“Mengenal Sejarah Malang Tahun 935 M Melalui Batik Tulis Bunulrejo”

(Sumber Peneliti, 2026)

Letak dan Lokasi Strategis Kampung Batik Bunulrejo

Kampung Wisata Batik Bunulrejo terletak di Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Sentra kreativitas ini berpusat di kawasan Kampung Edukasi RW 10. Lokasinya sangat strategis karena berada di tengah perkotaan Malang, sehingga mudah diakses oleh publik. Kawasan wisata edukasi ini didominasi oleh pemukiman urban yang asri dan rapi. Di sepanjang koridor kampung, tampak atmosfer edukasi budaya melalui keberadaan galeri mini pameran produk asli warga. Perpaduan fungsi wilayah sebagai basis produksi usaha mikro (UMKM) batik tulis bernilai seni tinggi sekaligus destinasi eduwisata interaktif menjadi nilai tawar yang kompetitif. Potensi sosiokultural ini akan memberikan dampak peningkatan ekonomi yang optimal jika ditopang oleh perluasan jaringan pasar serta penyediaan sistem informasi digital yang terintegrasi.

Sejarah dan Akar Kuno Prasasti Bunulrejo

Industri batik di Kelurahan Bunulrejo dikelola secara aktif dan terstruktur sekitar tahun 2019 melalui pemenuhan fasilitas oleh pihak kelurahan. Sebelum dikelola secara aktif, aktivitas membatik masih dikerjakan di waktu tertentu dan secara perorangan bukan kelompok. Khusus untuk pengrajin di Kampung Edukasi RW 10, kegiatan memproduksi batik tulis mulai berkembang pesat sejak tahun 2020. Lahirnya motif batik di sentra ini memiliki akar sosiokultural yang kuat dari sejarah kuno wilayah setempat. Sejarah panjang kawasan ini terlacak melalui penemuan arkeologis berupa arca Ganesha purbakala di Museum Mpu Purwa, serta catatan resmi dalam Prasasti Bunulrejo bertarikh tahun 935 Masehi. Dalam prasasti tersebut, Bunulrejo diidentifikasi sebagai daerah perdikan (tanah suci) yang dibebaskan dari pungutan pajak oleh penguasa zaman dahulu. Fakta sejarah luhur inilah yang diinterpretasikan kembali oleh para perajin lokal ke dalam pola sehelai kain batik.

Segmentasi Pembeli dan Jaringan Distribusi Karya Kreatif

Struktur pasar industri batik Bunulrejo saat ini mencakup instansi pemerintahan, pembeli perorangan pencinta budaya tradisional, serta pasar pariwisata regional Malang Raya. Kegiatan pemasaran batik banyak diikutsertakan dalam kegiatan pameran, festival kebudayaan, serta promosi mandiri melalui platform digital. Proses pembuatan batik berfokus pada pengembangan motif khas yang diidentifikasi melalui sejarah lokal masing-masing wilayah rukun warga (RW).

Pengembangan motif berbasis sejarah lokal ini menjadi strategi produk, agar para perajin tidak terjebak dengan harga dan kain cetak pabrikan. Kelurahan Bunulrejo memiliki keragaman identitas visual komunal: contohnya RW 07 dengan motif Klampisan, RW 12 dengan Batik Kantil, dan RW 08 dengan Batik Niati. Khusus untuk Kampung Edukasi RW 10, motif unggulannya adalah Batik Tirto Telogo. Nama ini diambil dari sejarah kawasan pemujaan kuno Bunulrejo yang dikisahkan memiliki sebuah telaga suci berair jernih. Penggubahan simbol riak air telaga, teratai, dan arca Ganesha ini menghasilkan produk wastra yang membawa narasi edukasi sejarah yang otentik.

Proses Pembuatan Seni Wastra Tradisional

Berdasarkan data dokumentasi dari proses membatik, pembuatan sehelai kain batik tulis autentik di Bunulrejo membutuhkan waktu yang panjang dan ketelatenan fisik yang luar biasa. Untuk menyelesaikan satu lembar kain utuh, waktu yang dihabiskan bisa memakan waktu berminggu-minggu, bergantung pada tingkat kerumitan motif. Para perajin di Kampung Edukasi RW 10 melalui tahapan berikut:

  1. Mendesain (Ngelowong): Menggambar sketsa pola Prasasti Bunulrejo di atas lembaran kain katun primisima.
  2. Mencanting: Menorehkan cairan malam panas secara hati-hati menggunakan alat canting tradisional mengikuti jalur pola desain.
  3. Pewarnaan: Mengaplikasikan warna pada kain baik metode colet maupun teknik celup menggunakan bubuk pewarna sintetis berjenis Remasol.
  4. Fiksasi: Mengontrol kekuatan warna agar awet dengan merendam kain ke dalam cairan natrium silikat (waterglass).
  5. Pelorotan (Nglolor): Merebus kain di dalam bak air mendidih untuk melarutkan seluruh lilin malam yang menempel pada kain.
  6. Pengeringan: Menjemur kain batik dengan metode diangin-anginkan di area yang teduh tanpa terpapar sinar matahari langsung.

