Pendahuluan
Kepemimpinan dalam organisasi mahasiswa merupakan bagian penting yang menentukan bagian dinamika organisasi berjalan. Dalam mini riset ini, objek material yang dikaji adalah kepemimpinan dalam himap (Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan), sebuah organisasi mahasiswa yang dibentuk sebagai wadah pembelajaran,pengembangan kompetensi, dan ruang interaksi mahasiswa Ilmu Pemerintahan. Himap bukan hanya tempat berkegiatan, tetapi juga lingkungan belajar di mana mahasiswa berlatih memahami peran sosial, belajar membuat keputusan, memecahkan masalah, dan bekerja sama dengan berbagai karakter anggota. Organisasi ini menjadi tahap awal mahasiswa baru memahami bagaimana dunia organisasi berjalan dan bagaimana kepemimpinan diterapkan dalam konteks kampus.
Secara ontologis, himap dapat dipahami sebagai entitas sosial yang hidup dan bergerak melalui hubungan antaranggota di dalamnya. Struktur organisasi yang terlihat hanya menjadi “kerangka luar”, sedangkan kehidupan organisasi terwujud dari dinamika komunikasi, aktivitas, diskusi, dan kerja sama antar pengurus maupun anggota. Himap hadir sebagai wadah bagi mahasiswa untuk menemukan identitas peran mereka, baik sebagai pengurus maupun anggota biasa. Dari sisi lain, himap juga menjadi tempat penyatuan gagasan, aspirasi, dan nilai-nilai kemahasiswaan sehingga keberadaannya tidak hanya bersifat administratif, melainkan eksistensial.
Masalah yang melatarbelakangi mini riset ini adalah adanya variasi gaya kepemimpinan di himap yang terkadang menciptakan perbedaan persepsi, baik dalam hal komunikasi, pembagian tugas, maupun pelaksanaan program kerja. Beberapa mahasiswa menilai pemimpin himap cukup inspiratif dan komunikatif, namun ada pula yang menganggap koordinasi internal masih kurang rapi. Perbedaan persepsi semacam ini penting dikaji, terutama karena himap menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan pertama bagi mahasiswa baru.
Objek formal mini riset ini adalah ilmu organisasi dan kepemimpinan, karena pembahasan berfokus pada tindakan pemimpin dalam memengaruhi anggota dan memastikan organisasi berjalan efektif. Untuk menganalisis kepemimpinan himap ,digunakan Teori Kepemimpinan Transformasional dari Burns dan Bass. Teori ini dipilih karena menjelaskan empat karakter penting pemimpin transformasional, yaitu: menjadi teladan, memberi motivasi, mendorong cara pikir kritis, dan memberikan perhatian individu. Keempat aspek ini sangat relevan dengan konteks organisasi mahasiswa yang membutuhkan pemimpin yang mampu menggerakkan dan mengembangkan anggota, bukan hanya mengarahkan. Tujuan mini riset ini ialah untuk menjelaskan secara rinci pola kepemimpinan yang muncul dalam himap , menilai sejauh mana indikator kepemimpinan transformasional terlihat dalam aktivitas organisasi, serta memahami nilai-nilai apa saja yang terbentuk dalam proses kepemimpinan tersebut.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan sumber utama berupa wawancara semi-terstruktur. Metode ini dipilih karena mampu menggali pengalaman subjektif narasumber mengenai kepemimpinan himap. Data diperoleh dari dua narasumber yang merupakan pengurus aktif himap, yaitu Muhammad Furqon Wijaya (Staf Ahli Pemberdayaan Aparatur Himpunan) dan Fahmi Alfi Husni (Staf Ahli Hubungan Strategis). Keduanya dipilih karena memiliki pengalaman langsung dalam menjalankan tugas organisasi serta memahami pola kepemimpinan internal.
Wawancara dilakukan secara langsung dengan durasi sekitar 20–30 menit. Pertanyaan wawancara berfokus pada tiga aspek: hakikat kepemimpinan dalam himap, proses belajar dan pengembangan kapasitas selama berorganisasi, serta dampak nyata kepemimpinan terhadap kompetensi dan kesejahteraan anggota. Proses analisis data dilakukan melalui reduksi data, pengelompokan tema sesuai indikator teori, serta interpretasi untuk memahami makna pengalaman kedua narasumber.
Pembahasan
Pembahasan mengenai kepemimpinan himap dianalisis menggunakan Teori Kepemimpinan Transformasional dari Burns (1978) dan Bass (1985) yang terdiri dari empat indikator: Idealized Influence, Inspirational Motivation, Intellectual Stimulation, dan Individualized Consideration. Wawancara dengan kedua narasumber menunjukkan bahwa keempat indikator ini muncul dalam dinamika kepemimpinan himap, meskipun dengan intensitas yang berbeda.
Pada indikator Idealized Influence, pandangan narasumber berbeda namun saling melengkapi. Muhammad Furqon Wijaya menyatakan bahwa kepemimpinan himap seharusnya menekankan nilai-nilai personal seperti integritas dan keteladanan. Ia menegaskan bahwa “kepemimpinan sebaiknya lebih mengedepankan nilai-nilai personal karena integritas individu adalah hal yang paling mendasar,” sehingga pemimpin dapat membangun hubungan yang kuat dengan anggota. Sementara itu, Alfi Husni Fahmi ini melihat bahwa selain nilai personal, aspek struktural dan fungsional juga sangat berpengaruh. Ia mengungkapkan bahwa “ada individu yang mungkin kurang bisa dijadikan contoh, tetapi mereka mampu membuat struktur kerja yang rapi dan efektif.” Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan himap berada dalam titik keseimbangan antara karakter pemimpin dan kebutuhan struktur organisasi.
