“Kampung Sanan Harus Dipandang Sebagai Warisan Pengetahuan Tradisional, Bukan Sekadar Sentra Tempe”

Sumber : https://www.pinhome.id/info-area/wp-content/uploads/2021/12/kampung-sanan-Kompas.jpg

Kampung Sanan selama ini dikenal sebagai sentra produksi tempe yang menjadi salah satu ikon Kota Malang. Berbagai produk olahan tempe dari kawasan ini tidak hanya menopang perekonomian masyarakat setempat, tetapi juga memperkuat citra Malang sebagai daerah dengan industri kreatif berbasis pangan yang berkembang. Namun, cara pandang yang hanya menempatkan Kampung Sanan sebagai sentra ekonomi sesungguhnya belum sepenuhnya menggambarkan nilai yang dimilikinya.

Di balik aktivitas produksi tempe yang berlangsung hingga saat ini, terdapat pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat. Pengetahuan mengenai proses fermentasi, pengolahan bahan baku, hingga keterampilan mempertahankan kualitas produk merupakan bentuk pengetahuan tradisional yang terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, aspek ini sering kali kalah mendapat perhatian dibandingkan nilai ekonomi dan wisata yang dimiliki Kampung Sanan. Padahal, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menempatkan pengetahuan tradisional sebagai salah satu Objek Pemajuan Kebudayaan yang perlu dilestarikan.

Kampung Sanan: Lebih dari Sekadar Sentra Tempe

Kampung Sanan telah lama berkembang sebagai pusat produksi tempe yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat. Keberadaannya bahkan telah menjadi bagian dari identitas Kota Malang melalui berbagai produk olahan tempe yang dikenal luas oleh masyarakat maupun wisatawan. Namun, keberhasilan Kampung Sanan tidak semata-mata lahir dari aktivitas ekonomi, melainkan juga dari pengetahuan yang terus diwariskan antar generasi.

Pengetahuan tersebut tampak dalam berbagai tahapan produksi tempe. Proses pembuatan tempe dimulai dari pemilihan kedelai yang berkualitas, dilanjutkan dengan perendaman, perebusan, pengupasan kulit kedelai, hingga proses fermentasi menggunakan ragi tempe. Meskipun sebagian tahapan kini telah dibantu teknologi sederhana, keberhasilan fermentasi tetap sangat bergantung pada pengalaman para perajin dalam menentukan waktu, suhu, dan kondisi penyimpanan yang tepat. Kemampuan tersebut diperoleh melalui praktik yang berlangsung dalam lingkungan keluarga dan masyarakat, bukan melalui pendidikan formal.

Dalam konteks kebudayaan, proses pewarisan keterampilan tersebut merupakan ciri utama pengetahuan tradisional. Dengan demikian, yang diwariskan oleh masyarakat Kampung Sanan bukan hanya produk tempe sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga pengetahuan yang menjadi dasar keberlangsungan produksi tersebut. Inilah alasan mengapa Kampung Sanan layak dipandang sebagai ruang hidup bagi pengetahuan tradisional.

Pengetahuan Tradisional yang Perlu Dilestarikan

Pengetahuan tradisional sering kali dianggap sebagai sesuatu yang biasa karena telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Akibatnya, masyarakat lebih mudah melihat hasil akhirnya daripada proses pengetahuan yang melatarbelakanginya. Hal serupa terjadi di Kampung Sanan. Tempe dikenal sebagai produk unggulan, sementara pengetahuan yang membuat produksi tersebut tetap bertahan justru jarang menjadi perhatian.

Padahal, pengetahuan tradisional memiliki nilai yang sama pentingnya dengan bentuk warisan budaya lainnya. Tantangan yang dihadapi saat ini bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan proses pewarisan pengetahuan. Modernisasi, perkembangan teknologi, dan perubahan minat generasi muda dapat memengaruhi keberlangsungan tradisi produksi tempe yang selama ini menjadi ciri khas Kampung Sanan. Jika proses pewarisan tersebut terhenti, maka yang hilang bukan hanya sebuah usaha, melainkan juga pengetahuan yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Karena itu, upaya pelestarian Kampung Sanan tidak seharusnya hanya berfokus pada peningkatan produksi dan pemasaran tempe. Pelestarian juga perlu diarahkan pada dokumentasi pengetahuan, penguatan proses pewarisan keterampilan, serta peningkatan kesadaran masyarakat bahwa tradisi yang mereka miliki merupakan bagian dari warisan budaya yang bernilai. Pemerintah dapat mendorong hal tersebut melalui program pemajuan kebudayaan, sementara generasi muda dapat berperan dalam memperkenalkan nilai-nilai tersebut melalui berbagai platform digital.

Pada akhirnya, Kampung Sanan tidak hanya menyimpan cerita tentang keberhasilan industri tempe, tetapi juga tentang pengetahuan yang diwariskan dan dipertahankan oleh masyarakat dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, sudah saatnya Kampung Sanan dipandang bukan sekadar sebagai sentra tempe, melainkan sebagai warisan pengetahuan tradisional yang perlu dijaga keberlanjutannya.

Daftar Pustaka:

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (2024). Desa Wisata Kampung Sanan Tempe. https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/kampung_sanan_tempe

Pemerintah Republik Indonesia. (2017). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. https://peraturan.bpk.go.id/Details/37642/uu-no-5-tahun-2017

Tugu Malang. (2024). Kawasan Sanan, Kampung Zero Waste di Kota Malang. https://tugumalang.id/kawasan-sanan-kampung-zero-waste-di-kota-malang/

Validnews. (2024). Nilai Tradisi dan Kearifan Lokal di Balik Pengajuan Tempe ke UNESCO. https://validnews.id/kultura/nilai-tradisi-dan-kearifan-lokal-di-balik-pengajuan-tempe-ke-unesco

Oleh: Viola Dwi Ayuni (Universitas Brawijaya)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top