Indonesia memiliki keanekaragaman budaya luar biasa, dengan sekitar 1.300 suku bangsa dan berbagai bahasa daerah (Badan Pusat Statistik, 2023). Dari sekian banyak suku tersebut, Suku Jawa seringkali dianggap mewakili citra budaya Indonesia secara keseluruhan. Ini karena jumlah anggotanya sangat besar, sekitar 105 juta jiwa, menjadikan Suku Jawa terbesar di Indonesia dan salah satu terbesar di dunia (Batiqa, 2024). Pengaruh budaya Jawa meluas dengan bahasa Jawa yang memiliki tingkatan tutur seperti ngoko, madya, dan krama, serta seni batik dan gamelan yang dikenal secara internasional. Karena itu, budaya Jawa sering digeneralisasi sebagai representasi budaya Indonesia.
Namun, masih ada budaya-budaya daerah yang kurang dikenal, misalnya budaya Suku Osing. Suku Osing adalah keturunan masyarakat Blambangan, kerajaan terakhir di ujung timur Pulau Jawa, dengan bahasa dan tradisi khas seperti tarian Gandrung dan ritual Seblang yang sarat makna spiritual. Menurut survei Badan Bahasa Indonesia (2022), sekitar 400 ribu orang masih menggunakan bahasa Osing. Sayangnya, budaya Osing belum mendapat ruang yang cukup dalam pendidikan nasional dan riset akademik. Posisi dominan budaya Jawa membuat eksistensi budaya Osing seringkali “ada namun tak terasa” secara nasional.
Bahasa Osing merupakan dialek dari bahasa Jawa tetapi dengan ciri khas tersendiri. Walau termasuk sub-etnis Jawa, budaya Osing berbeda karena pengaruh kuat budaya Bali. Kata “Osing” berasal dari bahasa Bali “tusing” yang artinya “tidak”. Bahasa Osing mempertahankan pengucapan konsonan “K” jelas di akhir suku kata dan memiliki diftongisasi vokal khusus seperti perubahan “i” jadi “ai” dan “u” menjadi “au” yang tidak ditemui di dialek Jawa lain. Istilah yang berasal dari bahasa Bali juga banyak digunakan, contohnya “sing” (tidak) dan “bojog” (monyet).
Kepercayaan tradisional Suku Osing adalah Hindu-Buddha seperti Majapahit, namun penyebaran agama Islam cepat terjadi akibat perkembangan kerajaan Islam di Pantura dan pengaruh VOC dalam menguasai daerah Blambangan. Tradisi khas seperti Tumpeng Sewu (makan bersama seribu tumpeng), Barong Ider Bumi (arak-arakan barong untuk tolak bala) menjelang Idul Adha, dan Mepe Kasur (menjemur kasur untuk kerukunan) tetap lestari. Kesenian tradisional seperti musik Otek Gedogan dan Tari Seblang juga terus dipertahankan.
Selain itu, Suku Osing memiliki berbagai daya tarik budaya yang membuatnya semakin penting diperkenalkan kepada masyarakat luas. Bahasa Osing yang unik menjadi identitas kuat masyarakat Banyuwangi. Kesenian Osing seperti Tari Gandrung, Tari Seblang, serta musik Kendang Kempul dan Angklung Caruk memperlihatkan kekayaan estetika yang hidup dan sarat nilai spiritual. Berbagai tradisi adat seperti Kebo-keboan, Tumpeng Sewu, Barong Ider Bumi, hingga Mepe Kasur menunjukkan kedalaman filosofi hubungan antara manusia, alam, dan leluhur. Rumah tradisional Osing yang sederhana dan kokoh mencerminkan karakter masyarakat yang bersahaja, harmonis, dan kuat mempertahankan identitasnya. Bahkan, kuliner khas seperti Pecel Pitik, Sego Tempong, dan Umping memperlihatkan kedekatan mereka dengan alam serta kekayaan rasa lokal yang otentik. Daya tarik inilah yang menunjukkan bahwa budaya Osing bukan sekadar warisan lokal, melainkan aset nasional yang layak mendapatkan perhatian lebih luas.
