LOKANANTA MENYUARA: Langkah Nyata Merawat Persatuan BangsaMelalui Pemajuan Kebudayaan di Tengah Arus Globalisasi

Rafsanjani Hipatia Hanif (Universitas Brawijaya)

Pendahuluan
Suatu sore di bulan Juni 2023, halaman Jalan Ahmad Yani No. 379 Surakarta mendadak penuh sesak. Dua puluh satu penyanyi lintas generasi berdiri di panggung yang sama, menyanyikan lagu-lagu yang dulu lahir dari gedung tua di belakang mereka. Gedung itu adalah Lokananta sebuah studio rekaman pertama dan terbesar di Indonesia yang setelah lebih dari dua dekade terlupakan, akhirnya membuka matanya kembali.
Tulisan ini berargumen bahwa revitalisasi Lokananta bukan semata proyek renovasi fisik, melainkan sebuah tindakan kebudayaan yang memiliki dimensi politis, identitas, dan konstitusional. Di tengah derasnya arus globalisasi yang mengancam eksistensi budaya lokal, Lokananta menjadi bukti nyata bahwa pemajuan kebudayaan adalah cara paling organik untuk merawat persatuan bangsa sebagaimana amanat yang bersumber langsung dari sila ketiga Pancasila.

Sejarah dan Kejatuhan Lokananta
Lokananta didirikan pada 29 Oktober 1956 atas inisiatif Raden Maladi, Kepala Jawatan Radio Republik Indonesia (RRI). Kelahirannya bukan kebetulan sejarah; ia lahir dari keresahan nyata ketika radio-radio Indonesia kala itu terlalu banyak memutarkan lagu-lagu Barat, sementara lagu daerah Nusantara belum terdistribusi secara nasional.¹ Lokananta hadir sebagai pabrik piringan hitam sekaligus pusat distribusi kebudayaan nasional, merekam materi untuk 26 stasiun RRI di seluruh penjuru Indonesia dari mulai gamelan Jawa, Bali, Sunda, hingga musik Batak dan lagu-lagu rakyat tak bernama pencipta.
Masa kejayaannya berlangsung dari era 1970-an hingga awal 1980-an, dengan penjualan mencapai 100.000 keping kaset per bulan. Namun, maraknya pembajakan kaset di akhir 1980-an meruntuhkan produksi secara drastis. Pada 1997, produksi berhenti total, dan pada 2001 Lokananta dinyatakan pailit melalui PP Nomor 24 Tahun 2001. Selama lebih dari dua dekade kemudian, gedung itu membisu meski di dalamnya tersimpan ribuan rekaman bersejarah, seperti pidato kenegaraan Bung Karno, rekaman master Proklamasi, hingga gamelan tertua kedua di Indonesia.

Revitalisasi: Lebih dari Sekadar Renovasi
Revitalisasi Lokananta dimulai pada November 2022 atas mandat Menteri BUMN Erick Thohir, dengan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) tepatnya bagian dari Holding Danareksa sebagai pelaksana utama. Kolaborasi dilakukan bersama PT Indah Karya sebagai konsultan konstruksi, kontraktor PP Urban, arsitek Andra Matin yang dikenal dengan pendekatan kontekstualnya, serta M Bloc Group sebagai operator nama yang telah terbukti menghidupkan ruang-ruang kreatif di M Bloc Space Jakarta, Pos Bloc Medan, dan JNM Bloc Yogyakarta.
Hasilnya bukan sekadar renovasi estetika. Lahan seluas 2,1 hektare di jantung Kota Solo itu menjelma menjadi Lokananta Bloc sebuah ekosistem kreatif dengan lima pilar bisnis, yakni museum dan galeri, studio rekaman aktif, arena pertunjukan, area kuliner, dan galeri UMKM. Diresmikan pada 3 Juni 2023, dalam waktu singkat Lokananta telah menggelar 45 acara dan menarik lebih dari 1.025 pengunjung, dengan 90 persen tenant-nya adalah UMKM dari Solo dan sekitarnya.

