“Menjaga Eksistensi Candi Badut Sebagai Warisan Budaya di Tengah Modernisasi”

Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2026

Candi Tertua di Tengah Kota

Tidak jauh dari pusat Kota Malang, di antara perumahan warga dan hiruk pikuk kendaraan, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang sudah ada jauh sebelum Indonesia lahir sebagai sebuah negara. Namanya Candi Badut, candi yang telah berdiri sejak tahun 760 Masehi dan menjadi saksi perjalanan sejarah selama lebih dari seribu tahun.

Candi Badut adalah bangunan suci Hindu-Buddha tertua di Jawa Timur, peninggalan Kerajaan Kanjuruhan yang pernah berjaya di wilayah Malang Raya. Berlokasi di Desa Karangwidoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, bangunan ini tersusun dari batu andesit dengan teknik kuncian yang menunjukkan kemampuan arsitektur maju pada masanya. Keberadaannya di tengah Kota Malang yang terus berkembang menjadi bukti nyata adanya peradaban besar pada masa lampau. Sayangnya, tidak banyak orang yang mengetahui, apalagi mengunjunginya.

Sejarah dan Makna dibalik Nama Candi Badut

Candi Badut erat kaitannya dengan Prasasti Dinoyo berangka tahun 682 Saka atau 760 Masehi. Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan membangun candi ini untuk Agastya dengan tujuan menghilangkan penyakit. Menariknya, nama “Badut” berasal dari kata Liswa, nama lain Raja Gajayana dalam prasasti tersebut. Dalam kamus Sansekerta, Liswa berarti “anak kemidi, tukang tari”, yang dalam bahasa Jawa sepadan dengan kata “badut”.  Nama yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna sejarah yang dalam.

Yang cukup disayangkan, candi ini ditemukan secara tidak sengaja oleh kontrolir Belanda bernama Maureen Brecher pada 1921 dalam kondisi rusak parah, tertutup tanah dan pepohonan. Dinas Purbakala di bawah pimpinan F.D.K Bosch dan B. de Haan kemudian melakukan pemugaran dari tahun 1923-1926. Warisan budaya milik bangsa ini justru diselamatkan oleh pihak asing, sebelum akhirnya dikelola dan dijaga seperti sekarang.

Menjaga Warisan Bersejarah

Kondisi Candi Badut saat ini sudah tidak utuh sepenuhnya. Candi ini memiliki pagar keliling dari batu poros dan halaman berbentuk persegi panjang berukuran 47×49 meter, menghadap ke barat dengan pola susunan tidak beraturan. Dari tiga bangunan kecil yang diperkirakan pernah berdiri di depan candi, kini hanya tersisa pondasinya. Bagian lapik, kaki, tubuh, dan atap candi masih dapat terlihat, meski beberapa telah rusak. Di kawasan candi juga ditemukan fragmen arca durga, lingga, yoni, altar, fragmen arca, dan arca candi.

Upaya pelestarian terus dilakukan melalui pemugaran, inventarisasi, konservasi berkala, dan penempatan juru pelihara. Sejak 1998, Candi Badut ditetapkan sebagai cagar budaya dan pada 2016 resmi ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya peringkat Nasional melalui SK Menteri Nomor 203/M/2016. Pengakuan ini tentu penting. Namun, selembar surat keputusan tidak bisa menggantikan perhatian nyata dari masyarakat. Candi Badut seharusnya menjadi bagian dari kesadaran kolektif warganya, bukan sekadar tercatat dalam dokumen negara.

Pak Arip, juru pelihara Candi Badut, mengungkapkan bahwa situs ini hanya dirawat oleh tiga orang. Tantangan perawatan fisik saja sudah cukup besar, mulai dari penanganan lumut hingga kerusakan biologis yang membutuhkan penanganan khusus. Di tengah keterbatasan tersebut, Pak Arip berharap kesadaran generasi muda terus tumbuh. “Harapan kita sebagai juru pelihara adalah menghimbau kesadaran kepada generasi-generasi penerus. Kita sebagai bangsa Indonesia seharusnya bangga, karena kita memiliki banyak peninggalan-peninggalan sejarah yang masih ada wujudnya,” tuturnya.

Modernisasi dan Pergeseran Perhatian Generasi Muda

Modernisasi telah membawa berbagai kemajuan, tetapi disisi lain juga menggeser perhatian masyarakat. Generasi muda kini lebih akrab dengan media sosial dibandingkan dengan situs bersejarah di kota mereka. Akibatnya, tempat-tempat seperti Candi Badut yang seharusnya menjadi penghubung antara masyarakat Malang masa kini dan leluhur mereka, justru semakin terlupakan.

Meski begitu, ketertarikan generasi muda terhadap situs bersejarah seperti Candi Badut sebenarnya masih ada, hanya belum didukung dengan cara pengenalan yang menarik. Adella, seorang warga Kota Malang, mengaku antusias membayangkan berkunjung ke Candi Badut. “Kalau tempatnya proper, kayak ada candinya of course, terus ada tour guide-nya yang menjelaskan sejarahnya, menurut aku menarik banget,” ujarnya. Happy, warga lainnya, menambahkan “Beberapa generasi muda kayak kita itu kadang mikir kalau tempat bersejarah itu destinasi wisata yang membosankan. Tapi ketika kita lebih menyelami atau mendalami sejarahnya, itu lebih menarik, ada beberapa keunikan atau kekhasan dari Candi Badut yang aku temukan waktu itu.” Kedua pernyataan ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada minat, melainkan cara sejarah itu diperkenalkan.

Di sinilah teknologi berperan lebih dari sekadar ancaman. Promosi aktif melalui media sosial seperti TikTok dapat menjadi langkah konkret untuk menarik perhatian generasi muda. Namun upaya digital saja tidak cukup, dari sisi pengelolaan, kawasan candi  masih perlu dikembangkan dengan kehadiran pemandu wisata yang mampu menghidupkan cerita dibalik setiap sudutnya, sehingga pengunjung tidak hanya melihat, tetapi benar-benar memahami apa yang ada di hadapannya.

Warisan Budaya bagi Generasi Mendatang

Warisan budaya tidak cukup hanya dijaga fisiknya, tetapi juga perlu diwariskan nilai-nilainya. Sejumlah sekolah dan universitas di Malang menjadikan Candi Badut sebagai lokasi studi lapangan, namun kunjungan sekali saja tidak akan cukup membentuk kesadaran yang kuat. Tanpa keterlibatan aktif masyarakat, generasi mendatang hanya akan mewarisi bangunannya, bukan cerita dan nilai sejarah di dalamnya.

Yang diperlukan sekarang adalah kolaborasi antara pemerintah daerah, institusi pendidikan, komunitas budaya, dan generasi muda. Cerita tentang Candi Badut perlu dihidupkan kembali, bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, melainkan bukti bahwa di tanah yang kita pijak hari ini pernah berdiri peradaban besar. Candi ini telah bertahan lebih dari seribu tahun, yang dibutuhkannya kini hanyalah perhatian dan kepedulian, agar generasi berikutnya masih bisa mewarisi bukan hanya bangunannya, tetapi juga cerita dan nilai sejarah yang ada di dalamnya.

DAFTAR PUSTAKA:

Candi Badut Malang. (2023, November 21). Mengulik kembali sejarah dan Filosofi dari penamaan Candi Badut. Candi Badut. https://www.candibadut.online/2023/11/mengulik-sejarah-dan-filosofi-dari.html

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Provinsi Jawa Timur. (n.d.). Informasi Papan Candi Badut. Malang.

Oleh : Hilma Wanda (Universitas Brawijaya)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top