Filosof eksistensialis Jean-Paul Sartre menegaskan bahwa eksistensi seseorang atau kelompok baru benar-benar lengkap jika diakui oleh pihak lain (Sartre, 1943). Dalam konteks budaya, keberadaan suku tidak cukup dijaga hanya dalam komunitasnya, tetapi juga perlu pengakuan sosial dan representasi agar budaya tersebut dihormati dan bertahan lebih luas. Antropolog Clifford Geertz menyatakan bahwa budaya adalah jaring makna yang dibuat oleh masyarakatnya sendiri (Geertz, 1973). Agar budaya Osing tetap hidup dan tersebar maknanya, perlu kolaborasi dari pemerintah, akademisi, hingga media untuk memberdayakannya dan memperkenalkan ke ranah nasional.
Sementara itu, budaya Jawa yang sudah populer memiliki karakter sosial budaya khas. Orang Jawa dikenal sebagai masyarakat kolektivis yang mengedepankan gotong royong, keharmonisan, dan kesederhanaan (Koentjaraningrat, 2004). Bahasa Jawa dengan tingkatan tutur mencerminkan kedalaman interaksi sosial yang menghargai kesopanan dan hierarki. Kultur Jawa banyak memberi kontribusi besar dalam seni, sastra, dan filsafat Indonesia, dari masa kerajaan sampai era kemerdekaan. Namun, generalisasi budaya Jawa sebagai representasi bangsa berisiko menutupi keberagaman budaya suku lain, membuat kelompok minoritas seperti Osing tidak mendapat pengakuan penuh, baik secara nasional maupun internasional. Menghargai dan mengenal budaya lokal lain sangat penting untuk memperkuat keragaman budaya Indonesia dan memupuk rasa saling menghormati serta persatuan. Pelestarian budaya Osing menjadi bagian vital dalam menjaga kekayaan budaya Nusantara. Nilai luhur seperti rukun, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam yang melekat pada suku Osing merupakan contoh karakter bangsa Indonesia yang dapat bertahan di tengah modernisasi.
Upaya pelestarian budaya Osing sudah dilakukan melalui Festival Gandrung Banyuwangi yang menarik wisatawan dan pelatihan bahasa serta kesenian tradisional untuk generasi muda. Namun, tantangan masih besar, seperti minimnya pengajaran budaya Osing dalam sistem pendidikan, kurangnya riset budaya mendalam, dan terbatasnya promosi media. Pemerintah pusat dan daerah perlu mengeluarkan kebijakan inklusif dan melibatkan masyarakat supaya identitas dan budaya Osing tidak hilang oleh dominasi budaya mayoritas seperti Jawa. Dukungan ini penting agar suku Osing tidak sekadar menjadi fenomena lokal yang “ada tetapi tak terasa,” melainkan bagian hidup dan berdaya dari mosaik budaya Indonesia. Model pelestarian budaya yang menggabungkan peran pemerintah, akademisi, komunitas lokal, dan media telah sukses di tempat lain, seperti Bali dan Yogyakarta, yang kini menjadi pusat budaya dan ekonomi kreatif nasional.
Kesimpulannya, Indonesia bukan budaya homogen melainkan mozaik warna-warni yang memberi ruang bagi berbagai suku dan budaya untuk bersinar. Menghargai perbedaan dan memperkuat pengakuan atas keunikan budaya lokal seperti Suku Osing adalah langkah strategis menjaga bangsa beridentitas kuat namun inklusif. Dengan sinergi semua pihak, Suku Osing bisa lebih dikenal, dihormati, dan berkembang sebagai warisan hidup bagi generasi sekarang dan masa depan.
Zahwa Nahniya Sofa
Universitas Brawijaya




