Sumber gambar : mediaindonesia
Indonesia merupakan negara yang kaya akan warisan budaya, salah satunya adalah pengobatan tradisional berupa jamu. Jamu merupakan minuman herbal berbahan alami, seperti rempah-rempah, yang berakar dari budaya Jawa dan telah diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad. Di tengah arus modernisasi yang semakin pesat, eksistensi jamu tradisional di Kota Malang menghadapi berbagai tantangan sekaligus peluang untuk tetap bertahan dan berkembang di masyarakat modern.
Pengetahuan Lokal dan Jamu Tradisional
Minuman Jamu merupakan salah satu bukti bahwa masyarakat Jawa kuno telah mengenal obat tradisional sebagai komponen penting dalam bidang kesehatan. Pengetahuan yang berkaitan dengan ilmu-ilmu kesehatan terlihat pada masa klasik, yaitu pada periode Kerajaan Hindu dan Buddha di Indonesia. Hal tersebut dapat diketahui dari data-data arkeologi yang dikumpulkan menunjukkan bahwa masyarakat Jawa kuno telah melakukan pembagian pekerjaan dalam bidang kesehatan. Dari relief yang terletak di Candi Borobudur yang menceritakan beberapa peristiwa yang menceritakan pertolongan kepada orang yang sakit. Pengetahuan itu berkembang hingga wilayah Jawa Timur dan menjadi sebuah profesi yaitu peracik jamu.
Kearifan lokal memiliki kandungan nilai yang dipertahankan dan diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya, serta dipandang memiliki manfaat bagi sekelompok orang yang menjadikannya sebagai suatu pedoman dalam bermasyarakat. Sehingga kearifan lokal merupakan salah satu cara yang digunakan oleh kelompok masyarakat dalam menghadapi dan memecahkan permasalahan secara arif yang didukung oleh bukti lisan, tulisan, maupun kebendaan. Keberadaan jamu sebagai minuman kesehatan menjadi salah satu bukti bahwa masyarakat pada masa Kerajaan Hindu dan Buddha telah memiliki perkembangan ilmu pengetahuan yang cukup maju, terutama di bidang kesehatan dan pengolahan bahan alam. Masyarakat pada masa itu mampu memanfaatkan berbagai tanaman di sekitarnya untuk diolah menjadi minuman herbal yang dipercaya dapat membantu menjaga kesehatan dan mengobati penyakit. Tradisi mengonsumsi jamu pun terus diwariskan dan dilestarikan hingga sekarang dengan menyesuaikan perkembangan zaman. Upaya tersebut dilakukan agar jamu tetap dapat diterima, dinikmati, dan bertahan di tengah seluruh lapisan masyarakat dalam jangka panjang.
Modernisasi dan Dampaknya terhadap Penjualan Jamu
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu penjual jamu di lingkungan Universitas Brawijaya, modernisasi tidak selalu memberikan dampak negatif terhadap penjualan jamu tradisional. Penjual jamu yang telah berjualan selama 24 tahun tersebut menyatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir penjualan justru mengalami peningkatan, terutama dari kalangan mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa di tengah berkembangnya minuman modern, jamu masih memiliki tempat di masyarakat. Jenis jamu yang paling sering dikonsumsi mahasiswa adalah kunyit asam dan beras kencur. Menurut penjual jamu, banyak mahasiswa menilai bahwa jamu memiliki khasiat yang lebih alami serta tidak menimbulkan efek samping seperti produk kesehatan berbahan kimia. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya minuman herbal tradisional mulai meningkat meskipun berada di tengah arus modernisasi.
Persepsi Mahasiswa terhadap Eksistensi Jamu
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu mahasiswa Universitas Brawijaya, “Konsumsi jamu tradisional masih dilakukan meskipun tidak sesering dahulu. Narasumber mengaku biasanya mengonsumsi jamu ketika sedang mengalami menstruasi atau saat kondisi tubuh terasa kurang sehat, seperti ketika mengalami panas dalam” (Rahma Salsabilla, 19 tahun). Jenis jamu yang paling sering dikonsumsi adalah kunyit asam karena dipercaya dapat membantu memperlancar menstruasi dan menjaga kesehatan tubuh. Menurut narasumber, alasan utama masih memilih jamu tradisional adalah karena khasiatnya yang dianggap bermanfaat bagi kesehatan dan daya tahan tubuh.
Di sisi lain, modernisasi memberikan pengaruh besar terhadap kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi jamu. Narasumber menyebutkan bahwa dahulu masyarakat lebih sering membeli jamu dari penjual keliling atau penjual jamu yang mangkal di suatu tempat. Namun, seiring perkembangan zaman, kehadiran jamu kemasan modern seperti Kiranti yang mudah ditemukan di minimarket membuat pola konsumsi masyarakat berubah menjadi lebih praktis. Bahkan, masyarakat kini mulai lebih sering memilih minuman modern dibandingkan jamu tradisional. Meski demikian, narasumber menilai bahwa jamu masih relevan bagi sebagian masyarakat Kota Malang, terutama bagi mereka yang masih mempercayai manfaat dan khasiatnya bagi kesehatan.
Upaya Pelestarian Konsumsi Jamu di Kota Malang
Upaya pelestarian konsumsi jamu di Kota Malang dapat dilakukan melalui berbagai cara, baik oleh masyarakat, pelaku usaha, maupun pemerintah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengenalkan kembali manfaat jamu kepada generasi muda melalui edukasi dan promosi di media sosial. Selain itu, inovasi dalam bentuk kemasan dan variasi rasa juga diperlukan agar jamu lebih menarik dan sesuai dengan selera masyarakat modern. Kehadiran jamu dalam bentuk praktis dan mudah diperoleh di minimarket maupun kafe herbal menjadi salah satu cara agar konsumsi jamu tetap diminati. Tidak hanya itu, pelestarian budaya minum jamu juga dapat dilakukan melalui festival budaya, bazar UMKM, serta dukungan terhadap penjual jamu tradisional di Kota Malang. Dengan adanya upaya tersebut, jamu tidak hanya dipandang sebagai minuman tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan lokal dan warisan budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya.
Oleh: Redya Ifta Fanisa (Universitas Brawijaya)




