“Warga Padusan Bakal Diajak “Sekolah Budaya” Biar Wisata Air Panas Tak Kehilangan Makna Aslinya”

Pemandian air panas Padusan di lereng Gunung Welirang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, makin ramai dikunjungi wisatawan. Tapi di balik keramaian itu, ada kekhawatiran yang mengendap: cerita dan kesakralan tempat ini pelan-pelan mulai terlupakan, tergerus jadi sekadar objek jualan.

Riset tim Universitas Negeri Malang (UM) yang dipimpin Dinda Delfina, dosen Departemen Hukum dan Kewarganegaraan UM, mencoba menjawab persoalan itu lewat rancangan “sekolah budaya” bagi warga sekitar hutan, sebuah model pembelajaran yang disebut culture pedagogy.

Ketika Tempat Sakral Berubah Jadi Objek Transaksi

Padusan bukan sekadar kolam air panas. Ada Air Terjun Grenjengan yang dimaknai sebagai sumber air sakral, dan Punden Mbah Melati yang jadi pusat aktivitas spiritual warga setempat. Tapi menurut kajian yang dirujuk tim peneliti, derasnya arus komersialisasi kawasan wisata mendorong pergeseran makna ruang, dari yang semula sakral jadi ajang transaksi ekonomi semata. Relasi sosial warga pun ikut bergeser jadi lebih transaksional, meski di sisi lain masyarakat tetap berupaya mempertahankan tradisi sebagai bentuk perlawanan budaya.

Warga sekitar hutan yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Pesona Alam Lestari sebenarnya sudah punya inisiatif ekonomi yang kuat, bahkan membangun sendiri fasilitas wisata secara swadaya. Masalahnya, menurut tim peneliti, energi itu masih terpusat di infrastruktur dan promosi, belum menyentuh penguatan pemahaman budaya sebagai daya tarik wisata yang otentik.

Empat Bekal yang Dirancang untuk Warga

Dari situ, tim peneliti merancang model pembelajaran budaya yang terdiri dari empat komponen. Pertama, memperkenalkan kembali nilai historis dan spiritual kawasan, supaya warga paham betul makna Grenjengan, Punden Mbah Melati, dan sumber air panas sebelum menceritakannya ke wisatawan. Kedua, melatih keterampilan bercerita dan menginterpretasi budaya, supaya nilai-nilai lokal bisa dikemas jadi pengalaman wisata yang bermakna, bukan sekadar informasi kering.

Ketiga, memperkuat kearifan ekologis dan pengetahuan kesehatan tradisional, termasuk potensi mengangkat pengetahuan herbal warisan lokal sebagai bagian dari pengalaman wisata kesehatan. Keempat, memperkuat tata kelola kolaboratif dan keadilan akses, supaya proses belajar budaya ini juga memperkuat posisi tawar warga saat berhadapan dengan pemerintah daerah, Perhutani, maupun investor.

Keempat bekal ini dirancang berjenjang: dimulai dari penguatan pengetahuan, dilanjutkan penguatan keterampilan, sampai akhirnya penguatan sikap kolektif menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan kebutuhan ekonomi.

Masih Rancangan, Belum Diuji Langsung ke Warga

Perlu digarisbawahi, model dan modul pelatihan ini baru sampai tahap rancangan konseptual yang sudah ditelaah tiga ahli, yakni ahli pendidikan masyarakat, ahli budaya, dan ahli pariwisata. Uji coba langsung ke warga, kelompok sadar wisata, pelaku UMKM, dan tokoh masyarakat Padusan, termasuk pengukuran seberapa jauh pemahaman mereka berubah setelah pelatihan, direncanakan pada tahap penelitian lanjutan.

Tim peneliti menegaskan, model ini bukan dimaksudkan untuk menghentikan sisi ekonomi wisata Padusan, karena kebutuhan itu tetap nyata bagi warga. Tujuannya lebih ke mengarahkan agar geliat ekonomi itu tetap berpijak pada nilai historis dan spiritual kawasan, bukan menggantikannya sama sekali.

Nyambung dengan Agenda Dunia

Riset ini terkait sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pendidikan berkualitas berbasis kebutuhan komunitas (SDG 4), pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan layak lewat wisata kesehatan berbasis kearifan lokal (SDG 8), serta pelestarian warisan budaya sebagai bagian dari komunitas yang berkelanjutan (SDG 11).

Penelitian ini terlaksana atas dukungan pendanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat skema PNBP dari Universitas Negeri Malang.

Sumber foto: IDN Times, “15 Tempat Wisata Pacet Mojokerto yang Wajib Dikunjungi”, oleh Prila Arofani, diakses 26 Agustus 2026 https://www.idntimes.com/travel/destination/prila-arofani/tempat-wisata-pacet-terbaru2021

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top