“Pengaruh Intensitas Merokok terhadap Stres Akademik pada Mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya”

Pendahuluan

Penelitian ini membahas hubungan antara tingkat stres akademik dengan perilaku merokok pada mahasiswa. Secara ontologis, obyek material yang dikaji adalah kondisi psikologis stres akademik yang dialami mahasiswa, yang merupakan respons terhadap beban tugas, ujian, dan tekanan prestasi di lingkungan perguruan tinggi, serta dampaknya yang berupa munculnya perilaku merokok sebagai salah satu mekanisme koping. Permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini adalah tingginya angka perilaku merokok di kalangan mahasiswa yang dapat berdampak negatif pada kesehatan, serta indikasi bahwa stres akademik menjadi salah satu faktor penyebabnya.Dalam mengkaji obyek material tersebut, penelitian ini menggunakan sudut pandang ilmu psikologi, khususnya melalui pendekatan psikologi kesehatan dan teori coping stres. Obyek formal yang dipilih adalah teori Lazarus dan Folkman tentang coping stress, karena teori ini paling relevan untuk menjelaskan bagaimana individu menghadapi tekanan psikologis yang melatarbelakangi perilaku merokok. Alasan pemilihan teori ini adalah kemampuannya dalam menguraikan proses psikologis subjektif dalam merespon stres, serta hubungan antara stres dan strategi koping yang dapat berupa perilaku positif maupun negatif, termasuk perilaku merokok.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres akademik dengan perilaku merokok mahasiswa. Dengan pemahaman yang mendalam mengenai hubungan ini, penelitian diharapkan dapat memberikan dasar bagi upaya preventif dan intervensi oleh lembaga pendidikan dan instansi terkait guna menekan perilaku merokok serta mendukung kesehatan mental mahasiswa. Referensi yang mendasari penelitian ini antara lain berasal dari jurnal-jurnal psikologi kesehatan dan studi perilaku merokok, seperti penelitian yang dilakukan oleh Smith dan Jones (2018) mengenai stres akademik dan kebiasaan merokok mahasiswa, serta kajian Wijaya (2020) tentang faktor risiko perilaku merokok pada usia muda.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara intensitas merokok dan tingkat stres pada mahasiswa perokok aktif di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif korelasional, yaitu metode yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dua variabel.
Pendekatan kuantitatif dipilih karena data yang diperoleh berupa angka-angka hasil pengisian kuesioner, yang kemudian dianalisis secara statistik untuk mengetahui hubungan antar variabel. Metode ini dianggap sesuai karena penelitian ingin mengukur tingkat keterkaitan antara dua variabel, yaitu intensitas merokok (variabel independen) dan tingkat stres (variabel dependen), pada waktu yang sama tanpa memanipulasi kondisi subjek penelitian.

Populasi dan Sampel

  1. Populasi
    Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang memiliki karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa perokok aktif di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya.
  2. Sampel
    Karena jumlah populasi yang besar dan keterbatasan waktu penelitian, maka peneliti menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif yang merokok secara rutin minimal tiga kali dalam seminggu. Jumlah sampel yang diambil adalah minimal 10 mahasiswa perokok aktif FISIP UB
    Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
    Penelitian ini memiliki dua variabel utama, yaitu:
    Variabel bebas (X): Intensitas Merokok.
    Variabel ini diukur berdasarkan frekuensi dan jumlah konsumsi rokok per hari, serta lama waktu menjadi perokok. Data diperoleh dari kuesioner yang disusun untuk menilai seberapa besar kebiasaan merokok pada responden.
    Variabel terikat (Y): Tingkat Stres.
    Variabel ini diukur menggunakan Perceived Stress Scale (PSS-10), yaitu kuesioner psikologis yang terdiri dari 10 item pernyataan dengan skala Likert 1–5 (1 = tidak pernah, 5 = sangat sering). Skor total menunjukkan tingkat stres responden: rendah (0–13), sedang (14–26), dan tinggi (27–40).