Tantangan Ekonomi dan Krisis Regenerasi SDM

Ketergantungan proses produksi batik tulis pada pengerjaan manual membuat biaya operasional perajin relatif tinggi. Margin keuntungan dari penjualan kain batik tulis tradisional ini rentan terhadap fluktuasi harga bahan baku pokok di pasar, seperti kain katun dan malam, serta biaya logistik akibat perubahan harga BBM. Kenaikan harga sekecil apa pun di tingkat retail berisiko menggeser keputusan pembelian konsumen ke produk alternatif cetakan pabrik yang jauh lebih murah.

Tantangan terbesar yang dihadapi komunitas di lapangan saat ini adalah krisis regenerasi Sumber Daya Manusia (SDM). Roda produksi sebagian besar masih digerakkan secara swadaya oleh kaum perempuan paruh baya atau para ibu rumah tangga kader PKK. Keterlibatan aktif generasi muda dalam mendalami teknik membatik tradisional dinilai masih sangat minim. Membatik seringkali dipandang secara keliru oleh anak muda sebagai pekerjaan kuno yang rumit dan menjemukan. Apabila tantangan krisis regenerasi ini tidak segera diatasi, keberlanjutan industri batik tulis yang sarat akan nilai kearifan sejarah lokal ini terancam punah di masa depan.

Modernisasi di Berbagai Wilayah dan Komparasi Pelestarian Batik Bunulrejo

Tantangan modernisasi budaya tradisional dihadapi oleh hampir seluruh sentra batik di Indonesia. Berdasarkan ulasan dari Indonesia Kaya, keberlanjutan kain tradisional di berbagai wilayah, seperti pada industri Batik Solo, sangat bergantung pada adaptasi warisan masa lalu ke dalam industri kreatif modern. Di Solo, perajin mampu mentransformasikan kain yang dulunya terikat pakem feodal keraton menjadi komoditas ekonomi yang dinamis. Sentra industri di Solo sukses melakukan modernisasi melalui diferensiasi produk fashion casual siap pakai, serta integrasi pemasaran digital yang kuat, sehingga mampu menarik minat generasi muda sebagai pelaku maupun konsumen aktif industri kreatif budaya.

Di sisi lain. Komunitas perajin di Kelurahan Bunulrejo sebenarnya telah memulai langkah adaptif serupa melalui pemanfaatan platform Instagram, TikTok, dan YouTube untuk promosi, serta membangun hubungan kerja dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang. Namun, penguatan manajemen sistem pemasaran digital yang dikelola secara profesional di Bunulrejo mutlak diperlukan agar aktivitas ekonomi tidak bersifat sesaat. Modernisasi tersebut dapat dipromosikan secara kreatif dengan mengaplikasikan motif sejarah Tirto Telogo ke dalam berbagai variasi produk  fashion casual, kemeja kerja, tas aesthetic, hijab, dan kain ikat kepala modern (udeng). Pembukaan kelas workshop interaktif (batik experience) bagi wisatawan juga harus terus dikelola secara masif sebagai daya tarik eduwisata. Dukungan kebijakan dari pemerintah daerah akan membantu warisan sejarah dari Prasasti Bunulrejo ini bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang tangguh dan adaptif di tengah modernisasi zaman.

Daftar Pustaka:

Indonesia Kaya. (2021, Oktober 2). Perjalanan batik solo: Warisan keraton dalam industri   kreatif. Diakses dari https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/perjalanan-batik-solo-warisan-keraton-dalam-industri-kreatif/

Narasumber Perajin Batik Bunulrejo. (2026, Mei 13). Wawancara mengenai sejarah prasasti kuno 935 M, filosofi motif Tirto Telogo, dan tantangan regenerasi SDM [Wawancara langsung]. Kampung Edukasi RW 10 Bunulrejo, Malang.

Oleh: Uzlah Tsabita Kamila (Universitas Brawijaya)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top