Batik Terang Bulan Diperkenalkan kepada Publik melalui Coffee Table Book dan Film Dokumenter

Malang, 4 Oktober 2026 — Upaya mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya batik kepada masyarakat terus dilakukan melalui berbagai media kreatif. Salah satunya diwujudkan melalui peluncuran katalog berbentuk coffee table book dan video dokumenter bertajuk “Batik Terang Bulan” yang diselenggarakan pada Minggu, 4 Oktober 2026, di Soendari Batik & Art serta melalui kanal Instagram Soendari Batik.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas dokumentasi dan diseminasi pengetahuan mengenai Batik Terang Bulan kepada masyarakat. Tidak hanya menampilkan keindahan visual batik, karya yang diluncurkan juga mengangkat sejarah, proses pembuatan, karakteristik motif, serta nilai-nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Peluncuran tersebut melibatkan sejumlah pihak, yaitu Satriya Paramanandana, Daya Negri Wijaya, Fernando A. Santiago, Jr., FX Domini BB Hera, Andhika Yudha Pratama, M. Afwan Mufti, Firza Azzam Fadilla, dan Julian Prabowo. Keterlibatan berbagai pihak tersebut menunjukkan bahwa dokumentasi warisan budaya membutuhkan kerja kolaboratif yang menghubungkan riset, kreativitas visual, dokumentasi, serta pengalaman para pelaku budaya.

Dalam kegiatan peluncuran, tim memperkenalkan rancangan coffee table book yang menggabungkan narasi sejarah dengan dokumentasi visual Batik Terang Bulan. Buku tersebut dirancang tidak hanya sebagai katalog produk, tetapi juga sebagai medium pengetahuan yang membantu pembaca memahami batik dalam konteks sejarah dan kebudayaannya. Foto, narasi, serta informasi mengenai proses produksi disusun untuk memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai perjalanan sebuah motif batik dari proses penciptaan hingga menjadi bagian dari identitas budaya.

Selain peluncuran katalog, kegiatan juga diisi dengan pemutaran video dokumenter mengenai Batik Terang Bulan. Media audiovisual digunakan untuk memperlihatkan secara lebih dekat proses pembuatan batik, keterampilan para perajin, detail motif, serta cerita yang menyertai keberadaan Batik Terang Bulan. Pendekatan dokumenter memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat batik bukan semata-mata sebagai produk tekstil, tetapi sebagai hasil dari pengetahuan, keterampilan, kreativitas, serta pengalaman budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Diskusi bersama pelaku batik dan pihak yang terlibat turut menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Forum tersebut membuka ruang untuk membicarakan proses dokumentasi, tantangan pelestarian, serta pentingnya memperkenalkan batik melalui bentuk komunikasi yang lebih mudah diterima oleh publik masa kini.

Penggunaan coffee table book dan film dokumenter juga menunjukkan perubahan dalam strategi pelestarian kebudayaan. Pengetahuan mengenai batik yang sebelumnya banyak disampaikan melalui praktik langsung dan tradisi lisan kini dapat didokumentasikan melalui media cetak dan digital. Dokumentasi semacam ini penting agar pengetahuan mengenai motif, teknik, sejarah, dan nilai budaya batik tetap dapat diakses oleh generasi berikutnya.

Melalui kegiatan ini, Batik Terang Bulan diharapkan memperoleh ruang yang lebih luas dalam ingatan dan apresiasi publik. Dokumentasi tidak hanya berfungsi sebagai arsip, tetapi juga sebagai sarana pendidikan budaya dan promosi yang dapat mempertemukan tradisi batik dengan masyarakat yang lebih luas.

Peluncuran coffee table book dan video dokumenter tersebut sekaligus menjadi langkah awal untuk mengembangkan materi dokumentasi Batik Terang Bulan secara lebih komprehensif. Draft buku dan film dokumenter yang dihasilkan diharapkan terus disempurnakan sehingga dapat menjadi sumber informasi, bahan edukasi, sekaligus media promosi kebudayaan.

Pada akhirnya, pelestarian batik tidak hanya bergantung pada keberlanjutan proses produksinya. Upaya mengenali, merekam, menjelaskan, dan memperkenalkan cerita di balik setiap motif juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya. Melalui media cetak dan audiovisual, Batik Terang Bulan memperoleh ruang baru untuk dikenali, dipahami, dan diwariskan kepada masyarakat secara lebih luas.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Tradisi Besar Wayang Kulit Yang Kian Terlupakan Generasi Muda

Di tengah pesatnya arus globalisasi dan modernisasi, kesenian tradisional seperti wayang kulit menghadapi tantangan besar, khususnya di Kota Batu, Jawa Timur. Dahulu dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa yang kental, kini minat generasi muda terhadap pertunjukan wayang kulit semakin menurun drastis. Banyak remaja lebih tertarik pada hiburan digital seperti media sosial dan gim daring, sementara pertunjukan wayang kulit dianggap kuno dan membosankan

Scroll to Top