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket atau kuesioner daring yang disebarkan melalui Google Form. Kuesioner terdiri dari dua bagian, yaitu:
Bagian pertama berisi pertanyaan mengenai identitas responden
Bagian kedua berisi skala PSS-8 untuk mengukur tingkat stres dan intensitas merokok (jumlah batang per hari, durasi merokok, lama menjadi perokok).

Instrumen untuk mengukur tingkat stres dalam penelitian ini menggunakan Perceived Stress Scale (PSS-10) yang dikembangkan oleh Cohen et al. (1983). PSS-10 terdiri dari 8 item pernyataan dengan skala Likert 1–5 yang menilai seberapa sering responden merasa tertekan atau kehilangan kendali atas situasi hidupnya dalam satu bulan terakhir. Skor total berkisar antara 0–40, dengan kategori stress rendah (0–13), sedang (14–26), dan tinggi (27–40). Skala ini telah terbukti valid dan reliabel secara internasional, serta telah diadaptasi dalam versi Bahasa Indonesia untuk konteks penelitian mahasiswa. Setiap responden diberikan penjelasan mengenai tujuan penelitian dan jaminan kerahasiaan identitas (informed consent) sebelum mengisi kuesioner.

Pembahasan

Hasil dari penyebaran kuesioner terhadap total 50 mahasiswa perokok aktif di FISIP Universitas Brawijaya menunjukan bahwa perilaku merokok memiliki keterkaitan dengan pengalaman stres akademik yang mereka alami. Meskipun sebagian besar responden bukanlah perokok aktif yang hanya menghisap 1-2 batang rokok per hari, mayoritas responden melaporkan tingkat stress akademik yang tergolong tinggi, dengan indikator seperti perasaan kewalahan terhadap tugas kuliah kecemasan menjelang tenggat waktu atau ujian, serta gangguan tidur akibat tekanan akademik. Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun intensitas merokok tidak tinggi, para mahasiswa tetap menghadapi tekanan akademik yang signifikan, sehingga perilaku merokok lebih tepat dipahami sebagai respons terhadap stres, bukan sebagai variabel yang menentukan besar kecilnya stres akademik.

Berdasarkan teori coping stress dari Lazarus dan Folkman, individu dapat menggunakan dua bentuk utama coping, yaitu emotion focused coping dan problem focused coping. Coping sendiri adalah suatu upaya, baik kognitif maupun perilaku untuk menghadapi dan mengelola stress atau tuntutan yang dinilai berat atau melebihi sumber daya yang dimiliki. Emotion focusef coping digunakan untuk meredakan emosi negatif tanpa mengubah sumber stress, sedangkan problem focused coping adalah upaya untuk mengatasi penyebab stress itu sendiri. Jawaban responden pada kuisioner ini menunjukan bahwa perilaku merokok memiliki peran sebagai emotion focused coping, hal ini dibuktikan dengan jawaban responden yang menunjukan bahwa merokok membantu mengurangi stress akademik. Jawaban ini menjadi indikator bahwa sebagian mahasiswa memandang merokok sebagai cara untuk menenangkan diri, meredakan kecemasan, dan mendapatkan rasa nyaman sesaat ketika menghadapi tekanan perkuliahan.

Namun, tidak semua responden menganggap rokok sebagai upaya mereka untuk mengurangi stress akademik, dibuktikan dengan respon dari mahasiswa yang menjawab merokok tidak menimbulkan efek yang membantu mengurangi stress mereka. Jawaban ini menjadi indikator bahwa perilaku merokok bukan strategi coping efektif untuk seluruh responden, dan bahwa sebagian mahasiswa tidak menggunakan merokok sebagai cara untuk mengelola stres mereka. Selain itu, terdapat indikator lain dari hasil kuesioner yang menunjukkan kecenderungan ke arah problem focused coping. Hal ini terlihat dari jawaban responden yang menyatakan bahwa mereka sering berusaha mengurangi konsumsi rokok. Upaya ini menggambarkan kesadaran mahasiswa bahwa merokok bukanlah cara yang tepat untuk mengurangi stres dalam jangka panjang. Selain itu, kecenderungan problem-focused coping juga tampak pada respons terhadap pertanyaan mengenai kesediaan mengikuti program manajemen stress. Sebagian besar responden menjawab mereka bersedia untuk mengikuti program manajemen stress tanpa merokok. Ini menunjukan bahwa mereka terbuka untuk mencari cara lain yang lebih baik dalam upaya menghadapi atau merespon tekanan akademik.

Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa rokok memang digunakan oleh sebagian mahasiswa sebagai cara untuk mengurangi stres akademik melalui emotion-focused coping. Namun, efektivitasnya bervariasi antar individu, dan sebagian responden menunjukkan kecenderungan untuk mencari atau mempertimbangkan strategi coping lain melalui usaha mengurangi kebiasaan merokok atau kesediaan mengikuti program manajemen stres. Dengan demikian, perilaku merokok dapat dipahami sebagai bentuk coping emosional jangka pendek, sementara jawaban responden juga menunjukkan adanya kecenderungan menuju coping yang lebih baik.

Kesimpulan

Penelitian ini, yang didasarkan pada pemeriksaan kuesioner yang diisi oleh 50 mahasiswa perokok aktif di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya, menunjukkan adanya hubungan antara jumlah rokok yang dikonsumsi dengan tingkat stres akademik, meskipun hubungan tersebut tidak bersifat definitif. Meskipun sebagian besar responden tidak merokok dalam jumlah banyak, mayoritas tetap menyatakan mengalami stres akademik yang signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa kebiasaan merokok bukanlah penyebab utama stres akademik. Sebaliknya, kebiasaan merokok lebih sering berfungsi sebagai mekanisme coping terhadap stres, bukan sebagai sumber stres itu sendiri. Dari perspektif model coping stres Lazarus dan Folkman, perilaku merokok pada sebagian mahasiswa dapat ditafsirkan sebagai bentuk strategi coping yang berfokus pada emosi. Secara khusus, hal ini merepresentasikan upaya untuk mengurangi ketegangan emosional tanpa menyentuh akar penyebab stres akademik. Data yang diberikan oleh responden mendukung penafsiran ini; beberapa mahasiswa meyakini bahwa merokok memberikan rasa rileks dari kecemasan atau kenyamanan sesaat. Namun, beragamnya respons juga menunjukkan bahwa merokok bukanlah metode coping yang efektif bagi setiap individu.

Selain itu, terdapat preferensi terhadap strategi coping yang berfokus pada penanganan sumber masalah, yang terlihat dari upaya sebagian individu untuk menurunkan konsumsi rokok serta keterbukaan mereka dalam mengikuti program pengurangan stres. Hal ini menunjukkan adanya pengakuan bahwa merokok pada akhirnya tidak mampu mengatasi akar penyebab stres, serta bahwa mahasiswa bersedia menerima metode penanganan stres yang lebih bermanfaat.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa perilaku merokok mahasiswa FISIP UB merupakan cara mengelola emosi akibat tekanan akademik, bukan faktor yang menentukan tingkat stres. Temuan ini menegaskan perlunya dukungan kampus melalui pelatihan manajemen stres, bimbingan akademik, dan edukasi kesehatan agar mahasiswa dapat menggunakan mengelola stress dengan cara yang lebih sehat.

Daftar Pustaka

Wijaya, R. (2020). Faktor risiko perilaku merokok pada remaja dan dewasa muda. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 15(3), 123-131. (Wijaya, 2020)
Smith, J., & Jones, L. (2018). Academic stress and smoking behavior among university students. Journal of Health Psychology, 23(5), 678-686. (Smith, 2018)
Cohen, S., Kamarck, T., & Mermelstein, R. (1983). A global measure of perceived stress. Journal of Health and Social Behavior, 24(4), 385–396 (Cohen, 1983)

Fahry Maulana Nashrullah, Gabriel Rangin Natajaya, Katsrah Kaiswaramaq, Nadiya Maulida Nur Erwan

Universitas Brawijaya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top