Kota Malang dikenal sebagai salah satu kota di Indonesia yang memiliki kekayaan budaya dan sosial yang sangat beragam. Keberagaman ini tidak hanya tercermin dari sisi etnis dan agama, tetapi juga dalam tradisi, bahasa, ekspresi seni, serta bentuk-bentuk kearifan lokal yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Untuk memperkuat identitas kota sekaligus menjadikannya sebagai modal sosial dalam pembangunan yang berkelanjutan, telah diselenggarakan kegiatan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPM) yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Negeri Malang yang diketuai oleh Ketua Departemen Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang Dr. Didik Sukriono, S.H., M.Hum dengan judul “Eksplorasi Kemajemukan Masyarakat Kota Malang melalui Pemetaan Kebudayaan sebagai Basis Pembangunan untuk Mencapai Ketahanan Wilayah”. Kegiatan ini dirancang sebagai langkah strategis untuk menggali, merekam, dan memetakan kebudayaan masyarakat Kota Malang secara menyeluruh melalui pendekatan partisipatif, transdisipliner, dan kolaboratif antara akademisi, komunitas budaya, pemuda, tokoh masyarakat, serta pemerintah daerah Kota Malang.
Pemetaan kebudayaan ini dilakukan dengan mengidentifikasi berbagai elemen budaya yang hidup di masyarakat Malang, yang terdiri dari tradisi lisan, adat istiadat, manuskrip, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat dan olahraga tradisional. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini melibatkan observasi lapangan, wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus (FGD), serta penggunaan teknologi digital dalam proses pendokumentasian dan visualisasi data budaya yang berbasis website. Melalui kegiatan ini, kebudayaan diposisikan bukan hanya sebagai warisan statis, tetapi sebagai sumber daya aktif yang memiliki peran penting dalam memperkuat resilien sosial, identitas kolektif, serta arah pembangunan wilayah. Hal ini selaras dengan pernyataan yang disampaikan oleh Empu Fanani yang ahli dalam hal penempaan keris.
“praktik – praktik dari penempaan keris itu jarang sekali didokumentasikan dan pengetahuan – pengetahuan tentang penempaan jarang diketahui oleh masyarakat sehingga ada anggapan mistis tentang proses penempaan keris yang pada akhirnya menganggap keris sebagai benda yang aneh dan selalu berkaitan dengan hal – hal metafisik”.
Hasil dari kegiatan ini berupa peta kebudayaan Kota Malang dengan berbasis website yang tidak hanya bersifat geografis, tetapi juga memuat narasi-narasi budaya yang memperlihatkan dinamika sosial masyarakat dan nilai-nilai lokal yang menjadi penopang kehidupan bersama. Peta berbasis website ini diharapkan menjadi instrumen penting dalam penyusunan kebijakan publik, perencanaan pembangunan berbasis budaya, pengembangan destinasi wisata budaya, serta sebagai sumber belajar bagi generasi muda. Dalam konteks ketahanan wilayah, pemahaman terhadap keberagaman dan integrasi budaya menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan seperti konflik sosial, urbanisasi yang cepat, tekanan ekonomi, serta potensi disintegrasi sosial akibat krisis identitas dan intoleransi. Hasil proses penelitian yang telah dilakukan pada setiap OPK ditemukan beberapa persebarannya seperti prasasti Mpu Purwa, permainan tradisional Nyai Putut, Tarian Berkalan, Bantengan di Dinoyo, Makam Bunglondo, Candi Singosari yang terdiri dari duarapala dan patung pala.
Kegiatan ini juga menjadi upaya konkret dalam memperkuat demokratisasi kebudayaan, di mana setiap kelompok masyarakat, tanpa memandang latar belakang, diberikan ruang untuk menunjukkan eksistensi dan kontribusinya terhadap pembangunan kota. Eksplorasi dan pemetaan kebudayaan Kota Malang bukan hanya menghasilkan data dan dokumen, tetapi juga memperkuat ekosistem sosial budaya yang inklusif, memperkokoh kesadaran kolektif akan pentingnya keberagaman, serta membangun ketahanan wilayah yang berbasis nilai-nilai lokal. Dalam jangka panjang, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat posisi Kota Malang sebagai kota yang tangguh secara budaya, sosial, dan ekonomi, serta menjadi model pembangunan berbasis kearifan lokal yang dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia.




