Malang 1 Juni 2026 — Deretan bangunan kolonial di Kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang, ternyata bisa jadi buku pelajaran hidup. Bukan buat mata pelajaran sejarah, tapi buat siswa jurusan Desain Mode SMKN 3 Kota Malang yang belajar merancang wastra alias kain tradisional.
Riset ini dipimpin Raisha Hafandi, dosen Departemen Hukum dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang (UM), bersama tim yang terdiri dari Andhika Yudha Pratama, Dini Putri Ratna Meritasari, Inka Dwi Lestari, Primasa Minerva Nagari, dan Annisya.
Enam Ciri Khas yang Ditemukan di Sepanjang Koridor
Timnya turun langsung ke koridor Kayutangan, memotret fasad bergaya art deco dan indis, ornamen dekoratif, jendela kisi-kisi, sampai papan nama toko lawas. Dari situ ditemukan enam ciri visual khas kawasan itu, dan yang paling gampang diolah jadi motif kain ternyata pola-pola geometris pada jendela dan pagar besi tempa, karena bentuknya sudah mirip logika motif tekstil: berulang dan simetris.
Tujuh Langkah Mengubah Gedung Tua Jadi Motif Kain
Siswa lalu diajak melewati tujuh tahap membuat motif, mulai dari memotret dan memilih elemen bangunan, menyederhanakan bentuknya, sampai menyusun komposisi dan warna. Menariknya, siswa yang berhasil bikin motif paling bagus bukan yang menyederhanakan bentuk sesedikit mungkin, melainkan yang jeli menangkap ciri paling khas dari bangunan aslinya lalu mempertahankannya walau bentuknya sudah disederhanakan habis-habisan.
Bukan Cuma Bikin Kain, Tapi Juga Mengasah Nalar
Proses ini sekaligus melatih siswa berpikir tingkat tinggi: menganalisis bentuk bangunan, menimbang-nimbang pilihan desain, sampai akhirnya menciptakan karya orisinal. Kata lain, bikin motif kain dari gedung tua ternyata bukan cuma soal seni, tapi juga soal mengasah nalar.
Riset ini membuktikan satu hal sederhana: bangunan tua yang selama ini cuma dilihat sebagai objek foto atau cagar budaya, ternyata bisa jadi sumber belajar yang hidup di ruang kelas.
Nyambung dengan Agenda Dunia
Upaya ini sejalan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yakni pendidikan berkualitas lewat pembelajaran berbasis proyek dan riset (SDG 4), penguatan keterampilan kerja siswa vokasi untuk industri kreatif (SDG 8), serta pelestarian kawasan bersejarah sebagai bagian dari kota yang berkelanjutan (SDG 11).
Penelitian ini terlaksana atas dukungan pendanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat skema PNBP dari Universitas Negeri Malang. Tim peneliti menyampaikan terima kasih atas kepercayaan dan dukungan yang diberikan.
Sumber foto: SurabayaPagi.com, “Pesona Kayutangan Heritage, Destinasi Wisata Unggulan Kota Malang”,
dipublikasikan 18 September 2025, diakses 22 Agustus 2026,
https://surabayapagi.com/news-262484-pesona-kayutangan-heritage-destinasi-wisata-unggulan-kota-malang