Dimensi Kebudayaan dan Pancasila
Sila ketiga Pancasila, “Persatuan Indonesia”, bukan sekadar slogan. Ia adalah pengakuan bahwa bangsa yang majemuk ini hanya bisa bersatu jika ada sesuatu yang dimiliki bersama, yakni kebudayaan, bahasa, musik, dan seni yang menjadi perekat di antara 17.000 pulau, ratusan suku, dan ribuan dialek. Lokananta, sejak berdirinya, menjalankan fungsi ini secara nyata.
Ketika Lokananta mendistribusikan souvenir piringan hitam berisi lagu-lagu daerah kepada kontingen Asian Games 1962, ia sedang menjalankan diplomasi budaya memperkenalkan keberagaman bangsa kepada dunia. Fungsi ini kini dilanjutkan dalam wujud yang lebih modern: ruang di mana gamelan dan podcast bisa hidup berdampingan, di mana rekaman suara Bung Karno bisa didengar melalui aplikasi digital, di mana musisi indie dan penyanyi keroncong berbagi panggung yang sama.
Landasan hukumnya pun jelas. UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan memberikan mandat kepada negara untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan kebudayaan nasional. Lokananta adalah objek pemajuan kebudayaan par excellence berstatus cagar budaya (SK Kepala Dinas Tata Ruang Kota Surakarta Nomor 646/40/I/2014) sekaligus penyimpan kekayaan intelektual yang tak ternilai.
Direktur Utama Danareksa, Yadi Jaya Ruchandi, menegaskan hal ini:
“Lokananta memiliki nilai historis yang tinggi, kekayaan intelektual hasil karya anak bangsa, dan merupakan cagar budaya yang harus dijaga.” (Yadi Jaya Ruchandi, Direktur Utama Danareksa, 2023)

Menjawab Globalisasi dengan Kebudayaan
Globalisasi memberikan dampak multidimensional terhadap identitas budaya Indonesia: menurunnya penggunaan bahasa daerah, hilangnya tradisi lokal, hingga dominasi K-Pop dan konten Hollywood. Namun, globalisasi juga membuka peluang jika dikelola dengan tepat, ia dapat memperkuat, bukan melemahkan, keberagaman budaya nasional.
Lokananta memahami hal ini dengan baik. Ia tidak hadir sebagai museum mati yang memajang benda-benda berdebu tetapi ia hadir sebagai ruang hidup yang terus berproduksi. Band legendaris God Bless merekam di sana. Efek Rumah Kaca, White Shoes and the Couples Company, Slank, hingga Didi Kempot pernah mengisi koridor-koridornya dengan nada. Amphitheater yang direncanakan berkapasitas 3.000 orang akan menjadi panggung yang terus mendekatkan budaya Indonesia kepada generasi yang sehari-harinya mendengarkan Spotify dan menonton YouTube. Inilah globalisasi yang dijawab bukan dengan kemarahan atau ketakutan, tetapi dengan kepercayaan diri bahwa apa yang kita miliki layak untuk didengarkan dunia.

Penutup
Lokananta pernah membisu selama lebih dari dua dekade. Ketika ia kembali bersuara di Juni 2023, ternyata masih banyak yang ingin mendengar bukan karena nostalgia semata, melainkan karena dalam suaranya tersimpan sesuatu yang kita butuhkan: sebuah identitas yang utuh dan kebanggaan yang tak perlu dipinjam dari bangsa lain.
Sebagai bangsa yang dibangun di atas kebhinekaan, kita perlu lebih banyak “Lokananta” yakni tempat-tempat di mana keberagaman budaya tidak hanya dipamerkan, tetapi juga dipraktikkan dan diperjuangkan. Persatuan Indonesia yang diamanatkan sila ketiga Pancasila bukan sesuatu yang otomatis ada, ia harus terus-menerus dirawat, salah satunya melalui lagu, lewat nada, dan melalui ruang-ruang budaya yang berani bersuara.
Lokananta menyuara. Sudah saatnya kita dengarkan.

Daftar Rujukan
Beautynesia. (2023). Fakta menarik Lokananta di Solo, studio musik pertama Indonesia yang baru direvitalisasi. Diakses dari Beautynesia
Danareksa. (2023). Festival Lokananta tandai kembalinya studio rekaman pertama di Indonesia sebagai sentra kreativitas musisi, seniman, dan UMKM. Diakses dari Danareksa
Kompas. (2023). Sejarah Lokananta, studio musik tertua di Indonesia yang hidup kembali. Diakses dari Kompas Regional
Kompas. (2023). 6 fakta Lokananta, studio musik pertama di Indonesia yang kini punya wajah baru. Diakses dari Kompas Travel
Kumparan Bisnis. (2023). Wajah baru studio rekaman legendaris Lokananta usai revitalisasi. Diakses dari Kumparan Bisnis

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top