudayaan. Saya hanya orang biasa yang datang ke situs ini karena penasaran dan pulang dengan rasa tanggung jawab yang semakin besar. Jadi, tulisan ini tidak bertujuan untuk memberikan resep, tetapi mengajak kita untuk berpikir bersama.

Pertama, pendidikan untuk masyarakat harus menjadi prioritas yang sama pentingnya dengan perbaikan fisik. Papan informasi yang jelas, panduan kunjungan yang cocok untuk semua umur, dan program kunjungan sekolah yang terencana bisa menjadi langkah awal yang tidak terlalu mahal tetapi sangat berpengaruh.

Kedua, masyarakat setempat, khususnya komunitas Dusun Santan dan Desa Wonorejo, harus dilibatkan sebagai mitra penting, bukan hanya sebagai penjaga tiket atau petugas kebersihan. Mereka adalah pewaris langsung dari sejarah ini. Pengetahuan lokal mereka tentang tradisi lisan, upacara, dan ingatan bersama dapat menjadi sumber informasi yang sangat berharga untuk penelitian di masa depan.

Ketiga, Pemerintah Kabupaten Madiun harus menggabungkan Candi Wonorejo ke dalam cerita identitas daerah yang lebih kuat. Bukan hanya sekadar pelengkap brosur wisata, tetapi sebagai bagian dari identitas Madiun yang harus dibanggakan dan dilestarikan. Ini tentu saja membutuhkan dana, tetapi yang lebih penting, memerlukan kemauan politik dan kesadaran bahwa warisan budaya adalah investasi untuk jangka panjang, bukan beban.

Keempat, kerja sama dengan universitas, komunitas sejarah, dan lembaga penelitian harus diperluas. Madiun memiliki potensi untuk menjadi pusat penelitian sejarah klasik Nusantara yang belum sepenuhnya ditemukan. Jika dikelola dengan baik, tempat-tempat seperti Candi Wonorejo dapat menarik minat para peneliti, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Batu Tua, Tanggung Jawab Baru

Saya melihat lagi lingga yoni itu sebelum saya pulang. Batu andesit yang beratnya dua ton itu berdiri dengan tenang, tidak meminta apa-apa, dan tidak mengeluh meskipun sudah lama diabaikan. Ia hanya ada, seolah-olah ia sudah ada selama berabad-abad.

Tetapi kita yang hidup saat ini memiliki pilihan yang tidak dimiliki oleh batu itu. Kita bisa memutuskan untuk terus berjalan tanpa melihat ke belakang. Atau kita bisa memilih untuk berhenti sejenak, melihat sekitar, dan bertanya pada diri sendiri: apa yang akan kita wariskan untuk generasi yang akan datang setelah kita?

Candi Wonorejo tidak butuh kita untuk bertahan. Ia telah menunjukkan kemampuannya, terpendam dalam tanah selama ratusan tahun dan masih bisa bertahan. Yang membutuhkan Candi Wonorejo, justru adalah kita. Kita perlu mengingat bahwa kita bukanlah generasi pertama yang menginjakkan kaki di bumi ini, dan semoga kita juga bukan generasi terakhir yang masih peduli. Warisan budaya bukan monumen kematian. Ini adalah surat dari masa lalu untuk masa depan. Dan sekarang, surat itu sedang menunggu untuk dibaca.

Daftar Pustaka:

Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur. (1997-1998). Laporan Penelitian dan        Pemugaran Situs Candi Wonorejo, Desa Wonorejo, Kecamatan Mejayan, Kabupaten        Madiun. Dinas Suaka Purbakala Jawa Timur.

Budaya Indonesia. (t.t.). Candi Wonorejo. Diakses dari https://budaya-indonesia.org/Candi        Wonorejo

Detik.com. (2018, 9 Maret). Di Madiun, Ada Candi yang Simpan Lambang Alat Kelamin.        Diakses dari https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3906980

INCAR Jawa Timur. (t.t.). Candi Wonorejo. Inventarisasi Cagar Budaya. Pemerintah Provinsi        Jawa Timur. Diakses dari https://incar.jatimprov.go.id/jenis        cb/struktur/detail/0fa48a41

Jatim Network / Malang Network. (2023, 10 September). Peninggalan Kerajaan Majapahit,        Candi Wonorejo di Madiun yang Menyimpan Arca Simbol Kesuburan. Diakses dari        https://malang.jatimnetwork.com/nasional/37910108051

Madu.tv. (2023, 28 September). Situs Peninggalan Zaman Kerajaan. Diakses dari        https://madu.tv/situs-peninggalan-zaman-kerajaan/

Sigarda Indonesia. (2021, September). Menelisik Candi Wonorejo di Mejayan. Komunitas        Pegiat Budaya. Diakses dari https://www.sigardaindonesia.org/2021/09/menelisik        candi-wonorejo-di-mejayan.html

Tabooo.id. (2026, 7 Februari). Candi Wonorejo: Dari Punden Sunyi ke Jejak Peradaban        Hindu di Madiun. Diakses dari https://tabooo.id/candi-wonorejo-dari-punden-sunyi        ke-jejak-peradaban-hindu-di-madiun/

Yawarman, A. (2016, 10 September). Candi Wonorejo. My Story and History. Diakses dari        https://andrikyawarman.wordpress.com/2016/09/10/candi-wonorejo/

Dokumentasi pribadi penulis: Kunjungan lapangan ke Situs Candi Wonorejo, Dusun Santan,        Desa Wonorejo, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Foto, catatan lapangan, dan        wawancara informal dengan warga setempat.

Oleh: Aurel Elsa Athalia (Universitas Brawijaya)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top