“Dari Warung Kuliner sampai Instruktur Selam, Begini Peran Perempuan Jaga Pantai Prigi Trenggalek”

Di balik pesona Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, ada tangan-tangan perempuan yang selama ini menggerakkan roda ekonomi kawasan tanpa banyak disorot. Riset tim Universitas Negeri Malang (UM) yang dipimpin Raisha Hafandi, dosen Departemen Hukum dan Kewarganegaraan UM, coba mengangkat peran itu ke permukaan, sekaligus membongkar satu kesenjangan besar: teknologi digital yang nyaris tak tersentuh di kawasan ini.


Secara nasional, perempuan sebenarnya jadi tulang punggung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, dengan porsi 54,22 persen di sektor pariwisata dan 64,5 persen dalam pengelolaan usaha mikro, kecil, dan menengah. Tapi kontribusi sebesar itu, menurut tim peneliti, jarang benar-benar tercermin dalam kebijakan pengelolaan destinasi wisata bahari skala lokal, termasuk di Pantai Prigi.


Lima Peran yang Selama Ini Jarang Disorot


Lewat wawancara mendalam dengan informan kunci di lapangan, tim peneliti menemukan perempuan pesisir Prigi berperan di lima ranah sekaligus. Mereka mengelola warung kuliner yang makin ramai saat akhir pekan, jadi pengepul ikan yang menjembatani nelayan dan pasar (bahkan ada yang sudah menekuni usaha ini sejak 2015), turun tangan di Tempat Pelelangan Ikan dengan porsi keterlibatan sekitar 50 persen di area darat dan tepi pantai, mengelola diving center meski sektor ini umumnya didominasi laki-laki, sampai ikut menanam terumbu karang sebagai bagian dari konservasi.


Polanya konsisten dengan potret perempuan pesisir di banyak wilayah Indonesia lain: dominan di aktivitas pascatangkap dan pendukung, tapi jarang terlibat langsung di aktivitas melaut atau posisi pengambilan keputusan strategis. Menariknya, salah satu diving center di Prigi justru dikelola perempuan, sebuah kondisi langka dibanding kawasan wisata selam lain yang masih didominasi laki-laki.

Digitalisasi yang Belum Tersentuh

Masalahnya, dari seluruh aktivitas tadi, tim peneliti sama sekali tidak menemukan indikasi pemanfaatan teknologi digital yang sistematis, baik untuk UMKM kuliner, pengepulan ikan, TPI, diving center, maupun konservasi karang. Padahal konsep smart tourism, sistem pariwisata berbasis teknologi cerdas untuk mengelola layanan dan pengalaman wisata, sudah mulai jadi standar di banyak destinasi, meski penerapannya di Indonesia sendiri masih jauh dari sempurna, tiga destinasi wisata di Yogyakarta saja baru mencapai rata-rata 53 persen dari total indikator wisata cerdas.

Solusi yang Diusulkan: Flipbook Digital


Dari temuan itu, tim peneliti merumuskan model strategi konseptual bertajuk smart marine tourism berbasis peran perempuan pesisir. Intinya, mengembangkan flipbook digital yang bisa diakses lewat kode QR sebagai pusat informasi destinasi, mulai dari profil wisata, produk UMKM perempuan, rantai nilai perikanan, sampai aktivitas konservasi karang. Flipbook ini didukung lima strategi turunan: penguatan literasi digital bagi perempuan pengelola UMKM dan pengepul ikan, sistem reservasi digital sederhana untuk diving center, aplikasi pencatatan data perikanan di TPI, sistem pemantauan konservasi karang berbasis digital, sampai penguatan representasi perempuan dalam struktur Kelompok Sadar Wisata.
Tim peneliti menegaskan, model ini masih bersifat rekomendasi konseptual berdasarkan kesenjangan yang ditemukan di lapangan, bukan praktik yang sudah berjalan, sehingga perlu kajian kelayakan dan uji coba lebih lanjut sebelum benar-benar diterapkan.

Bukan Cuma Soal Pantai, Ini Soal Kesetaraan


Riset ini sejalan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama soal kesetaraan gender (SDG 5) lewat penguatan peran dan pengakuan perempuan pesisir, pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan layak (SDG 8) melalui pemberdayaan UMKM dan wisata bahari, serta pelestarian ekosistem laut (SDG 14) lewat keterlibatan perempuan dalam konservasi terumbu karang.

Penelitian ini terlaksana atas dukungan pendanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat skema PNBP dari Universitas Negeri Malang.

Sumber foto: TribunMataraman.com, “Antisipasi Laka Laut Nelayan Prigi Trenggalek, Syahbandar Perketat Aturan Dokumen-Edukasi Nelayan”, oleh Madchan Jazuli, editor Rendy Nicko, tayang 31 Mei 2026, diakses 24 Agustus 2026 https://mataraman.tribunnews.com/trenggalek/69440/antisipasi-laka-laut-nelayan-prigi-trenggalek-syahbandar-perketat-aturan-dokumen-edukasi-nelayan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top