Karikatur “Sambat Sumbat di Suhat”

Sumber Gambar: (Olahan Penulis, 2026).

Banjir di Malang menjadi salah satu isu yang sering diperbincangkan karena berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Fenomena ini menunjukkan bahwa banjir bukan hanya peristiwa sesaat, tetapi juga persoalan yang berdampak pada aktivitas warga, kenyamanan lingkungan, dan kondisi wilayah perkotaan. Secara umum, banjir di Malang dapat dipahami sebagai gambaran bahwa kota ini masih menghadapi tantangan dalam mengelola aliran air dan ruang lingkungannya, sehingga peristiwa tersebut terus menjadi perhatian banyak pihak.

Penyebab utama dari bencana ini tidak terlepas dari rendahnya kesadaran kolektif dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama kebiasaan membuang sampah langsung ke dalam drainase. Drainase yang seharusnya berfungsi mengalirkan air justru tersumbat oleh sampah (Antoro, T., 2026) Tindakan ini merupakan pelanggaran nyata terhadap Sila ke-2 Pancasila yaitu”Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.” Membuang sampah sembarangan adalah bentuk perilaku tidak beradab karena secara egois merampas hak orang lain untuk mendapatkan lingkungan yang aman dan layak, serta secara langsung menyebabkan kerugian bagi sesama warga yang terkena dampak banjir.

Selain faktor kesadaran individu, persoalan banjir ini juga bersinggungan erat dengan etika kepemimpinan dan tanggung jawab publik pihak berwenang dalam mengelola infrastruktur kota. Ketidakmampuan sistem drainase dalam menampung debit air bukan sekadar masalah teknis, melainkan cerminan dari lemahnya komitmen dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh warga. Secara etis, pemerintah memiliki kewajiban moral untuk memastikan bahwa setiap kebijakan dan alokasi anggaran benar-benar difokuskan pada pemenuhan hak-hak dasar masyarakat atas lingkungan yang aman. Tanpa transparansi dan keseriusan dalam tata kelola pembangunan, maka janji kesejahteraan hanyalah menjadi retorika yang justru memperlebar jurang ketidakadilan bagi kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak bencana.

Secara visual, karikatur ini menyajikan potret ironis kawasan Soekarno-Hatta (Suhat) yang tergenang banjir hingga nyaris menenggelamkan patung pesawat yang menjadi ikon wilayah tersebut. Sketsa ini secara detail menggambarkan kekacauan melalui visualisasi air yang meluap dan sampah yang menggenang, serta ekspresi masyarakat yang terdampak. Dalam karya ini, nampak kontradiksi perilaku: di satu sisi terlihat warga yang dengan sengaja membuang sampah ke dalam saluran drainase, sementara di sisi lain terdapat baliho besar yang menampilkan potret pejabat disertai sindiran tajam mengenai anggaran drainase yang tidak jelas arahnya. Kehadiran figur pedagang bakso yang kesulitan beraktivitas menambah kedalaman narasi visual ini sebagai simbol masyarakat kecil yang paling rentan terhadap kegagalan tata kelola lingkungan, sebagaimana kondisi banjir perkotaan terbukti paling berdampak pada kelompok masyarakat ekonomi lemah (Hasanuddin et al., 2021).

Analisis terhadap karikatur ini mengungkap kritik sosial tajam yang ditujukan kepada dua pilar utama, yakni masyarakat dan pemerintah melalui lensa Pancasila sebagai sistem etika. Bagi masyarakat, perilaku membuang sampah sembarangan mencerminkan pengabaian terhadap Sila Pertama, di mana tanggung jawab religius untuk menjaga alam telah digantikan oleh perusakan. Tindakan ini juga melanggar Sila Kedua, karena egoisme individu secara langsung merampas hak warga lain untuk hidup aman, menunjukkan hilangnya empati dan nilai kemanusiaan yang beradab. Di sisi lain, baliho sindiran anggaran merujuk pada pelanggaran Sila Kelima, yang mengkritik lemahnya keadilan sosial dalam bentuk infrastruktur. Secara empiris, kondisi ini diperparah oleh perencanaan kota yang tidak sebanding dengan pesatnya pembangunan sehingga sistem drainase gagal berfungsi optimal (Suhudi et al., 2022). Dengan demikian, karikatur ini menegaskan bahwa tanpa komitmen pemerintah dan kesadaran kolektif berbasis nilai Pancasila, masalah banjir hanya akan menjadi siklus ketidakadilan yang merugikan ekonomi masyarakat kecil.

Sebagai simpulan, karikatur ini menjadi pengingat bahwa penanganan banjir di kawasan Soekarno-Hatta bukan hanya sekadar urusan teknis drainase, melainkan persoalan etika kolektif bangsa. Masalah ini hanya dapat teratasi apabila terdapat sinergi antara kesadaran moral masyarakat untuk berhenti merusak alam serta komitmen nyata pemerintah dalam mengelola anggaran infrastruktur secara transparan dan berkeadilan. Pancasila sebagai sistem etika harus diaktualisasikan kembali, baik dalam bentuk perilaku beradab warga maupun dalam kebijakan publik yang memihak pada rakyat kecil. Tanpa adanya integrasi nilai-nilai tersebut, banjir akan terus menjadi siklus ketidakadilan yang merugikan tatanan sosial dan ekonomi masyarakat.

Daftar Pustaka
Antoro, T., 2026. Banjir Suhat Malang Jadi Perhatian, Ini Langkah Penanganannya. InfoPublik,
[online] Available at :
https://infopublik.id/kategori/infomudik/963060/banjir-suhat-malang-jadi-perhatia
n-ini-langkah-penanganannya [Accessed 20 April 2026].
Hasanuddin, H., dkk., 2021. Sampah: Banjir, Penyakit, dan Nilai Ekonomi. Jurnal ABDIMAS,
[online] Available at:
https://ejurnal.ubharajaya.ac.id/index.php/JAMEB/article/view/654 [Accessed 20
April 2026].
Suhudi, S., dkk., 2022. Studi Perencanaan Saluran Drainase di Kota Malang. Jurnal Qua
Teknika, [online] Available at:
https://ejournal.unisbablitar.ac.id/index.php/qua/article/view/2369 [Accessed 20
April 2026].

Oleh: Isella Amelia Az Zahra, Firda Rhisma Maharani, Sharon Ann Moura, Larasati Dewandany, & Muhammad Dimas Ekasaputra-Universitas Brawijaya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top