Pada era ketika globalisasi digital berkembang sangat pesat, Generasi Z hidup dalam kebudayaan yang berubah secepat informasi di media sosial. Tren muncul dan lenyap dalam sekejap. TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts kini bukan sekadar platform hiburan, melainkan “panggung utama” yang menunjukkan tolok ukur popularitas dan relevansi budaya. Apa yang viral hari ini bisa jadi sudah usang keesokan harinya.
Dalam dunia yang bergerak cepat ini, kebudayaan lokal sering kali berada di posisi yang kurang diunggulkan. Tarian tradisional, misalnya, kerap dianggap kaku, formal, dan sesungguhnya kurang menarik. Persepsi ini muncul bukan tanpa alasan. Terdapat jurang perbedaan estetika dan bahasa antara cara tradisional menampilkan tari dan cara Generasi Z mengonsumsi media yang lebih visual, cepat, serta interaktif. Penari K-pop dengan gerakan energik atau tantangan tari yang viral tampak lebih cocok dengan jati diri masa kini mereka.
Akibatnya, tarian tradisional sering dianggap sebagai warisan yang “perlu dijaga”, namun jarang dirasakan sebagai sesuatu yang bisa dinikmati, diadaptasi, dan terlebih dibanggakan. Hal ini menimbulkan krisis identitas tersembunyi: apakah warisan leluhur masih punya tempat di kehidupan anak muda sekarang?
Sebuah Kesalahpahaman: Gen Z dan Asal Usul Budaya
Banyak orang percaya bahwa Generasi Z menolak tradisi, pandangan ini sama sekali tidak benar. Realitanya sangat berbeda dari itu. Generasi ini sangat menghargai keaslian, keunikan, dan identitas yang kuat. Mereka merasa bosan dengan tren dunia yang seragam. Munculnya tren fashion berkain, kesukaan terhadap musik etnik yang di-remix, dan ratusan juta konten budaya lokal di TikTok menunjukkan bahwa generasi muda sebenarnya mencari ikatan dengan akar budaya mereka.
Permasalahannya bukanlah pada inti dari budaya tradisional, tetapi lebih pada cara budaya itu disampaikan. Di sini, konsep glokalisasi berperan penting. Glokalisasi bukanlah pengurangan kedalaman budaya, melainkan pendekatan cerdas yang menggabungkan konten lokal dengan cara pandang global untuk tetap relevan tanpa kehilangan esensinya.
Menganalisis Transformasi Tari Sekar Lodra di Era Digital
Mari kita lihat Tari Sekar Lodra. Jika ditampilkan dengan cara tradisional yang berdurasi panjang di panggung formal, audiens muda bisa jadi kehilangan minat. Namun, bagaimana jika kesenian ini diadaptasi sesuai preferensi mereka?
Glokalisasi Sekar Lodra berarti menjaga nilai-nilai filosofis dan unsur-unsur inti tarian tersebut, namun disajikan dengan sentuhan keindahan digital. Rangkaian gerakan spesifik yang jelas dan menarik dibuat menjadi video pendek berkualitas tinggi, dipadukan dengan musik modern yang tetap menggunakan instrumen tradisional (gamelan), dan ditampilkan melalui penyuntingan yang dinamis.
Ini bukanlah sekadar gagasan. Sejumlah riset, seperti studi tentang pelestarian budaya Batak di TikTok dan inisiatif UNESCO di Yogyakarta serta Jawa Tengah, menunjukkan bahwa media sosial dan film pendek adalah cara yang sangat ampuh untuk mengajarkan dan memperkenalkan budaya kepada kalangan muda. Media sosial kini berubah dari ancaman menjadi wadah dialog budaya, di mana generasi Z mampu menyelaraskan nilai-nilai lama dengan unsur-unsaman baru. Mereka kini tidak hanya menjadi penonton semata, tapi justru menjadi aktor budaya yang menghasilkan kreasi konten mereka sendiri.
Kritik terhadap ‘Fosilisasi Digital’ dan Pentingnya Batas Kreativitas
Meskipun banyak kesempatan tersedia, ada satu aspek yang layak mendapat perhatian kritis: inovasi harus tetap mengutamakan akar budaya. Kita harus mewaspadai bahaya “fosilisasi digital,” yaitu saat warisan budaya hanya dilihat sebagai tampilan estetis dan tren sesaat demi popularitas dan viralitas, tanpa pemahaman mendalam tentang makna filosofisnya.
Ketika Sekar Lodra mengalami glokalisasi, inovasi harus memiliki batasan yang jelas. Kreativitas senantiasa harus diiringi dengan penghormatan terhadap sejarah dan norma yang berlaku. Di sinilah kolaborasi menjadi sangat krusial. Generasi Z menjadi penggerak utama kreativitas digital, namun komunitas seniman dan praktisi seni tradisional adalah penjaga keaslian budaya. Sinergi di antara keduanya akan menghasilkan bentuk pelestarian budaya yang bersifat hibrida: tampilan modern, namun tetap berakar pada nilai-nilai yang kuat.
Sekar Lodra Sebagai Simbol Gaya Hidup Kontemporer
Pada akhirnya, ini bukan hanya soal satu jenis tari atau satu jenis konten. Ini menyangkut tentang jati diri kebudayaan negara kita. Jika generasi muda terus menerus mengikuti kebudayaan asing tanpa pertimbangan matang, maka jati diri bangsa akan terancam. Sebaliknya, jika kebudayaan lokal bisa bertransformasi menjadi modern dan membanggakan, maka rasa bangga kebudayaan akan semakin kukuh.
Dalam kerangka Pancasila, menghidupkan kembali Tari Sekar Lodra dengan pendekatan ini adalah perwujudan nyata Sila Ketiga, Persatuan Indonesia. Kebudayaan tradisional berfungsi sebagai lambang identitas bersama yang menyatukan, serta menjaga keberlangsungan karakter bangsa di tengah dunia yang semakin menyatu.
Menyukai kebudayaan tradisional saat ini bukanlah indikasi kemunduran. Di tengah keseragaman global, identitas lokal adalah sesuatu yang sangat berharga. Sekar Lodra menunjukkan bahwa tradisi tidak harus tampak usang. Dengan kreasi yang tepat, tari tradisional bisa menjadi simbol gaya hidup baru yang otentik dan kekinian. Generasi Z tidak sedang menghancurkan tradisi. Mereka sedang membangkitkannya kembali. Melalui cara ini, Sekar Lodra bukan sekedar sesuatu yang “kuno”, melainkan sudah resmi menjadi sesuatu yang menarik dan baru.
Daftar Pustaka:
Yogyakarta and Central Java Youth Lead the Way in Safeguarding
Digital Literacy and Cultural Expression: How TikTok Reimagines Traditional Dance | Putri | International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding
Community-engaged digital safeguarding of intangible cultural heritage: a review of methods and challenges | npj Heritage Science
Oleh: Adisty Ayu Nur Tsania (Universitas Brawijaya)




