“Minuman Tradisional Jamu Identitas Bangsa dan Khasiatnya”

Dalam kehidupan sehari-hari di era ini, sudah seberapa sering kita memesan segelas es kopi untuk menemani di kala tumpukan tugas melanda? Pernahkah terbesit di dalam pikiran bahwa Indonesia juga memiliki minuman yang juga telah mendunia dan bahkan telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan asli Indonesia? Jamu merupakan minuman yang terbuat dari berbagai macam jenis rempah yang berkhasiat bagi tubuh. Menurut Setya & Nurul (2024), kata jamu berasal dari dua suku kata yaitu “Jawa” dan “ngeramu”, yang jika diartikan yaitu ramuan khas yang dibuat oleh orang Jawa. Adapun “djampi” sebagai makna lain dari jamu yang berarti mengobati dengan bahan atau cara herbal.

Minuman jamu sudah ada sejak zaman kerajaan kuno sekitar abad ke-8 Masehi. Novi (2022) menjelaskan bahwa Prasasti Madhawapura yang berasal dari era Kerajaan Majapahit memuat profesi Acaraki atau bisa diartikan sebagai nama lain dari “tukang peracik jamu”. Seiring berjalannya waktu, jamu terus mengalami perkembangan. Kini jamu tersebar dan dapat ditemukan di penjual jamu gendong, di warung, gerobak, bahkan di mobil jamu keliling. Minuman jamu dikenal sebagai minuman yang membawa berbagai khasiat kesehatan bagi tubuh pengonsumsinya. Terdapat berbagai jenis jamu yang tiap jenis racikannya memiliki khasiat tersendiri.

Dilansir dari Dapurumami.com (2025), beberapa nama jamu yang terkenal yaitu beras kencur, kunyit asam, sinom, temulawak, dan kunci suruh. Racikan beras kencur biasa dikonsumsi untuk menambah stamina, menambah nafsu makan, serta menghilangkan rasa pegal di badan. Kunyit asam yang terasa menyegarkan memberi khasiat untuk mencegah peradangan dan meredakan nyeri saat haid karena kaya akan antioksidan. Sinom merupakan versi daun asam muda dan kunyit dari jenis kunyit asam, biasanya dikonsumsi untuk meredakan panas dalam dan melancarkan pencernaan. Ramuan temulawak sering dibuat untuk menjaga fungsi liver agar tetap sehat, meningkatkan sistem imun serta juga dapat menambah nafsu makan. Kunci suruh berasal dari rempah-rempah temu kunci dan daun sirih, khasiatnya untuk merawat kesehatan area kewanitaan dan mengurangi bau badan. Itulah mengapa jamu cenderung lebih banyak dikonsumsi oleh wanita dibanding pria, karena diyakini lebih banyak memberi khasiat kepada wanita seperti yang telah dijelaskan oleh Teti, et al. (2025).

Eksistensi Jamu di Era Globalisasi

Sebagai warga Indonesia, seluruh orang pasti tau atau setidaknya pernah mendengar kata jamu. Di era globalisasi yang serba cepat ini, pergeseran gaya hidup yang ada membuat eksistensi jamu kian memudar. Jamu tak lagi menjadi pilihan utama sebagai obat herbal yang menjaga kesehatan sekaligus minuman yang sehari-hari dikonsumsi, apalagi di kalangan generasi muda. Padahal, jamu bukan hanya sekedar minuman dengan ramuan untuk kesehatan. Jamu merupakan peninggalan warisan dari nenek moyang Bangsa Indonesia dan menjadi instrumen pentingsebagai pembentuk jati diri Bangsa Indonesia. Bahkan, jamu juga sudah terdaftar di UNESCO sebagai salah satu budaya kebanggan Indonesia. Namun, dengan minimnya minat generasi muda terhadap konsumsi jamu, risiko yang mengancam adalah hilangnya kearifan lokal secara perlahan.

Berdasarkan amanat UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, pengetahuan tradisional seperti jamu wajib dilindungi dan dikembangkan. Namun, realita yang terlihat di kehidupan sehari-hari menunjukkan adanya tantangan pelestarian yang nyata.

Dari perspektif generasi muda, yaitu para pelajar dan mahasiswa, menganggap bahwa jamu merupakan minuman kuno yang dianggap ketinggalan zaman. Mereka menganggap bahwa jamu merupakan minuman yang lebih ditujukan kepada generasi yang lebih tua dari mereka. Selain itu, generasi muda lebih memilih rasa manis minuman kekinian atau rasa pahit kopi karena lebih gurih daripada rasa pahit jamu terlepas dari khasiatnya. Walaupun sebagian generasi muda terkadang masih terbesit untuk mengonsumsi jamu hanya bila kesehatan menurun, namun lebih banyak generasi muda yang memilih untuk berobat dengan bahan kimia untuk kesehatan. Dengan semakin terlihatnya dominasi pengobatan modern dan menjamurnya kedai minuman kekinian membuat jamu semakin terpinggirkan dari gaya hidup kaum muda.

