Irsyad Nur Hakim, Ikhsan Kamil, Juang Radiyansyah, Khikam Ibnu Athoillah
(Universitas Brawijaya)
Candi Singhasari adalah salah satu jejak penting dari perjalanan panjang sejarah Kerajaan Singhasari yang berdiri pada abad ke-13 di Jawa Timur. Jika dilihat sekilas, candi ini memang tampak seperti bangunan batu yang sunyi, namun sebenarnya ia menyimpan kisah yang sangat manusiawi: tentang kejatuhan seorang raja, tentang upaya masyarakat menjaga kehormatan pemimpinnya, dan tentang transisi besar menuju lahirnya Majapahit.
Berdirinya candi ini erat kaitannya dengan wafatnya Raja Kertanegara, raja terakhir Singhasari yang terkenal visioner dan progresif. Setelah ia tewas dalam pemberontakan Jayakatwang pada 1292, masyarakat dan bangsawan kerajaan membangun sebuah tempat pendharmaan untuk menghormatinya. Dalam tradisi Jawa kuno, seorang raja yang telah wafat dipandang sebagai sosok suci yang rohnya perlu “dimuliakan” melalui pembangunan candi. Karena itu, Candi Singhasari bukan sekadar bangunan religius, tetapi juga bentuk penghormatan terakhir kepada seorang raja yang meninggalkan pengaruh besar bagi Nusantara.
Selain menjadi simbol spiritual, Pembangunan candi ini juga mencerminkan kondisi sosial-politik pada masa itu. Kerajaan Singhasari berada dalam masa kritis, dan pembangunan candi menjadi salah satu cara untuk menjaga identitas serta menunjukkan bahwa meskipun kerajaan runtuh, memori tentang raja dan nilai-nilai kejayaannya tetap hidup. Dengan kata lain, Candi Singhasari berdiri dari perpaduan antara kebutuhan spiritual, emosi kolektif masyarakat, dan kebutuhan untuk menjaga kesinambungan Sejarah
Karena itu, Candi Singhasari hadir bukan hanya sebagai situs purbakala, tetapi sebagai pengingat bahwa Malang pernah menjadi pusat kekuatan besar yang membuka jalan bagi lahirnya Majapahit. Di dalam keheningan candi inilah fragmen-fragmen penting sejarah Jawa kuno tersimpan rapat, menunggu untuk kembali dibaca dan dipahami oleh generasi yang datang kemudian.
SEJARAH CANDI SINGOSARI
Sejarah Candi Singhasari tidak dapat dilepaskan dari pergolakan besar yang menandai akhir masa Singhasari. Setelah Kertanegara meninggal pada 1292, Singhasari berada dalam keadaan kacau. Namun di tengah turbulensi tersebut, masyarakat tetap menyempatkan diri membangun sebuah tempat pendharmaan untuk raja mereka. Diperkirakan pembangunan Candi Singosari dimulai tidak lama setelah wafatnya Kertanegara, sekitar tahun 1292–1293 M. Namun, bukti arkeologis menunjukkan bahwa candi ini kemungkinan tidak pernah selesai sepenuhnya. Struktur kakinya tampak polos tanpa ukiran yang biasanya ada pada candi-candi Singosari lainnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa pembangunan terhenti akibat gangguan politik, terutama karena serangan yang menandai akhir kerajaan.
Selain itu, candi ini juga berdiri di masa peralihan menuju era Majapahit. Setelah pemberontakan Jayakatwang, Raden Wijaya — menantu Kertanegara — berhasil menyatukan kembali kekuatan sisa Singhasari dan mendirikan Majapahit pada 1293. Dengan demikian, Candi Singosari menjadi penanda sejarah dari satu fase penting perjalanan Jawa, yaitu transisi antara kejatuhan Singhasari dan kebangkitan Majapahit.
Dari segi religius, Candi Singosari juga mencerminkan ajaran Siwa-Buddha yang dipadukan oleh Kertanegara. Arsitektur dan simbol-simbolnya menggabungkan unsur Hindu-Siwa serta Buddha-Tantrayana, yang menunjukkan bahwa masyarakat Singhasari hidup dalam tradisi spiritual yang kaya, toleran, dan mendalam. Hal ini menjadikan candi bukan hanya monumen politik atau spiritual, tetapi juga representasi budaya yang kompleks dari zamannya.
FUNGSI CANDI SINGOSARI
Secara umum, Candi Singosari memiliki tiga fungsi utama: fungsi spiritual, fungsi politik, dan fungsi budaya-sosial.
- Fungsi Spiritual
Fungsi terpenting candi ini adalah sebagai tempat pendharmaan Raja Kertanegara. Dalam tradisi Jawa kuno, pembangunan candi adalah cara untuk mengantar roh raja menuju kesempurnaan. Oleh karena itu, Candi Singosari menjadi ruang sakral tempat pemujaan, meditasi, dan ritual keagamaan pada masa itu. Unsur Siwa-Buddha yang menyatu pada candi ini memperlihatkan bahwa spiritualitas masyarakat Singhasari tidak terkotak satu ajaran, melainkan harmonis dan terbuka. - Fungsi Politik
Candi Singosari juga berfungsi sebagai alat untuk menjaga legitimasi dinasti Rajasa. Dengan membangun candi untuk raja yang gugur, masyarakat menegaskan bahwa kejayaan Singhasari tidak berhenti seketika. Melalui candi ini, memori Kertanegara tetap dijaga sehingga menjadi landasan moral dan politik bagi Majapahit yang lahir kemudian. Candi ini pada dasarnya adalah simbol kesinambungan kekuasaan dan identitas kerajaan. - Fungsi Budaya dan Sosial
Hingga kini, Candi Singosari menjadi sumber belajar, refleksi sejarah, dan kebanggaan budaya. Bangunan ini mengajarkan kita tentang kemampuan arsitektural masa lampau, tentang hubungan manusia dengan spiritualitas, dan tentang bagaimana sebuah bangsa menghormati tokoh pentingnya. Candi ini menjadi tempat bagi masyarakat untuk memahami perjalanan panjang leluhur mereka dan mengenal kembali nilai-nilai kebudayaan Jawa.
PENUTUP
Candi Singosari bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi cermin dari masa lalu yang menegaskan bahwa Malang pernah menjadi pusat kebesaran Nusantara. Dari kisah Ken Arok hingga kejatuhan Kertanegara, candi ini menyimpan potret lengkap kehidupan Singhasari. Ia berdiri sebagai pengingat bahwa kejayaan pernah tumbuh di tanah ini, dan bahwa setiap batu yang tersusun di tubuh candi membawa cerita yang layak terus dihidupkan.
DAFTAR RUJUKAN
Coedes, G. (2010). Asia Tenggara Masa Hindu–Buddha. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Munandar, A. A. (2002). Religi pada Masyarakat Jawa Kuno: Kajian Arkeologi dan Seni. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Sutjipto, B. (1993). Candi-Candi di Jawa Timur. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Wolters, O. W. (1999). History, Culture, and Region in Southeast Asian Perspectives. Ithaca: Cornell University Press.
Zoetmulder, P. J. (1985). Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.




