Keberadaan Peradaban Candi Badut
Di tengah perkembangan kota malang saat ini terdapat peninggalan candi tertua di Jawa Timur yang menjadi awal perkembangan agama Hindu pada saat itu, yaitu Candi Badut. Candi Badut berada di Jl. Raya Candi V No.5D, Doro, Karangwidoro, Kec. Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65146. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-8 Masehi, candi ini memiliki nilai sejarah penting karena menjadi bukti perkembangan agama Hindu di wilayah Malang pada masa awal kerajaan Hindu di Jawa Timur dan memiliki beberapa keunikan bentuk arsitektur yang membedakan Candi Badut dengan candi yang ada di jawa timur lainnya. Keberadaan Candi Badut sering dikaitkan dengan Prasasti Dinoyo tahun 760 Masehi yang menjelaskan tentang pembangunan tempat suci untuk pemujaan Resi Agastya pada masa pemerintahan Raja Gajayana. Banyak ahli sejarah meyakini bahwa tempat suci yang dimaksud dalam prasasti tersebut adalah Candi Badut. Menurut penulis, Candi Badut merupakan salah satu peninggalan sejarah penting di Kota Malang yang memiliki nilai budaya dan sejarah sangat besar, tetapi keberadaannya masih belum banyak dikenal oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda. Padahal, candi ini merupakan salah satu candi tertua di Jawa Timur yang menjadi bukti berkembangnya peradaban Hindu pada masa Kerajaan Kanjuruhan. Menurut kritik penulis, Meskipun bentuk bangunannya tidak sebesar candi-candi terkenal lainnya di Indonesia, Candi Badut tetap memiliki ciri khas arsitektur yang unik dan nilai historis yang tinggi. Namun, kurangnya perhatian dan minimnya pengetahuan masyarakat, siswa atau mahasiswa mengenai sejarah Candi Badut menyebabkan situs budaya ini sepi pengunjung yang dikuatkan dari observasi langsung oleh penulis pada tahun 2026 dan juga belum mendapatkan apresiasi yang maksimal. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa pelestarian serta pengenalan sejarah Candi Badut kepada masyarakat perlu terus diperluas dan ditingkatkan agar warisan budaya tersebut tetap terjaga dan tidak terlupakan oleh perkembangan zaman.
Sejarah Keberadaan Candi Badut
Nama “Badut” sendiri diyakini berasal dari kata “Bha-dyut”, yang dalam bahasa Sanskerta berarti “cahaya”. Hal ini mungkin terkait dengan fungsi candi sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa, yang dikenal sebagai dewa cahaya dalam agama Hindu. Versi lain menyatakan berdasarkan Prasasti Dinoyo disebut nama Liswa, yang merupakan nama kecil dari Raja Gajayana. Dalam kamus Sanskerta, “liswa” berarti anak komedi, tukang lawak, atau tukang tari. Kata tersebut bermakna sama dengan badut di masa kini, yakni seseorang yang menjadi penghibur dengan berbuat lucu atau melawak. Penemuan Candi Badut diperkirakan dibangun pada abad ke-8 Masehi, pada masa pemerintahan Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan. Yang merupakan kerajaan Hindu yang berpusat di wilayah Malang, dan Candi Badut dianggap sebagai salah satu peninggalan penting dari kerajaan ini. Setelah tertimbun tanah dan di tumbuhi pepohonan besar selama ratusan tahun candi ini ditemukan kembali oleh Maureen Brecher, seorang kontrolir bangsa Belanda yang bekerja di Malang pada tahun 1921. yang selanjutnya di perbaiki kembali pada tahun 1925-1927 di bawah pengawasan B. De Haan dari jawatan purbakala Hindia Belanda. Dari hasil penggalian yang dilakukan pada saat itu diketahui bahwa bangunan candi telah runtuh sama sekali, kecuali bagian kaki yang masih dapat dilihat susunannya. Candi Badut oleh Purbatjaraka dikaitkan dengan sebuah prasasti yang ditemukan di kelurahan Merjosari, yaitu prasasti Dinoyo. Prasasti berbahasa sansekerta dan berhuruf Jawa kuno itu berangka tahun Candrasangkala: nayana vayu ras yang mengandung arti angka tahun saka 682 atau 760 Masehi. isi prasasti yang menceritakan raja. Menurut penulis, Keberadaan candi ini dapat menjadi sumber pembelajaran sejarah bagi masyarakat, siswa atau mahasiswa sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi muda supaya candi-candi yang ada di indonesia tidak tergerus zaman khususnya Candi Badut.
Keunikan Gaya Bangunan dan Arsitektur Candi Badut
Dari sisi arsitektur Candi Badut memiliki bentuk bangunan yang relatif sederhana dibandingkan candi besar lainnya di Indonesia. Struktur bangunannya berbentuk persegi dengan ruang utama yang digunakan sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa. seperti lingga dan yoni. Lingga melambangkan kekuatan dan kesuburan Dewa Siwa, sedangkan yoni melambangkan unsur kehidupan dan keseimbangan. Selain itu, bentuk bangunan candi yang menghadap ke barat serta adanya arca-arca dewa seperti Agastya dan Durga juga menjadi ciri khas arsitektur Hindu pada masa Jawa Kuno. Pandangan penulis, Unsur-unsur tersebut menunjukkan bahwa fungsi utama Candi Badut memang sebagai tempat ibadah agama Hindu. Namun, beberapa ahli menilai terdapat pengaruh Buddha dalam gaya arsitekturnya. Pengaruh tersebut terlihat dari bentuk bangunan yang relatif sederhana dan tidak dipenuhi relief atau ukiran cerita keagamaan seperti pada candi Hindu besar lainnya. Kesederhanaan bentuk ini dianggap memiliki kemiripan dengan beberapa bangunan Buddha awal di Nusantara. Menurut penulis, tata ruang dan suasana bangunan yang tenang juga menunjukkan fungsi spiritual yang tidak hanya menonjolkan ritual Hindu, tetapi juga unsur meditasi yang sering dikaitkan dengan tradisi Buddha. tetapi tetap menunjukkan kemampuan seni pahat masyarakat pada masa itu. Menurut penulis, keunikan Candi Badut juga terletak pada bentuk yang kotak atau seperti balok yang biasanya candi seperti itu berada di jawa tengah, sedangkan kebanyakan candi yang berada di jawa timur berbentuk persegi panjang atau lebih ramping.
Kesimpulan
Keunikan arsitektur dan nilai historis yang dimiliki menjadikan candi ini sebagai warisan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan. Melalui pemahaman terhadap sejarah Candi Badut. masyarakat, siswa atau mahasiswa dapat lebih menghargai peninggalan nenek moyang serta memahami perkembangan peradaban di Indonesia pada masa lalu. Perlu diingat Candi Badut masih berfungsi sebagai tempat suci, sehingga pengunjung wajib menjaga kebersihan area sekitar lokasi Candi Badut. Jika ada masyarakat yang melakukan upacara, pastikan bertanya dan minta izin dengan sopan sebelum memotret, hindari membuat keributan atau membuang sampah sembarangan.
Daftar pustaka
Detik Jatim. 2024. “Mengenal Candi Badut, Jejak Sejarah Kerajaan Kanjuruhan di Malang.”
Wikipedia. 2026. “Candi Badut.”
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur. 2026. “Candi Badut.”
Oleh : Guntur Hardianto (Universitas Brawijaya)