Di sisi lain, potret berbeda terlihat di kalangan masyarakat akar rumput. Berdasarkan penelusuran di sekitar Kecamatan Turen, masyarakatnya menyeimbangkan konsumsi antara jamu dan bahan kimia untuk masalah kesehatan. Masyarakat setempat biasa membeli jamu di mobil jamu keliling ataupun di warung sekitar yang jumlahnya memang cukup terbatas, bahkan bisa dibilang sangat sedikit, apalagi jamu gendong yang kian jarang ditemukan. Meskipun tidak dikonsumsi secara rutin, namun masih terlihat adanya konsumsi jamu untuk mengatasi masalah kesehatan tertentu dan ada pula beberapa penyakit tertentu yang memerlukan konsumsi bahan kimia.  Perbedaan yang cukup signifikan antara generasi tua yang masih mempertahankan jamu dan generasi muda yang beralih ke obat kimia apotek ini menunjukkan adanya rantai pewarisan budaya yang terputus.

Lebih lanjut lagi jika dilihat dari perspektif di ruang digital, konten yang memuat tentang jamu pun masih minim. Menurut pandangan beberapa pengguna media sosial yang aktif mengakses informasi digital, terdapat beberapa unggahan mengenai jamu di beberapa platform media sosial yang menampilkan konten jamu yang dikemas dalam berbagai wadah, seperti botol kaca, botol plastik, pouch, bahkan juga terdapat jamu yang sudah dikemas dengan kemasan yang lebih modern dan estetik untuk menarik perhatian para pengguna media sosial. Walaupun begitu, jamu masih jarang diangkat sebagai buah bibir dibandingkan makanan dan minuman kekinian, terutama yang berasal dari luar negeri karena memiliki strategi dan pasar promosi yang lebih kuat dan mudah menjadi trend di media sosial. Dewasa ini, terdapat tren “Back to Nature” di media sosial dirasa cukup membantu untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap jamu karena diharapkan masyarakat akan mulai lebih peduli dengan produk alami. Walaupun pada nyatanya, masyarakat masih cenderung memilih suplemen modern karena dianggap lebih praktis dan dipromosikan dengan baik.

Generasi Muda Harapan Penerus Warisan Budaya Indonesia

Dari realita tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa pudarnya eksistensi jamu bukan semata-mata karena khasiatnya yang kalah dari pengobatan modern, melainkan karena kegagalan kita dalam mengadaptasikan dan mendokumentasikan nilai budaya tersebut ke dalam bahasa dan gaya hidup masa kini. Menjaga kelestarian jamu sebenarnya adalah bentuk nyata dari bela negara non-fisik. Dengan memahami dan mengonsumsi jamu, kita tidak hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga merawat warisan leluhur sebagai dasar dari jati diri bangsa.

Oleh karena itu, upaya pelestarian tidak boleh berhenti pada sebatas bernostalgia saja. Diperlukan beberapa langkah konkret berupa pendokumentasian pengetahuan jamu melalui arsip digital, seperti pengunggahan konten menarik video baik  jenis video pendek maupun berdurasi panjang, artikel ilmiah populer atau kampanye-kampanye lain di media sosial. Selain itu, inovasi pengemasan dan rasa yang lebih ramah di lidah generasi muda juga perlu didorong tanpa menghilangkan esensi khasiatnya. Mari kita kembalikan jamu sebagai kebanggaan dan identitas bangsa, sebelum kearifan lokal ini benar-benar hanya menjadi sejarah yang tersimpan diam di perpustakaan.

Lebih dari sekadar konsumen, generasi muda sebenarnya memegang peran paling krusial sebagai harapan utama penerus warisan budaya ini. Tongkat estafet pelestarian jamu kini sepenuhnya berada di tangan kita. Generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton pasif di tengah gempuran modernisasi, melainkan harus mengambil tanggung jawab moral untuk mengenali, mempelajari, dan bangga akan identitas bangsanya sendiri. Ketika anak muda mulai peduli, aktif mendokumentasikan, dan berani mengintegrasikan jamu ke dalam gaya hidup masa kini, saat itulah kita berhasil menyelamatkan warisan leluhur dari kepunahan sekaligus membuktikan bahwa kearifan lokal mampu berjalan beriringan dengan perkembangan zaman.

Daftar Pustaka:

Pertiwi, A., S. & Hidayat, N. (2024). DIPLOMASI INDONESIA DALAM MEMPERTAHANKAN JAMU SEBAGAI WARISAN BUDAYA NASIONAL. MOESTOPO JOURNAL INTERNATIONAL RELATIONS, 4 (2), 68.

Puspitasari, N. (2022). STUDI ETNOFARMAKOLOGI TUMBUHAN OBAT DI DESA NAMPIREJO KECAMATAN BATANGHARI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR. (Skripsi Sarjana, Universitas Islam Negeri).

Aulia, I., A. (2025). Macam Macam Jamu Tradisional yang Bermanfaat untuk Tubuh. Diakses pada 6 Juni 2026: https://www.dapurumami.com/artikel-tips/macam-macam-jamu-tradisional-dan-manfaatnya

Estiasih, T., et al. (2025). Indonesian Traditional Herbal Drinks: Diversity, Processing, And Health Benefts. Journal of Ethnic Foods, 12 (7), 1.

Oleh: Fidella Geanova Gadizvania (Universitas Brawijaya)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top