Krama Inggil merupakan tingkatan bahasa Jawa tertinggi yang digunakan sebagai bentuk penghormatan kepada lawan bicara yang lebih tua atau memiliki status sosial yang lebih tinggi. Bahasa ini tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media untuk mempertahankan nilai-nilai dan identitas budaya Jawa. Namun, penggunaan di kalangan generasi mudah mengalami penurunan signifikan, seiring dengan dominasi Bahasa Indonesia dan meningkatnya pengaruh budaya digital. Malang sebagai kota pelajar dengan populasi mahasiswa yang besar dan heterogen.
Persepsi dan Perilaku Mahasiswa terhadap Krama Inggil
Wawancara terhadap sejumlah mahasiswa di Malang yang sedang duduk di bangku kuliah di universitas di Malang menunjukkan bahwa hampir seluruh responden sudah tidak aktif menggunakan Krama Inggil dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, pertemanan, maupun pendidikan. Responden pertama menyebutkan dua alasan utama: kompleksitas bahasa dan rendahnya frekuensi penggunaan di lingkungan sekitarnya. Ia mengakui pernah mempelajari Krama Inggil di sekolah, tetapi tidak pernah menerapkan di luar konteks pendidikan formal. Responden kedua menilai Krama Inggil masih relevan, tetapi hanya pada situasi tertentu yakni ketika berbicara dengan orang tua yang juga memahami bahasa tersebut. Di luar hal itum keberagaman latar belakang teman-teman yang ditemui di bangku kuliah mendorong penggunaan Bahasa Indonesia yang lebih inklusif dan dominan. Responden ketiga sangat selaras bahwa menurutnya penggunaan Krama Inggil ia pergunakan saat berbicara dengan orang yang lebih tua.
Faktor-Faktor Penyebab Penurunan Penggunaan Krama Inggil
Pola ini selaras dengan temuan oleh Azizah & Subrata (2022) yang menyimpulkan bahwa penurunan penggunaan Krama Inggil disebabkan oleh tiga faktor utama: keluarga, pertemanan, dan akademik. Sementara Suryadi (2017) dalam penelitiannya di Semarang menemukan bahwa penguasaan kosakata krama pada generasi muda berada dalam klasifikasi yang rendah, dengan skor hanya 20,8%-24,4%.
Setidaknya ada empat faktor utama yang bisa ditarik. Pertama, kompleksitas penggunaannya. Krama Inggil memiliki kosakata khusus yang berbeda sepenuhnya dari Jawa ngoko yang strukturnya tidak terlalu kompleks untuk digunakan yang menjadi hambatan. Kedua keberagaman demografis. Di Malang, mahasiswa berbondong-bondong datang dari seluruh daerah di Indonesia untuk menimba ilmu sehingga Bahasa Indonesia menjadi lingua franca. Tidak dipungkiri bahwa meskipun mahasiswa pendatang yang sudah lama di Malang hanya sebatas Jawa ngoko mereka masih kesulitan yang membuat mempengaruhi penurunan penggunaan bahasa daerah. Ketiga, lemahnya transmisi dalam keluarga. Banyak orang tua tidak membiasakan anak-anaknya untuk menggunakan bahasa Krama Inggil, padahal peran orang tua merupakan faktor krusial dalam mempercepat pergeseran bahasa ini. Keempat, pengaruh media sosial. Platform digital mendorong komunikasi yang cepat dan informal, tidak memberi ruang bagi Krama Inggil yang memiliki ketelitian dan konteks sosial yang berbeda. Menunjukkan bahwa tekanan sosial dan kebijakan penggunaan nasional secara bersama-sama mendorong pergeseran penggunaan bahasa di kalangan anak muda Jawa.
Generasi muda tidak menolak keberadaan Krama Inggil justru mereka mengakui fungsinya sebagai bahasa penghormatan. Namun, konteks penggunaannya semakin menyempit. Bahasa yang diakui penting secara nilai, tetapi dalam prakteknya dalam keseharian mengalami pergeseran. Menunjukkan bahwa pemuda Jawa masih mengidentifikasi Krama Inggil sebagai identitas dari budaya mereka, tetapi tidak menganggapnya sebagai sebuah kebutuhan komunikasi sehari-hari yang jika dibiarkan akan beresiko pada kepunahan ragam tutur.
Implikasi dan Upaya Pelestarian
Penurunan penggunaan Krama Inggil bukan sekadar personal linguistik semata, melainkan juga berimplikasi pada erosi nilai-nilai sosial dan budaya Jawa. Pembenaran perlu diterapkan secara terstruktur mulai dari ranah pendidikan melalui kurikulum yang tidak hanya sekadar hafalan tetapi benar-benar mengedepankan penghayatan budaya, di lingkungan keluarga melalui pembiasaan sejak dini dan di ranah digital melalui konten kreatif yang mempopulerkan Krama Inggil di kalangan anak muda.
Kesimpulan
Krama Inggil sedang mengalami ancaman nyata dimana diakui secara nilai, tetapi ditinggalkan secara prakteknya. Tanpa pembetulan yang serius dari keluarga, institusi pendidikan, komunitas daerah, dan pemerintah daerah, Krama Inggil berisiko menjadi sekadar artefak budaya. Melestarikan bukan sekadar mempertahankan sebuah ragam bahasa, tetapi upaya kita menjaga kelangsungan identitas dan nilai luhur masyarakat di tengah modernisasi.
Daftar Pustaka
Azizah, D. D., & Subrata, H. (2022). Implementasi bahasa Jawa krama inggil pada pembelajaran bahasa Jawa sekolah dasar di wilayah Trenggalek. Jurnal Review Pendidikan Dasar: Jurnal Kajian Pendidikan dan Hasil Penelitian, 8(2), 161–166.
Suryadi, M. (2017). Faktor internal lemahnya penguasaan bahasa Jawa krama pada generasi muda. Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra, 12(4), 227–237.
Oleh : Gracia Vanya Junaedi (Universitas Brawijaya)