Indikator kedua yaitu Inspirational Motivation terlihat dari kemampuan himap dalam memberikan arahan dan menjaga semangat kerja anggota. Menurut Furqon komunikasi yang baik sangat memotivasi anggota. Selain itu, pemimpin berusaha menyampaikan visi dan arahan kerja organisasi dengan jelas. Namun menurut Fahmi, penyampaian motivasi memiliki perbedaan motivasi memiliki perbedaan tergantung pada karakter pengurus, sehingga kadang tidak merata. Meski demikian, secara keseluruhan, pemimpin himap dinilai cukup memberikan dorongan dan inspirasi dalam menjalankan program kerja.
Indikator Intellectual Stimulation tampak melalui berbagai kegiatan himap seperti kajian ilmiah, diskusi publik, dan program pengembangan kompetensi. Furqon menyampaikan bahwa ia mengalami peningkatan kemampuan teknis seperti penggunaan Excel, Word, serta kemampuan soft skills seperti public speaking dan problem solving. Ia mengatakan bahwa “dinamika organisasi membuat saya terpaksa belajar dan akhirnya berkembang.” Sementara itu, Fahmi menegaskan bahwa himap memberikan banyak kesempatan untuk mengasah kemampuan melalui keterlibatan langsung. Ia mengatakan bahwa “selama ada kemauan, himap menyediakan wadah yang sangat mendukung bagi anggota yang ingin belajar.” Hal ini menunjukkan bahwa himap berhasil mendorong pemikiran kritis dan perkembangan kemampuan anggota.
Indikator keempat, yaitu Individualized Consideration, terlihat dari sistem mentoring yang diterapkan himap . Furqon menjelaskan bahwa setiap fungsionaris mendapatkan bimbingan langsung dari Ketua Himpunan, Kepala Departemen, atau Wakil Kepala Departemen. Ia menyebut bahwa “mentoring menjadi landasan penting karena setiap anggota mendapatkan arahan sesuai kebutuhan mereka.” Hal ini diperkuat oleh Fahmi yang menjelaskan bahwa staf magang dipasangkan dengan staf ahli agar mereka dapat belajar secara langsung dan tidak kebingungan. Pendampingan ini menciptakan rasa dihargai dan membantu anggota berkembang secara personal.
Terkait dampak kepemimpinan himap, kedua narasumber merasakan peningkatan kompetensi, kesejahteraan, dan ruang aktualisasi diri yang cukup signifikan. Furqon menjelaskan bahwa ia merasa sejahtera secara personal karena mendapatkan ruang berkembang dihimap. Sementara itu, Fahmi menilai bahwa rasa kekeluargaan dan hubungan interpersonal yang positif merupakan bentuk kesejahteraan dalam organisasi. Ia juga merasa bangga karena sering dipercaya menjadi moderator, MC, atau pemateri berkat perannya dihimap.
Secara keseluruhan, hasil wawancara menunjukkan bahwa kepemimpinan himap tidak hanya berjalan melalui struktur organisasi, tetapi juga melalui nilai-nilai personal, komunikasi, pendampingan, dan pengalaman langsung. Keempat indikator Teori Kepemimpinan Transformasional tampak jelas dalam dinamika kerja himap, sehingga teori ini relevan untuk menggambarkan realitas kepemimpinan organisasi mahasiswa.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis teori, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan himap merupakan panduan antara nilai nilai personal pemimpin, struktur organisasi, dan kebutuhan fungsional. Keempat indikator dari Teori Kepemimpinan Transformasional, Idealized Influence, Inspirational Motivation, Intellectual Stimulation, dan Individualized Consideration muncul secara nyata dalam pengalaman kedua narasumber. Himap terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi, pengembangan soft skills, dan kesejahteraan psikologis anggotanya. Kepemimpinan dalam himap tidak hanya berfungsi sebagai penggerak organisasi, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran karakter, kemampuan berpikir kritis, dan kerja sama di antara mahasiswa Ilmu Pemerintan
Daftar Pustaka
Aqiuddin, H. U., & Mulianah, B. (2023). Strategi penguatan nilai-nilai Pancasila melalui organisasi kemahasiswaan. Jurnal Riset Intervensi Pendidikan, 5(2), 84–88. https://doi.org/10.51629/jrip.v5i2
Bass, B. M. (1985). Leadership and performance beyond expectations. Free Press.
Burns, J. M. (1978). Leadership. Harper & Row.
Creswell, J. W. (2013). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (3rd ed.). SAGE Publications.
Fridayani, J. A. (2022). Pendampingan dalam pengelolaan organisasi mahasiswa. Jurnal Sipissangngi, 2(2), 31–36. https://doi.org/10.47841/sipissangngi.v2i2
Rusdiana, R. A. (2021). Etika komunikasi organisasi: Filosofi, konsep, dan aplikasi. UIN Sunan Gunung Djati Press.
Sumantri, R. A. (2019). Tipologi gerakan mahasiswa melalui organisasi mahasiswa Islam di Purwokerto. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora, 3(2), 241–259.
Valent, H., Rohana, D., & Ramdhan, M. (2024). Analisis pemahaman organisasi keagamaan mahasiswa dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila. Jurnal ISO, 4(2), 55–64.
Shinta Dewi Tarra, Fidyas Sandrima Romadona, Aurel Azhalia Maharani Ardan
Universitas Brawijaya




