Desa Padusan Mojokerto Berpotensi Jadi Destinasi “Healing” Berbasis Sains, Asal Lima Pihak Ini Kompak

Belerang dari lereng Gunung Welirang, hawa sejuk 20 derajat Celsius, dan hutan pegunungan yang masih rimbun, Desa Padusan di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, punya modal alam yang komplet buat jadi destinasi wisata kesehatan kelas dunia. Tapi menurut riset tim Universitas Negeri Malang (UM), potensi besar itu masih terjebak jadi sekadar tempat rekreasi keluarga biasa.

Riset yang dipimpin Andhika Yudha Pratama, dosen Departemen Hukum dan Kewarganegaraan UM, ini menyoroti konsep forest healing alias terapi hutan, sebuah gaya wisata yang memanfaatkan udara, vegetasi, dan suasana hutan untuk memulihkan kondisi fisik dan mental. Bukan tren biasa, aktivitas ini bahkan sudah punya standar resmi dari pemerintah lewat SNI 9006:2021 tentang Wisata Hutan untuk Terapi Kesehatan.

Pasar Besar yang Belum Digarap

Skalanya bukan main-main. Menurut data yang dihimpun tim peneliti dari Global Wellness Institute, belanja wisatawan wellness dunia menembus 894 miliar dolar Amerika Serikat pada 2024, dan diproyeksikan tumbuh 16,6 persen per tahun hingga 2027. Wisatawan wellness bahkan menyumbang hampir 18,7 persen dari total belanja pariwisata dunia, padahal jumlah perjalanan mereka cuma 7,8 persen dari total wisatawan, artinya kantong mereka jauh lebih tebal dibanding wisatawan rekreasi biasa.

Padusan sendiri berada dalam kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo seluas hampir 28 ribu hektare, dan kunjungan wisatawan ke Mojokerto sudah pulih kuat pascapandemi, dari 447 ribu orang pada 2021 jadi 861 ribu kunjungan hanya dalam delapan bulan pertama 2022. Sayangnya, wahana yang berkembang di sana masih didominasi kolam renang anak, wahana berkuda, dan kebun petik stroberi, bukan wisata terapi kesehatan yang terstandardisasi.

Lima Pemain yang Belum Kompak

Tim peneliti memakai kerangka pentahelix, model yang melibatkan lima aktor sekaligus, yaitu pemerintah, pelaku bisnis, komunitas, akademisi, dan media, untuk membedah siapa berperan apa di Padusan. Hasilnya, kelima unsur itu sebenarnya sudah ada, tapi belum kompak mengarah ke satu tujuan yang sama.

Unsur pemerintah di sini berlapis, mulai dari Dinas Pariwisata Kabupaten Mojokerto yang mengurus objek wisata pemandian air panas, sampai UPT Tahura Raden Soerjo di bawah Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur yang menjaga kelestarian hutannya. Pelaku bisnis swasta seperti Padusan Park dan De Qoem Qoem sudah berinvestasi cukup besar di wahana rekreasi keluarga. Sementara unsur media justru paling aktif, banyak pemberitaan yang membingkai Padusan sebagai tempat “healing”, meski masih sebatas jargon populer, belum berbasis bukti ilmiah.

Yang paling timpang justru dua unsur lain: komunitas dan akademisi. Belum ditemukan kelompok sadar wisata atau badan usaha desa yang khusus mengurus agenda wellness tourism di Padusan, beda dengan Desa Ketapanrame di kabupaten yang sama yang sudah punya badan usaha desa aktif. Peran akademisi pun belum terlihat jelas dalam pengelolaan kawasan ini.

Lima Langkah yang Direkomendasikan

Dari temuan itu, tim peneliti merumuskan lima langkah: membangun kesepakatan formal antar pemangku kepentingan, mendorong sertifikasi kawasan sesuai SNI 9006:2021 dengan pendampingan akademisi, memperkuat kelembagaan komunitas lokal, mengubah strategi promosi dari sekadar narasi “healing” jadi komunikasi berbasis bukti ilmiah, sampai mengembangkan paket wisata terapeutik seperti jalur forest bathing terpandu, bukan sekadar pemandian air panas rekreasional biasa.

Nyambung dengan Agenda Dunia

Riset ini sejalan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama soal kehidupan sehat dan sejahtera (SDG 3) lewat manfaat kesehatan fisik dan mental dari terapi hutan, pertumbuhan ekonomi lewat sektor pariwisata (SDG 8), pelestarian ekosistem hutan (SDG 15), serta kemitraan multipihak lintas sektor untuk mencapai tujuan bersama (SDG 17).

Penelitian ini terlaksana atas dukungan pendanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat skema PNBP dari Universitas Negeri Malang.

Sumber foto: Highland Adventure, “Forest Bathing or Shinrin-Yoku in Indonesia”, dipublikasikan 23 Juli 2023, diakses 24 Agustus 2026, https://highlandadventure.co.id/forest-bathing

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top